Faringitis dalam bahasa latin;
pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggerokan
atau faring yang disebabkan oleh bakteri dan virus tertentu. Kadang juga
disebut radang tenggerokan.(Wikipedia.com) Faringitis adalah
infeksi pada faring yang disebabkan oleh virus dan bakteri, yang ditandai oleh
adanya nyeri tenggrokan, faring eksudat dan hiperemis, demam, pembesaran
limfonodi leher dan malaise. (Vincent, 2004). Faringitis
adalah imflamasi febris yang disebabkan oleh infeksi virus yang tak
terkomplikasi biasanya akan menghilang dalam 3 sampai 10 setelah awitan.
Epidemiologi
Faringitis terjadi pada semua umur
dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi yang paling tinggi
terjadi pada anak-anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia dibawah 1
tahun. Insedensi meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi
tetap berlanjut sepanjang akhir masa nak-anak dan kehidupan dewasa. Kematian
akibat faringitis jarang terjadi, tetapi dapat terjadi sebagai hasil dari
komplikasi penyakit ini.
Etiologi
Faringitis
bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus,
termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV.
Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A,
korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia
pneumoniae.
Virus, 80 %
sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, dapat menyebabkan demam. Batuk
dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan
teriritasi. Virus
coxsackie (hand, foot, and mouth disease). Alergi. Alergi dapat
menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis (menetap). Bakteri
streptokokus, dipastikan dengan Kultur tenggorok. Tes ini umumnya dilakukan di
laboratorium menggunakan hasil usap tenggorok pasien. Dapat ditemukan gejala
klasik dari kuman streptokokus seperti nyeri hebat saat menelan, terlihat
bintik-bintik putih, muntah – muntah, bernanah pada kelenjar amandelnya,
disertai pembesaran kelenjar amandel.
Faringitis juga
bisa timbul akibat iritasi debu kering, merokok, alergi, trauma tenggorok
(misalnya akibat tindakan intubsi), penyakit refluks asam lambung, jamur,
menelan racun, tumor.
Tanda
dan Gejala
Nyeri tenggorok dan
nyeri menelan. Tonsil menjadi berwarna merah
danmembengkak. Mukosa yang melapisi faring
mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput yang berwarna
keputihan atau mengeluarkan pus (nanah). Demam. Pembesaran kelenjar
getah bening di leher.
Setelah bakteri
atau virus mencapai sistemik maka gejala – gelaja sistemik akan muncul: Lesu
dan lemah, nyeri pada sendi – sendi otot, tidak nafsu makan dan nyeri pada
telinga. Peningkatan jumlah sel darah putih
Patofisiologi
Penularan
terjadi melalui droplet, kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila
epitel terkikis maka jaringan limpoid superficial bereaksi terjadi pembendungan
radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat
hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa
tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada
dinding faring. Dengan hiperemi pembuluh diding darah menjadi lebar. Bentuk
sumbatan yang berwarana kuning, putih,atau abu-abu terdapat pada folikel atau
jaringanlimpoid. Tampak bahwa folikel limpoid dan bercak-bercak pada dinding
faring posterior atau terletak lebih kelateralmenjadi meradang dan
membengkaksehingga timbul radang pada tenggorokan atau faringitis.
Klasifikasi
Berdasarkan lama berlangsungnya:
Faringitis akut,
adalah radang tenggorokan yang disebabkan oleh virus dan bakteri yaitu
streptkokus grup A dengan tanda dan gejala mukosa dan tonsil masih berwarna
merah, malaise, nyeri tenggerokan dan kadang disertai demam dan batuk.
Faringitis ini terjadi masih baru, belum berlangsung lama.
Faringitis kronik,
radang tenggorokan yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak
disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang menjanggal ditenggerokan.
Faringitis kronik umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja atau
tinggal dalam lingkunga yang berdebu, menggunakan suara yang berlebihan,
menderita batuk kronik, dan kebiasaaan mengkomsumsi alkohol dan tembakau.
Faringitis kronik dibagi menjadi 3 yaitu: Faringitis hipertropi
ditandai dengan penebalan umum dan kogesti membrane mukosa. Faringitis
atrpi kemungkinan merupakan tahap lanjut dari
jenis pertama (membrane tipis, keputihan ,licin, dan pada waktunya berkerut). Faringitis
granular kronik terjadi pembengkakan folikel
limpe pada dinding faring.
Berdasarkan agen penyebab:
Faringitis virus: Biasanya tidak
ditemukan nanah ditenggorokan. Demam
ringan tau tanpa demam. Jumlah
sel darah putih normal atau agak meningkat. Kelenjar getah bening
normal atau sedikit membengkak. Tes
apus tenggorokan member hasil negative. Untuk
strep throat pada biakan dilaboratorium tidak tumbuh bakteri.
Faringitis bakteri: Biasanya ditemukan
nanah dutenggorokan. Demam
ringan sampai sedang. Jumlah
sel darah putih meningkat ringan sampai sedang. Kelenjar getah bening
mengalami pembengkakan ringan sampai sedang. Ter apus tenggorokan memberikan hasil positif. Bakteri tumbuh pada
biakan dilaboratorium.
Pemerikasaan
penunjang
Pada pemeriksaan dengan
mempergunakan spatel lidah, tampak tonsil membengkak, hiperemis, terdapat detritus,
berupa bercak (folikel, lakuna, bahkan membran). Kelenjar submandibula
membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak.
Pemeriksaan Biopsi. Contoh
jaringan untuk pemeriksaan dapat diperoleh dari saluran pernapasan (sekitar
faring) dengan
menggunakan teknik endoskopi. Jaringan tersebut akan diperiksa dengan mikroskop
untuk mengetahui adanya peradangan akibat bakteri atau virus.
Pemeriksaan Sputum. Pemeriksaan
sputum makroskopik, mikroskopik atau bakteriologik penting dalam diagnosis
etiologi penyakit.Warna bau dan adanya darah merupakan petunjuk yang berharga.
Pemeriksaan Laboratorium. Sel
darah putih (SDP) : Peningkatan
komponen sel darah putih dapat menunjukkan adanya infeksi atau inflamasi. Analisa
Gas Darah: Untuk menilai fungsi pernapasan secara adekuat,
perlu juga mempelajari hal-hal diluar paru seperti distribusi gas yang diangkut
oleh sistem sirkulasi.
Tindakan
pengobatan.
Untuk faringitis virus penanganan
dilakukan dengan memberikan aspirin atau asetaminofen cairan dan istiraha
baring. Kmpikasi seperti sinutitis atau pneumonia biasanya disebabkan oleh
bakteri Karena danya nekrosis epitel yang disebabkan oleh virus sehingga untuk
mengatasi komplikasi ini dicadangkan untuk menggunakan antibiotka.
Untuk feringitis bakteri paling
bail diobati dengan pemberian penisilin G sebanyak 200.000-250.000 unit, 3-4
kali sehari selama 10 hari, pemberian obat ini biasanya akan menghasilkan
respon klinis yang cepat dengan terjadinya suhu badan dalam waktu 24 jam..
erritrimisisn atau klindamisin merupakan obat alin dengan hasil memuaskan jika
penderita alergi terhadap penisilin. Jika penderita menderita neyri tenggerokan
yang sangat hebat, selain terpi obat pemberian kompres panas atau dingin pada
leher dapat membantu meringankan nyeri. Berkumur-kumur dengan larutan garam
hangat dapat pula meringankan gejala nyeri tenggorokan dan hal ini dapat
disarankan pada anak-anak yang lebih besar untuk dapat bekerja sama
Pencegahan
dan pengendalian
Pencegahan: cukup beristirahat, berkumur dengan air garam hangat
beberapa kali sehari, bagi perokok harus berhenti merokok, banyak minum dan hindari makanan
yang dapat menyebabkan iritasi, minum antibiotik, dan jika diperlukan dapat minum analgesic, tindakan pencegahan dilakukan dengan
menghindari pemakaian pelembab udara yang berlebih, pengendalian terpapar
uap atau gas kaustik dan iritan dapat berkontribusi pada pengurangan, kejadian faringitis akut
pada kelompok kerja yang terkait dengan pekerjaan beresiko.
Langkah-langkah pengendalian lingkungan bertujuan
untuk menghilangkan atau mengurangi paparan tingkat yang dianggap aman oleh: Jebakan dan isolasi
prosedur sektor kerja. Penggunaan
sistem kedap udara dalam industry. Standar Kebersihan dan keamanan ketat dengan
penyebaran ventilasi pembuangan memadai dan efisien. Pemantauan sistematis
konsentrasi asap, kabut atau debu di udara ambient. Organisasi Kerja, agar mengurangi jumlah
pekerja yang terpapar dan waktu
pemaparan dan mengurangi faktor estressogênicos . Ukuran pembersihan umum
lingkungan kerja dan fasilitas untuk kebersihan pribadi, sumber daya untuk mandi,
mencuci tangan, lengan, wajah dan perubahan pakaian. Penyediaan oleh majikan alat pelindung diri yang
sesuai dalam kondisi baik konservasi,
seperti ditunjukkan dalam cara yang melengkapi upaya perlindungan kolektif.
Masker pelindung pernapasan harus
digunakan sebagai langkah sementara dalam keadaan darurat. Ketika tindakan
perlindungan kolektif tidak cukup, ini harus hati-hati diindikasikan untuk sektor atau fungsi.
Pekerja harus dilatih secara tepat untuk penggunaannya. Masker harus kualitas yang memadai
dan eksposur dengan filter kimia atau debu, spesifik untuk setiap bahan
dimanipulasi atau kelompok zat yang dapat ditahan oleh filter yang sama. Filter harus
dipertukarkan secara ketat sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Normatif / mtb n 1/1994 set. Regulasi teknis tentang penggunaan peralatan perlindungan pernapasan.
dimanipulasi atau kelompok zat yang dapat ditahan oleh filter yang sama. Filter harus
dipertukarkan secara ketat sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Normatif / mtb n 1/1994 set. Regulasi teknis tentang penggunaan peralatan perlindungan pernapasan.
Hal ini dianjurkan untuk
memeriksa kecukupan dan kepatuhan oleh majikan dari tindakan pengendalian faktor risiko pekerjaan
dan promosi kesehatan diidentifikasi dalam PPRA (NR 9) dan PCMSO (NR 7), dan peraturan lainnya -
kesehatan dan lingkungan - di negara bagian dan kota. The NR 15 (Ordonansi /
mtb n. º 12/1983), dalam Lampiran no. # 11, meletakkan LT untuk beberapa bahan
kimia di
udara ambien, untuk perjalanan hingga 48 jam per minggu.
Di antara agen diketahui
menyebabkan faringitis akut,
adalah: Asam
klorida - 4 ppm atau 5,5 mg/m3; Asam
kromat (kabut) - 0,04 mg/m3; Asam
fluorida - 2,5 ppm atau 1,5 mg/m3; Amonia - 20 ppm atau 14 mg/m3; Klorin - 0,8 ppm atau
2,3 mg/m3; Bromo
- 0,6 mg/m3 atau 0,08 ppm.
Dianjurkan untuk secara berkala
mengevaluasi LT ini, membandingkan mereka dengan yang didefinisikan oleh
organisme studi
internasional atau khusus untuk tujuan ini. Telah diamati bahwa bahkan ketika
diikuti secara ketat, tidak
mencegah timbulnya kerusakan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan
berkala bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala untuk deteksi
dini penyakit. Instrumen
standar harus digunakan, misalnya, kuesioner gejala pernafasan memiliki divalidasi dan ujian
sesuai dengan faktor risiko yang diidentifikasi. Tindakan promosi
kesehatan dan
pengendalian tembakau juga harus dilaksanakan.
Diketahui atau diduga penyakit dan
hubungan kerja, harus: Menginformasikan
karyawan. Periksa terkena, dalam
rangka untuk mengidentifikasi kasus-kasus lain. Beritahu kasus tersebut ke sistem
informasi kesehatan (epidemiologi, kesehatan dan / atau kesehatan pekerja),
melalui instrumen sendiri, DRT / MTE dan serikat pekerja. Menyediakan untuk
penerbitan CAT, di mana pekerja yang diasuransikan oleh SAT Jaminan Sosial. Mengarahkan majikan
untuk mengadopsi prosedur teknis dan manajerial untuk menghilangkan atau pengendalian
faktor risiko.
Komplikasi
Otitis media purulenta
bakterialis. Daerah telinga tengah
normalnya adalah steril. Bakteri masuk melalui tube eustacius akibat
kontaminasi sekresi dalam nasofaring.
Abses Peritonsiler. Sumber
infeksi berasal dari penjalaran faringitis/tonsilitis akut yang mengalami supurasi,
menembus kapsul tonsil.
Glomerulus Akut. Infeksi
Streptokokus pada daerah faring masuk ke peredaran darah, masuk ke ginjal.
Proses autoimun kuman streptokokus yang nefritogen dalam tubuh meimbulkan bahan
autoimun yang merusak glomerulus.
Demam Reumatik. Infeksi
streptoceal yang awalnya ditandai dengan luka pada tenggorok akan menyebabkan
peradangan dan pembentukan jaringan parut pada katup-katup jantung, terutama
pada katup mitral dan aorta.
Sinusitis. Sinusitis
adalah radang sinus yang ada disekitar hidung dapat berupa sinusitis maksilaris
/ frontalis. Sinusitis maksilaris disebabkan oleh komplikasi peradangan jalan
napas bagian atas (salah satunya faringitis), dibantu oleh adanya faktor
predisposisi. Penyakit ini dapat disebabkan oleh kuman tunggal dan dapat juga
campuran seperti streptokokus, pneumokokus, hemophilus influenza dan kleb
siella pneumoniae.
Meningitis. Infeksi
bakteri padadaerah faring yang masuk ke peredaran darah, kemudian masuk ke
meningen dapat menyebabkan meningitis. Akan tetapi komplikasi meningitis akibat
faringitis jarang terjadi.
Tinjauan Obat
Faringitis
Obat
|
Sediaan
|
Efek samping
|
Interaksi obat
|
Peringatan
|
Penisilin V
|
125, 250mg/5 ml 250,
500 mg tab
Pharingitis: 500 mg
po 12 jm/ 250 mg po 6 jm slm 10hr.
|
Diare
Muntah
Anemia
hipersensitif
|
Serius:
Vaksin bcg
Doksisiklin
Tetrasiklin
Vaksin tipoid
Kategori B
|
Kontra:
Alergi
Peringatan:
Hati2 pd gang. Ginjal
Seizure disorder
Penggunaan lama dpt
menyebabkan superinfeksi.
|
Amoxilin
|
125, 200, 250,
400 mg/ 5ml
250, 500 mg kap
500, 875 mg tab
775 mg XR
Pharingitis:
775 mg po slm 10hr
|
Anemia, diare
Sakit kepala
muntah
|
Serius:
Vaksin bcg
Doksisiklin
Tetrasiklin
Vaksin tipoid
Kategori B
|
Kontra:
Alergi penisilin,
sefalosporin, imienem.
|
Cefalexin
|
125, 500, 250mg/ 5ml
250,700 mg kap
250, 500 mg tab
Pharingitis:
250 mg po 6 jm
|
Nyeri perut
diare
hipersensitif
meningkatkan-
transaminase
|
Serius:
Vaksin bcg
Vaksin tipoid
Kategori B
|
Kontra:
Hipersensitiv
|
Cefadroxil
|
25 -50 mg/ KgBB
|
Gang GI
Hipersensitiv
Neutropenia
Gejala colitis
|
Sefalosporin
Probenezide
Alcohol
|
|
Klaritromisin
|
125,250 mg/ 5ml
250,500 mg tab
500 mg XR
Pharingitis:
250mg po 12 jm 10hr
|
Gang. GI
|
Serius:
Alprazolam
Amitriptylin
Atorvastatin
Vaksin bcg
Carbamazepin
Diazepam
Digoksin
Erytromisin
Kategori C
|
Kontra:
Pimozide, cisapride,
ergotamine
Statin
Aritmia jantung
Cholestatic jaundice
Myopaty
rhabdomyolysis
Hipersensitiv
|
Clindamisin
|
75, 150, 300 mg kap
150 mh/ ml inj
75mg/ 5ml oral
|
Nyeri perut
Agranulositosis
Hipersensitiv
hipotnsi
|
Serius:
Abobotulinum toksin A
Vacsin bcg
Vacsin typoid
Kategori B
|
Black box:
Diare sampai colitis
fatal
Hipertoxin grup C
meningkatkan morbidity dan mortality.
Kontra:
Hipersensitiv dg
klindamisin, linkomisin
|
Azitromisin
|
250, 500, 600 mg tab
100mg/ 5ml susp
200mg/ 5ml susp
Pharingitis:
500mg/ 250mg slm 4 hr
|
Tinggi:
Diare
nausea
Nyeri perut
|
Serius:
Amidaron
Afatinib
Vaksin bcg
Digoksin
Heparin
Warfarin
Kategori B
|
Kontra:
Hipersensitif
Riwayat jaundice
cholestatic
Pimozide
|
Benzatin penisilin G
|
600.000 unit/ ml
syringe
1,2 million unit/ 2
ml
2,4 million unit/ 4
ml
Pharingitis:
1,2 million unit im x
1
|
Dermatitis
Urtikaria
Udem
demam
|
-
Kategori B
|
Black box:
t/ digunakan IV
cardiorespiratori
arrest dan kematian
kontraindikasi:
hipersensitif !!!
|
Amantadine
|
100mg/ kaps
50mg/ 5ml syr
|
Konstipasi
Depresi
Halusinasi
|
Serius:
Mefloquine
|
Kontra:
Hipersensitiv
Glaucoma
Kategori C
t/ di rekomendasi kan
u/ laktasi
|
Rimantadine
|
Influenza:
100 mg PO setelah
trjadi gejala
|
Hipotensi -ortostatik
Edema
Nausea
|
Signifikan:
Atropine
Hyoscyamine-
Spray
Kategori C
|
Kontra:
Hipersensitiv
|
Acyclovir
|
200mg/ 5ml
50mg/ ml inj
400,800 mg tab
200mg kap
|
Malaise
Inflamasi
Nausea
Muntah
|
Serius:
Amphotericin B
Bacitracin
Cidofovir
|
Kontra:
Hipersensitiv
Kategori B
|
Oseltamivire
|
30,45,75 mg/ kap
Influenza:
75mg PO tiap 12 jam
slm 5 hr
|
Nyeri perut
Konjungtivitis
Vertigo
Gang-pendengaran
|
Signifikan:
Clopidogrel
Probenecid
|
Kontra:
Hipersensitiv
Kategori C
|
Zanamivire
|
5 mg serbuk inhaler
|
Sakit kepala
Batuk
Sakit -tenggorokan
|
-
|
Kontra:
Hipersensitiv
Kategori C
|
Daftar Pustaka
Herawati, Sri. 2003. Buku ajar ilmu telinga hidung tenggorokan untuk
mahasiswa fakultas kedokteran gigi. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. 2001.Buku ajar keperawatan
medical-bedah Brunner & Suddarth. Ed 8. Jakarta:
EGC.
Soepardi, Efianty Arshad, et. al.
1997. Buku ajar ilmu penyakit
TELINGA-HIDUNG-TENGGOROKAN. Jakarta:
FKUI.
Mansjoer, Arif. Et al. 2002. Kapita
Selekta Kedokteran Jilib 1. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar