Senin, 05 Desember 2016

Faringitis (Radang Tenggorokan)

 
Faringitis dalam bahasa latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggerokan  atau faring yang disebabkan oleh bakteri dan virus tertentu. Kadang juga disebut radang tenggerokan.(Wikipedia.com) Faringitis adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh virus dan bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri tenggrokan, faring eksudat dan hiperemis, demam, pembesaran limfonodi leher dan malaise. (Vincent, 2004). Faringitis adalah imflamasi febris yang disebabkan oleh infeksi virus yang tak terkomplikasi biasanya akan menghilang dalam 3 sampai 10 setelah awitan.

Epidemiologi
Faringitis terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi yang paling tinggi terjadi pada anak-anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia dibawah 1 tahun. Insedensi meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi tetap berlanjut sepanjang akhir masa nak-anak dan kehidupan dewasa. Kematian akibat faringitis jarang terjadi, tetapi dapat terjadi sebagai hasil dari komplikasi penyakit ini.

Etiologi
Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV. Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.

Virus, 80 % sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, dapat menyebabkan demam. Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi. Virus coxsackie (hand, foot, and mouth disease). Alergi. Alergi dapat menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis (menetap). Bakteri streptokokus, dipastikan dengan Kultur tenggorok. Tes ini umumnya dilakukan di laboratorium menggunakan hasil usap tenggorok pasien. Dapat ditemukan gejala klasik dari kuman streptokokus seperti nyeri hebat saat menelan, terlihat bintik-bintik putih, muntah – muntah, bernanah pada kelenjar amandelnya, disertai pembesaran kelenjar amandel.

Faringitis juga bisa timbul akibat iritasi debu kering, merokok, alergi, trauma tenggorok (misalnya akibat tindakan intubsi), penyakit refluks asam lambung, jamur, menelan racun, tumor.

Tanda dan Gejala
Nyeri tenggorok dan nyeri menelan. Tonsil menjadi berwarna merah danmembengkak. Mukosa yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan pus (nanah). Demam. Pembesaran kelenjar getah bening di leher.

Setelah bakteri atau virus mencapai sistemik maka gejala – gelaja sistemik akan muncul: Lesu dan lemah, nyeri pada sendi – sendi otot, tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga. Peningkatan jumlah sel darah putih

Patofisiologi
Penularan terjadi melalui droplet, kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limpoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi pembuluh diding darah menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarana kuning, putih,atau abu-abu terdapat pada folikel atau jaringanlimpoid. Tampak bahwa folikel limpoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih kelateralmenjadi meradang dan membengkaksehingga timbul radang pada tenggorokan atau faringitis.

Klasifikasi
Berdasarkan lama berlangsungnya:
Faringitis akut, adalah radang tenggorokan yang disebabkan oleh virus dan bakteri yaitu streptkokus grup A dengan tanda dan gejala mukosa dan tonsil masih berwarna merah, malaise, nyeri tenggerokan dan kadang disertai demam dan batuk. Faringitis ini terjadi masih baru, belum berlangsung lama.

Faringitis kronik, radang tenggorokan yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang menjanggal ditenggerokan. Faringitis kronik umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja atau tinggal dalam lingkunga yang berdebu, menggunakan suara yang berlebihan, menderita batuk kronik, dan kebiasaaan mengkomsumsi alkohol dan tembakau.

Faringitis kronik dibagi menjadi 3 yaitu: Faringitis hipertropi ditandai dengan penebalan umum dan kogesti membrane mukosa. Faringitis atrpi kemungkinan merupakan tahap lanjut dari jenis pertama (membrane tipis, keputihan ,licin, dan pada waktunya berkerut). Faringitis granular kronik terjadi pembengkakan folikel limpe pada dinding faring.

Berdasarkan agen penyebab:
Faringitis virus: Biasanya tidak ditemukan nanah ditenggorokan. Demam ringan tau tanpa demam. Jumlah sel darah putih normal atau agak meningkat. Kelenjar getah bening normal atau sedikit membengkak. Tes apus tenggorokan member hasil negative. Untuk strep throat pada biakan dilaboratorium tidak tumbuh bakteri.

Faringitis bakteri: Biasanya ditemukan nanah dutenggorokan. Demam ringan sampai sedang. Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang. Kelenjar getah bening mengalami pembengkakan ringan sampai sedang. Ter apus tenggorokan memberikan hasil positif. Bakteri tumbuh pada biakan dilaboratorium.

Pemerikasaan penunjang
Pada pemeriksaan dengan mempergunakan spatel lidah, tampak tonsil membengkak, hiperemis, terdapat detritus, berupa bercak (folikel, lakuna, bahkan membran). Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak.

Pemeriksaan Biopsi. Contoh jaringan untuk pemeriksaan dapat diperoleh dari saluran pernapasan (sekitar faring) dengan menggunakan teknik endoskopi. Jaringan tersebut akan diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui adanya peradangan akibat bakteri atau virus.

Pemeriksaan Sputum. Pemeriksaan sputum makroskopik, mikroskopik atau bakteriologik penting dalam diagnosis etiologi penyakit.Warna bau dan adanya darah merupakan petunjuk yang berharga.

Pemeriksaan Laboratorium. Sel darah putih (SDP)    : Peningkatan komponen sel darah putih dapat menunjukkan adanya infeksi atau inflamasi. Analisa Gas Darah: Untuk menilai fungsi pernapasan secara adekuat, perlu juga mempelajari hal-hal diluar paru seperti distribusi gas yang diangkut oleh sistem sirkulasi.

Tindakan pengobatan.        
Untuk faringitis virus penanganan dilakukan dengan memberikan aspirin atau asetaminofen cairan dan istiraha baring. Kmpikasi seperti sinutitis atau pneumonia biasanya disebabkan oleh bakteri Karena danya nekrosis epitel yang disebabkan oleh virus sehingga untuk mengatasi komplikasi ini dicadangkan untuk menggunakan antibiotka.

Untuk feringitis bakteri paling bail diobati dengan pemberian penisilin G sebanyak 200.000-250.000 unit, 3-4 kali sehari selama 10 hari, pemberian obat ini  biasanya akan menghasilkan respon klinis yang cepat dengan terjadinya suhu badan dalam waktu 24 jam.. erritrimisisn atau klindamisin merupakan obat alin dengan hasil memuaskan jika penderita alergi terhadap penisilin. Jika penderita menderita neyri tenggerokan yang sangat hebat, selain terpi obat pemberian kompres panas atau dingin pada leher dapat membantu meringankan nyeri. Berkumur-kumur dengan larutan garam hangat dapat pula meringankan gejala nyeri tenggorokan dan hal ini dapat disarankan pada anak-anak yang lebih besar untuk dapat bekerja sama

Pencegahan dan pengendalian
Pencegahan: cukup beristirahat, berkumur dengan air garam hangat beberapa kali sehari, bagi perokok harus berhenti merokok, banyak minum dan hindari makanan yang dapat menyebabkan iritasi, minum antibiotik, dan jika diperlukan dapat minum analgesic, tindakan pencegahan dilakukan dengan menghindari pemakaian pelembab udara yang berlebih, pengendalian terpapar uap atau gas kaustik dan iritan dapat berkontribusi pada pengurangan, kejadian faringitis akut pada kelompok kerja yang terkait dengan pekerjaan beresiko. 

Langkah-langkah pengendalian lingkungan bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi paparan tingkat yang dianggap aman oleh: Jebakan dan isolasi prosedur sektor kerja. Penggunaan sistem kedap udara dalam industry.  Standar Kebersihan dan keamanan ketat dengan penyebaran ventilasi pembuangan  memadai dan efisien. Pemantauan sistematis konsentrasi asap, kabut atau debu di udara ambient.  Organisasi Kerja, agar mengurangi jumlah pekerja yang terpapar dan  waktu pemaparan dan mengurangi faktor estressogênicos . Ukuran pembersihan umum lingkungan kerja dan fasilitas untuk kebersihan pribadi, sumber daya untuk mandi, mencuci tangan, lengan, wajah dan perubahan pakaian.  Penyediaan oleh majikan alat pelindung diri yang sesuai dalam kondisi baik  konservasi, seperti ditunjukkan dalam cara yang melengkapi upaya perlindungan kolektif. 

Masker pelindung pernapasan harus digunakan sebagai langkah sementara dalam keadaan darurat.  Ketika tindakan perlindungan kolektif tidak cukup, ini harus hati-hati diindikasikan untuk sektor atau fungsi. Pekerja harus dilatih secara tepat untuk penggunaannya. Masker harus  kualitas yang memadai dan eksposur dengan filter kimia atau debu, spesifik untuk setiap bahan
dimanipulasi atau kelompok zat yang dapat ditahan oleh filter yang sama. Filter harus
dipertukarkan secara ketat sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Normatif / mtb n 1/1994 set.
Regulasi teknis tentang penggunaan peralatan perlindungan pernapasan.

 Hal ini dianjurkan untuk memeriksa kecukupan dan kepatuhan oleh majikan dari tindakan pengendalian faktor risiko pekerjaan dan promosi kesehatan diidentifikasi dalam PPRA (NR 9) dan PCMSO (NR 7), dan peraturan lainnya - kesehatan dan lingkungan - di negara bagian dan kota.  The NR 15 (Ordonansi / mtb n. º 12/1983), dalam Lampiran no. # 11, meletakkan LT untuk beberapa bahan kimia  di udara ambien, untuk perjalanan hingga 48 jam per minggu.

Di antara agen diketahui menyebabkan faringitis akut, adalah:  Asam klorida - 4 ppm atau 5,5 mg/m3; Asam kromat (kabut) - 0,04 mg/m3; Asam fluorida - 2,5 ppm atau 1,5 mg/m3; Amonia - 20 ppm atau 14 mg/m3;  Klorin - 0,8 ppm atau 2,3 ​​mg/m3; Bromo - 0,6 mg/m3 atau 0,08 ppm.

Dianjurkan untuk secara berkala mengevaluasi LT ini, membandingkan mereka dengan yang didefinisikan oleh organisme studi internasional atau khusus untuk tujuan ini. Telah diamati bahwa bahkan ketika diikuti secara ketat,  tidak mencegah timbulnya kerusakan kesehatan.  Pemeriksaan kesehatan berkala bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala untuk deteksi dini penyakit.  Instrumen standar harus digunakan, misalnya, kuesioner gejala pernafasan memiliki  divalidasi dan ujian sesuai dengan faktor risiko yang diidentifikasi. Tindakan promosi kesehatan  dan pengendalian tembakau juga harus dilaksanakan. 

Diketahui atau diduga penyakit dan hubungan kerja, harus:  Menginformasikan karyawan. Periksa terkena, dalam rangka untuk mengidentifikasi kasus-kasus lain. Beritahu kasus tersebut ke sistem informasi kesehatan (epidemiologi, kesehatan dan / atau kesehatan pekerja), melalui instrumen sendiri, DRT / MTE dan serikat pekerja. Menyediakan untuk penerbitan CAT, di mana pekerja yang diasuransikan oleh SAT Jaminan Sosial. Mengarahkan majikan untuk mengadopsi prosedur teknis dan manajerial untuk menghilangkan atau pengendalian faktor risiko.

Komplikasi
Otitis media purulenta bakterialis. Daerah telinga tengah normalnya adalah steril. Bakteri masuk melalui tube eustacius akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring.

Abses Peritonsiler. Sumber infeksi berasal dari penjalaran faringitis/tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil.

Glomerulus Akut. Infeksi Streptokokus pada daerah faring masuk ke peredaran darah, masuk ke ginjal. Proses autoimun kuman streptokokus yang nefritogen dalam tubuh meimbulkan bahan autoimun yang merusak glomerulus.

Demam Reumatik. Infeksi streptoceal yang awalnya ditandai dengan luka pada tenggorok akan menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada katup-katup jantung, terutama pada katup mitral dan aorta.

Sinusitis. Sinusitis adalah radang sinus yang ada disekitar hidung dapat berupa sinusitis maksilaris / frontalis. Sinusitis maksilaris disebabkan oleh komplikasi peradangan jalan napas bagian atas (salah satunya faringitis), dibantu oleh adanya faktor predisposisi. Penyakit ini dapat disebabkan oleh kuman tunggal dan dapat juga campuran seperti streptokokus, pneumokokus, hemophilus influenza dan kleb siella pneumoniae.

Meningitis. Infeksi bakteri padadaerah faring yang masuk ke peredaran darah, kemudian masuk ke meningen dapat menyebabkan meningitis. Akan tetapi komplikasi meningitis akibat faringitis jarang terjadi.

Tinjauan Obat Faringitis
Obat
Sediaan
Efek samping
Interaksi obat
Peringatan
Penisilin V
125, 250mg/5 ml 250, 500 mg tab
Pharingitis: 500 mg po 12 jm/ 250 mg po 6 jm slm 10hr.
Diare
Muntah
Anemia
hipersensitif
Serius:
Vaksin bcg
Doksisiklin
Tetrasiklin
Vaksin tipoid

Kategori B
Kontra:
Alergi
Peringatan:
Hati2 pd gang. Ginjal
Seizure disorder
Penggunaan lama dpt menyebabkan superinfeksi.
Amoxilin
125, 200, 250,
400 mg/ 5ml
250, 500 mg kap
500, 875 mg tab
775 mg XR
Pharingitis:
775 mg po slm 10hr
Anemia, diare
Sakit kepala
muntah
Serius:
Vaksin bcg
Doksisiklin
Tetrasiklin
Vaksin tipoid

Kategori B
Kontra:
Alergi penisilin, sefalosporin, imienem.

Cefalexin
125, 500, 250mg/ 5ml
250,700 mg kap
250, 500 mg tab
Pharingitis:
250 mg po 6 jm
Nyeri perut
diare
hipersensitif
meningkatkan-
transaminase
Serius:
Vaksin bcg
Vaksin tipoid

Kategori B
Kontra:
Hipersensitiv
Cefadroxil
25 -50 mg/ KgBB
Gang GI
Hipersensitiv
Neutropenia
Gejala colitis
Sefalosporin
Probenezide
Alcohol

Klaritromisin
125,250 mg/ 5ml
250,500 mg tab
500 mg XR
Pharingitis:
250mg po 12 jm 10hr
Gang. GI
Serius:
Alprazolam
Amitriptylin
Atorvastatin
Vaksin bcg
Carbamazepin
Diazepam
Digoksin
Erytromisin

Kategori C
Kontra:
Pimozide, cisapride, ergotamine
Statin
Aritmia jantung
Cholestatic jaundice
Myopaty
rhabdomyolysis
Hipersensitiv
Clindamisin
75, 150, 300 mg kap
150 mh/ ml inj
75mg/ 5ml oral
Nyeri perut
Agranulositosis
Hipersensitiv
hipotnsi
Serius:
Abobotulinum toksin A
Vacsin bcg
Vacsin typoid

Kategori B
Black box:
Diare sampai colitis fatal
Hipertoxin grup C meningkatkan morbidity dan mortality.
Kontra:
Hipersensitiv dg klindamisin, linkomisin
Azitromisin
250, 500, 600 mg tab
100mg/ 5ml susp
200mg/ 5ml susp
Pharingitis:
500mg/ 250mg slm 4 hr
Tinggi:
Diare
nausea
Nyeri perut
Serius:
Amidaron
Afatinib
Vaksin bcg
Digoksin
Heparin
Warfarin
Kategori B
Kontra:
Hipersensitif
Riwayat jaundice cholestatic
Pimozide
Benzatin penisilin G
600.000 unit/ ml syringe
1,2 million unit/ 2 ml
2,4 million unit/ 4 ml
Pharingitis:
1,2 million unit im x 1
Dermatitis
Urtikaria
Udem
demam
-
Kategori B
Black box:
t/ digunakan IV
cardiorespiratori arrest dan kematian

kontraindikasi:
hipersensitif !!!
Amantadine
100mg/ kaps
50mg/ 5ml syr
Konstipasi
Depresi
Halusinasi
Serius:
Mefloquine

Kontra:
Hipersensitiv
Glaucoma

Kategori C
t/ di rekomendasi kan u/ laktasi
Rimantadine
Influenza:
100 mg PO setelah trjadi gejala
Hipotensi -ortostatik
Edema
Nausea
Signifikan:
Atropine
Hyoscyamine-
Spray

Kategori C
Kontra:
Hipersensitiv

Acyclovir
200mg/ 5ml
50mg/ ml inj
400,800 mg tab
200mg kap
Malaise
Inflamasi
Nausea
Muntah
Serius:
Amphotericin B
Bacitracin
Cidofovir
Kontra:
Hipersensitiv

Kategori B
Oseltamivire
30,45,75 mg/ kap
Influenza:
75mg PO tiap 12 jam slm 5 hr
Nyeri perut
Konjungtivitis
Vertigo
Gang-pendengaran
Signifikan:
Clopidogrel
Probenecid
Kontra:
Hipersensitiv

Kategori C
Zanamivire
5 mg serbuk inhaler
Sakit kepala
Batuk
Sakit -tenggorokan
-
Kontra:
Hipersensitiv

Kategori C

Daftar Pustaka
Herawati, Sri. 2003. Buku ajar ilmu telinga hidung tenggorokan untuk mahasiswa fakultas kedokteran gigi. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2001.Buku ajar keperawatan medical-bedah Brunner & Suddarth. Ed 8. Jakarta: EGC.

Soepardi, Efianty Arshad, et. al. 1997. Buku ajar ilmu penyakit TELINGA-HIDUNG-TENGGOROKAN. Jakarta: FKUI.

Mansjoer, Arif. Et al. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Jilib 1. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar