Tuberkulosis adalah
penyakit menular yang disebabkan oleh kuman berbentuk batang, Mycobacterium
tuberculosis. Kuman ini biasanya menyerang paru-paru (TB paru), tetapi
dapat menyerang organ-organ tubuh lainnya (TB Ekstra paru).Kuman tersebut masuk
tubuh melalui udara pernafasan yang masukke dalam paru, kemudian kuman menyebar
dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem
saluran limfe, melalui saluran nafas atau penyebaran langsung ke tubuh lainnya
(Handayani, 2002).
Tuberkulosis atau disingkat dengan TB
adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi kompleks Mycobacterium
tuberculosis yang ditularkan melalui dahak dari penderita TB kepada
individu lain yang rentan. Penyakit TB dapat menyerang pada siapa saja (baik
pria, wanita, tua, muda, kaya ataupun miskin) serta dimana saja. TB merupakan
penyakit infeksi sistemik yang dapat mengenai hampir semua organ (DepKes RI,
2005).
Etiologi
Infeksi TB sangat mudah menular melalui
udara. Bakteri TB keluar dan terhirup kedalam saluran pernafasan orang ketika
pasien TB yang aktif bersin dan batuk. Bakteri TB dapat bertahan di udara
selama beberapa jam walaupun bakteri tersebut cepat mati terkena sinar
matahari. Bakteri TB juga dapat menenpel pada permukaan seperti meja. Ketika
kita menyentuh permukaan yang tercemar dengan TB dan terus memakai tangan untuk
makan tanpa cuci tangan bakteri ini dapat masuk dalam tubuh. TB tidak menular
melalui makanan, air, berhubungan seks, transfusi darah, dan gigitan nyamuk
atau serangga lain (Green, 2006).
TB dapat terjadi melalui infeksi primer
dan paska primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena bakteri TB
untuk pertama kalinya dan timbul peradangan dialveoli paru-paru. Waktu
terjadinya infeksi hingga pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6
minggu. Infeksi primer terjadi tanpa gejala serius hanya timbul batuk dan nafas
berbunyi tetapi pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah dapat
terjadi radang paru-paru hebat dengan ciri-ciri berupa batuk kronik dan bersifat
sangat menular. Infeksi paska primer terjadi setelah beberapa bulan atau tahun
setelah infeksi primer dengan ciri khas kerusakan paru-paru yang luas (DepKes
RI, 2005).
Patofisiologi
Infeksi primer diinisiasi oleh
implantasi organisme di alveolar melalui droplet nuklei yang sangat kecil (1-5
mm) untuk menghindari sel epithelial siliari dari saluran pernafasan atas. Bila
terinplantasi M. Tuberculosis melalui
saluran nafas, mikroorganisme akan membelah diri dan dicerna oleh makrofag
pulmoner, dimana pembelahan diri akan terus berlangsung walaupun lebih pelan.
Makrofag yang teraktivasi dalam jumlah besar akan mengelilingi daerah yang
ditumbuhhi M. Tuberculosis yang padat seperti keju (daerah nekrotik) sebagai
bagian dari imunitas yang dimediasi oleh sel (ISFI, 2002 : 918).
Tuberkulosis merupakan penyakit yang
disebabkan oleh masuknya M.tuberculosis ke dalam sistem respirasi.Kuman ini
dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar
kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam,
tergantung pada ada Makrofag dan limfosit T bekerja sama untuk mencegah
penyebaran infeksi dengan membentuk granuloma Droplet nuclei disertai
M.tuberkulosis terinhalasi, masuk ke paru dan terdeposit di alveoli.
Apabila terjadi penurunan sistem imun,
dinding menjadi kehilangan integritas dan kuman dapat terlepas lalu menyebar ke
alveoli lain dan organ lain tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk
dan kelembapan. Dalam suasana lembap dan gelap, kuman dapat tahan berhari-hari
sampai berbulan-bulan.Setelah masuk ke paru, kuman ini dihadapi pertama kali
oleh netrofil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati
atau dibersihkan oleh makrofag dan keluar dari percabangan trakeobronkial
bersama gerakan silia dan sekretnya.
Interaksi antara kuman dengan reseptor
makrofag, yaitu Toll-like receptors (TLRs) menghasilkan kemokin dan
sitokin yang dikenal sebagai sinyal infeksi.Sinyal ini menyebabkan berpindahnya
monosit dan sel dendritik dari aliran darah ke tempat infeksi pada paru.Sel
dendritik memegang peranan penting sebagai presenter antigen pada fase awal
infeksi dibandingkan makrofag serta berperan dalam aktivasi sel T dengan
antigen spesifik dari M. tuberculosis.Sel dendritik yang menelan kuman menjadi
matur dan bermigrasi ke limfonodi. Fenomena dari migrasi sel menuju focus
infeksi menyebabkan terbentuknya granuloma.
Granuloma dibentuk oleh sel T, makrofag,
sel B, sel dendritik, sel endothel dan sel epitel.Granuloma ini pada dasarnya
mencegah penyebaran kuman dalam makrofag dan menghasilkan respon imun yang
berhubungan dengan interaksi antara sekresi cytokines oleh makrofag dan sel T.
Granuloma menjadi sarang kuman dalam periode yang lama (atau disebut Fokus
Ghon).Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian jaringan paru.Bila
menjalar sampai pleura, maka dapat terjadi efusi pleura. Kuman juga dapat masuk
melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring dan kulit, terjadi
limfadenopati regional kemudian kuman masuk ke dalam vena dan menyebar ke seluruh
organ seperti paru, otak, ginjal, dan tulang.Bila masuk ke arteri pulmonalis
maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier.
Selain itu dapat pula terjadi
limfadenitis regional dan limfangitis lokal.Sarang primer, limfangitis lokal
dan limfadenitis regional disebut sebagai Kompleks Primer (Ranke). Semua proses
ini dapat memakan waktu 3-8 minggu. Apabila terjadi ketidakseimbangan cytokines
maka kuman akan terlepas dan terjadi reaktivasi penyakit.
Tanda
dan Gejala
Gejala
TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk dan berdahak
terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, batuk darah atau pernah batuk darah.
Adapun gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan
nyeri dada, badan lemah, nafsu makan dan berat badan menurun, rasa kurang enak
badan (malaise), berkeringat malam, walaupun tanpa kegiatan, demam meriang
lebih dari sebulan.
Gejala
TB terbagi 2, yakni gejala umum dan gejala khusus.
Gejala
umum, meliputi: Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab
yang jelas dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi
yang baik. Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus,
malaria atau infeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan keringat malam. Pembesaran
kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paling sering di daerah leher,
ketiak dan lipatan paha. Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari
30 hari (setelah disingkirkan sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan
nyeri dada.
Gejala
Khusus, sesuai dengan bagian tubuh yang diserang, misalnya: TB kulit atau
skrofuloderma.
TB
tulang dan sendi, meliputi: Tulang punggung (spondilitis) : gibbus. Tulang
panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul. Tulang lutut: pincang dan
atau bengkak
TB otak dan saraf. Meningitis dengan
gejala kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun.
Gejala mata. Conjunctivitis
phlyctenularis. Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi) (DepKes RI, 2005).
Diagnosa
Diagnosis
TB paru pada orang dewasa yakni dengan pemeriksaan sputum atau dahak secara
mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya 2 dari 3
spesimen sewaktu – pagi – sewaktu (SPS) BTA hasilnya positif. Apabila hanya 1
spesimen yang positif maka perlu dilanjutkan dengan rontgen dada atau
pemeriksaan SPS diulang.
Pemeriksaan Fisik.
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur
paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit
sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus
superior terutama daerah apex dan segmen posterior , serta daerah apex lobus
inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara napas
bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan
paru, diafragma & mediastinum. Pada pleuritis tuberkulosa, kelainan
pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura. (PDPI,
2006).
Pemeriksaan Dahak. S
(sewaktu): dahak ditampung pada saat terduga pasien TB datang berkunjung pertama kali
ke fasyankes. Pada saat pulang, terduga pasien membawa sebuah pot dahak untuk
menampung dahak pagi pada hari kedua.
P
(pagi): dahak ditampung di
rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan
diserahkan sendiri kepada petugas di fasyankes.
S
(sewaktu): dahak ditampung di fasyankes pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.
Penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak
mikroskopis pada progam TB nasional merupakan diagnosis utama. Kriteria sputum
BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan tiga batang kuman BTA pada
suatu sediaan sehingga diperlukan 5000 kuman dalam 1 ml sputum (Ink, 2006).
Uji
tuberculin. Uji tuberculin dilakukan dengan cara
Mantoux (penyuntikan intra kutan) dengan semprit tuberculin. Pembacaan
dilakukan 43 – 72 jam setelah penyuntikan. Diukur diameter transversal dari
indurasi yang terjadi. Ukuran dinyatakan dalam millimeter. Bila uji tuberculin
positif, menunjukkan adanya infeksi TB, namun uji tuberculin dapat negatif pada
penderita malnutrisi, penyakit sangat berat, dan pemberian imunosuppresif.
(DepKes RI, 2001) Pada pleuritis tuberkulosa uji tuberkulin kadang negatif,
terutama pada malnutrisi dan infeksi HIV. Jika awalnya negatif mungkin dapat
menjadi positif jika diulang 1 bulan kemudian. Sebenarnya secara tidak langsung
reaksi yang ditimbulkan hanya menunjukkan gambaran reaksi tubuh yang analog
dengan reaksi peradangan dari lesi yang berada pada target organ yang terkena
infeksi atau status respon imun individu yang tersedia bila menghadapi agent
dari basil tahan asam yang bersangkutan (PDPI, 2006).
Reaksi
cepat BCG. Bila dalam penyuntikan BCG terjadi
reaksi cepat (dalam 3 – 7 hari) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm maka
dicurigai telah terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis (DepKes RI, 2006).
Foto
rontgen dada. Gambaran rontgen TB paru tidak khas dan
interprestasi foto biasanya sulit, harus hati – hati, kemungkinan overdiagnosis
atau underdiagnosis. Paling mungkin ditemukan infiltrate dengan pembesaran
kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal. Bila ada diskongruensi antara
gambaran klinis dan gambaran rontgen, harus dicurigai TB. Foto rontgen dada
sebaiknya dilakukan PA (Postero – Anterior) dan lateral, tetapi kalau tidak
mungkin dilakukan PA saja (DepKes RI, 2001).
Pemeriksaan
mikrobiologi dan serologi. Pemeriksaan BTA secara mikroskopis
langsung pada anak dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat
pada anak. Pemeriksaan BTA secara biakan (kultur) memerlukan waktu yang lama.
Cara baru untuk mendeteksi kuman TB dengan cara PCR (Polimerase Chain Reaction). Pemeriksaan PCR adalah teknologi
canggih yang dapat mendeteksi DNA bakteri M.tuberculosis.
Salah satu masalah dalam pelaksanaan teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi.
Pada pemeriksaan PCR specimen pemeriksaan dapat berasal dari paru maupun luar
paru sesuai dengan organ yang terlibat. Pemeriksaan serologi seperti ELISA (Enzym Linked Imunosorbent Assay)
merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respon humoral berupa
proses antigen – antibodi yang terjadi.
Selain pemeriksaan serologi dengan ELISA dapat juga dilakukan dengan Mycodot, yaitu mendeteksi antibodi antimikobakterial di
dalam tubuh manusia. Uji ini menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang
direkatkan pada suatu alat yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini
kemudian dicelupkan ke dalam serum penderita, dan bila di dalam serum tersebut
terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam jumlah yang memadai yang sesuai
dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan warna pada sisir yang
dapat dideteksi dengan mudah (PDPI, 2006).
Tujuan
Terapi
Menyembuhkan
Pasien Dan Memperbaiki produktivitas serta kualitas hidup . Mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk
selanjutnya. Mencegah terjadinya
kekambuhan TB. Menurunkan penularan TB. Mencegah terjadinya dan penularan
resistan TB obat
Terapi
Non Farmakologi
Sering berjemur dibawah sinar
matahari pagi (06.00 -08.00) untuk mengembalikan sistem kekebalan tubuh. Melakukan olah raga ringan seperti jalan
santai di pagi hari.
Diet sehat dianjurkan
mengkomsumsi banyak lemak dan vitamin A untuk membentuk jaringan lemak baru dan
meningkatkan sistem imun. Menjaga sanitasi /
kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal. Menjaga
sirkulasi udara dalam rumah agar selalu berganti dengan udara yang baru
Terapi
Farmakologi
Untuk memperoleh efektifitas pengobatan
yang sesuai dengan sifat kuman TB maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah: Menghindari
penggunaan monoterapi. Obat anti tuberkulosis (OAT) diberikan dalam bentuk
kombinasi dari beberapa jenis obat dengan jumlah yang cukup dan dosis yang
tepat sesuai kategori pengobatan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekebalan
terhadap OAT. Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat, pengobatan
dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT=Directly Observed Treatment)
oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
Pengobatan tuberkulosis diberikan dalam
2 tahap yaitu :
Tahap
Intensif. Penderita mendapatkan obat setiap hari dan
memperlukan pengawasan secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan
obat. Apabila pengobatan dilakukan secara tepat pada tahap ini, biasanya
penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian
besar TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
Tahap
Lanjutan. Penderita mendapatkan obat dalam jumlah sedikit
tetapi dalam waktu yang lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
persister (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Obat-Obat
Antituberkulosis (OAT) diberikan
dalam kombinasi sedikitnya 2 obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa
obat ketiga. Tujuan pemberian OAT, antara lain: Membuat konversi sputum BTA
positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid. Mencegah
kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi. Menghilangkan
atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologi.
Aktivitas obat TB didasarkan pada tiga
mekanisme aksi yaitu aktifitas membunuh bakteri, aktifitas sterilisasi, dan
mencegah kekambuhan. Obat umum yang dipakai adalah isoniazid, etambutol,
rifampisin, pirasinamid,dan streptomisin. Obat-obat lain yang pernah dipakai
adalah natrium para amino salisilat, kapreomisin, sikloserin, etionamid,
kanamisin, rifapentin, dan rifabutin. Regimen pengobatan TB mempunyai kode
standar yang menunjukkan tahap dan lama pengobatan, jenis OAT, cara pemberian
(harian atau selang), dan kombinasi OAT dengan dosis tetap seperti 2HRZE/4H3R3
atau 2HRZES/5HRE. Kode huruf tersebut adalah akronim dari nama obat yang
dipakai yaitu :
H = Isoniazid
R = Rifampisin
Z = Pirasinamid
E = Etambutol
S = Streptomosin
Sedangkan angka dalam kode menunjukkan
waktu atau frekuensi. Angka 2 di depan seperti pada 2HRZE artinya digunakan
selama dua bulan, tiap hari satu kombinasi tersebut, sedangkan angka dibelakang
huruf seperti pada 4H3R3 artinya dipakai 3 kali seminggu selama 4 bulan.
Pengobatan TB kategori I dengan kode 2HRZE/4H3R3 berarti pengobatan pada tahap
awal/intensif menggunakan HRZE selama 2 bulan dan masing-masing OAT diberikan
tiap hari sedangkan pengobatan tahap lanjutan mengunakan HR selama 4 bulan dan
masing-masing OAT diberikan tiap 3 kali seminggu (DepKes RI, 2005).
Panduan OAT yang digunakan di Indonesia
(Sesuai rekomendasi WHO dan ISTC). Paduan pengobatan yang digunakan oleh
Program Nasional Penanggulangan TB oleh Pemerintah Indonesia :
Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3.
Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3.
Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk
paket kombipak, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin
kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. 1 paket untuk 1 penderita
dalam 1 masa pengobatan.
Obat Paket Tuberkulosis ini
disediakan secara gratis melalui
Institusi pelayanan kesehatan milik pemerintah, terutama melalui Puskesmas,
Balai Pengobatan TB paru, Rumah Sakit Umum dan Dokter Praktek Swasta yang telah
bekerja sama dengan Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular Langsung, Depkes
RI.
Analisis
Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Isoniazid
Isoniazid
merupakan derivat dari asam nikotinat. INH adalah obat yang aktif terhadap MTB
yang membelah dan tidak aktif terhadap MTB dalam fase stasioner. Isoniazid
(INH) menghambat biosintesis asam mikolat yang merupakan unsur penting dinding
sel Mycobacterium. Prodrug INH yang masuk ke dalam kuman secara pasif
akan diubah oleh katalase G Mtb menjadi bentuk aktif. Aktifasi menghasilkan
berbagai oksigen dan senyawa reaktif yang menyerang target di dalam kuman,
yaitu sintesa asam mikolat, metabolisme NAD dan mungkin juga merusak DNA.
Akibatnya kuman mudah lisis. INH mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun
parenteral. Kadar puncak dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral
(Hudoyo, 2010 dan Meiyanti, 2007).
Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat ini adalah mual,
muntah, neuritis perifer, neuritis optik, kejang, hiperglikemia,
dan ginekomastia. Selain itu dapat
timbul hipersensitifitas pada orang-orang tertentu berupa eritema multiforme, demam, purpura,
agranulositosis. Efek samping
hepatitis juga dapat terjadi terutama pada usia lebih dari 35 tahun (DepKes RI,
2006). Untuk mencegah efek samping INH terutama neuritis, dapat diberikan Vitamin B6 (piridoksin) 10mg per hari
(Mutschler, 1991).
Dalam kombinasi dengan OAT lainnya, dosis yang
dipakai untuk pasien dewasa adalah 300 mg satu kali sehari, atau 15 mg per kg
berat badan sampai dengan 900 mg, kadang-kadang 2 kali atau 3 kali seminggu
(DepKes RI, 2005).
Rifampisin
Rifampisin
merupakan obat yang aktif terhadap MTB yang tumbuh dan juga aktif terhadap Mtb
dalam fase stasioner. Daya antibakterial rifampisin terjadi melalui hambatan
sintesa RNA, yaitu dengan jalan berikatan pada RNA polimerase kuman (Hudoyo,
2010).
Efek samping
penggunaan rifampisin adalah rasa panas pada perut, sakit epigastrik, mual,
muntah, anoreksia, kembung, kejang perut, diare, letih rasa kantuk, sakit
kepala, ataksia, bingung, pening, tak mampu berfikir, baal umum, nyeri pada
anggota, otot kendor, gangguan penglihatan, ketulian frekuensi rendah sementara
(jarang). Hipersensitifitas
seperti demam, pruritis, urtikaria, erupsi kulit, sariawan mulut dan lidah,
eosinofilia, hemolisis, hemoglobinuria, hematuria, insufiensi ginjal, gagal
ginjal akut (reversibel). Hematologi
seperti trombositopenia, leukopenia
transien, anemia, termasuk anemia hemolisis.
Sediaan dasar dari Rifampisin adalah tablet dan kapsul 300 mg, 450 mg,
dan 600 mg. Untuk dewasa, dosis yang diberikan adalah 450 mg satu kali sehari,
atau 600 mg 2–3 kali seminggu (DepKes RI, 2005).
‘
Etambutol
Derivat
etilendiamin ini berkhasiat spesifik terhadap M.tuberculosis. Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan sintesa
RNA pada kuman yang sedang membelah, juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel (Tjay,
2002).
Efek samping yang dapat timbul dari penggunaan
obat ini adalah neuritis optik, buta
warna merah atau hijau, dan neuritis
perifer (DepKes RI, 2006). Reaksi toksik kinik akan timbul pada dosis besar
(diatas 50 mg per kg berat badan perhari) dan bersifat reversible apabila
pengobatan segera dihentikan, tetapi dapat menimbulkan kebutaan apabila
pemberian Etambutol dilanjutkan (Tjay, 2002).
Sediaan dasar dari Etambutol adalah tablet dengan nama generik
Etambutol-HCl 250 mg atau 500 mg per tablet. Untuk dewasa dan anak diatas 13
tahun, dosis yang diberikan adalah 15-25 mg per kg berat badan, satu kali
sehari.Untuk pengobatan awal diberikan dosis 15 mg per kg berat badan, dan
pengobatan lanjutan 25 mg per kg berat badan. Obat ini tidak diberikan untuk
anak dibawah 13 tahun dan bayi (DepKes RI, 2005).
Pirazinamid
Analog pirazin dari nikotinamida ini
bekerja bakterisid (pada pH 5-6) atau bakteriostatis, dengan spektrum kerja
sempit dan hanya meliputi M.tuberculosis.
Mekanisme kerjanya berdasarkan pada proses perubahannya menjadi asam Pirazinamidase yang berasal dari
basil TBC. Pada saat pH dalam makrofag diturunkan, maka kuman yang berada
disarang infeksi yang menjadi asam akan mati. Obat ini khusus digunakan pada
fase intensif, pada fase pemeliharaan hanya digunakan bila terdapat multi
resisten (Tjay, 2002).
Efek samping yang dapat ditimbulkan pada
penggunaan obat ini adalah hepatotoksisitas,
termasuk demam anoreksia, hepatomegali, ichterus, gagal hati, mual, muntah, anemia sideroblastik, dan urtikaria.Pengobatan
harus segera dihentikan bila timbul tanda-tanda kerusakan hati (DepKes RI,
2006).
Sediaan dasar dari Pirazinamida adalah
Pirazinamid 500 mg per tablet.Dosis pirazinamid untuk dewasa dan anak adalah
15–30 mg per kg berat badan, satu kali sehari atau 50–70 mg per kg berat badan
2–3 kali seminggu (DepKes RI, 2005).
Streptomisin
Streptomisin adalah obat yang termasuk
golongan aminoglikosida. Streptomisin ini bekerja
dengan cara mematikan bakteri sensitif, dengan menghentikan pemroduksian
protein esensial yang dibutuhkan bakteri untuk bertahan hidup. Streptomisin
mempengaruhi pembentukan ribosom dengan mengikat sisi A dimana tRNA bakteri
biasa melekat menyebabkan ribosom tidak terbentuk dan sintesis protein rusak
sehingga menyebabkan kematian sel bakteri (Farfan dkk., 2006).
Efek samping berupa ototoxic (bisa menyebabkan
ototoxicity yang tidak dapat diubah, berupa kehilangan pendengaran, kepeningan,
vertigo). Pada renal (nephrotoxicity yang dapat diubah, gagal ginjal akut
dilaporkan terjadi biasanya ketika obat nephrotoxic lainnya juga diberikan).
Efek pada neuromuskular (penghambatan neuromuskular yang menghasilkan depresi
berturut-turut dan paralisis muskuler); reaksi hipersensitivitas
(Pionas.pom.go.id).
Kanamisin/Amikasin
Kanamisin adalah antibakteri golongan aminoglikosida
yang diisolasi dari bakteri Streptomyces
kanamyceticus dengan bentuk yang paling umum digunakan adalah kanamisin
sulfat. Sedangkan amikasin merupakan hasil sintesis dari kanamisin yang
digunakan secara luas untuk pengobatan infeksi bakteri. Mekanisme aksi kanamisin dan amikasin adalah berinteraksi dengan subunit 30S dari
ribosom prokariotik. Hal ini menyebabkan kesalahan penerjemahan dan secara
tidak langsung menghambat translokasi selama sintesis protein.
Efek samping serius yang terjadi pada kedua obat ini
hampir sama yaitu berupa tinnitus atau
kehilangan pendengaran, toksisitas pada ginjal dan reaksi alergi terhadap obat.
Sediaan kanamisin yang tersedia berupa injeksi 1 gram, sirup 50 mg/ml, dan
kapsul 250 mg.
Levofloxacin
Levofloxacin aktif terhadap bakteri gram positif dan
gram negatif termasuk bakteri anaerob. Mekanisme kerja yang utama adalah
melalui penghambatan DNA gyrase
bakteri (DNA topoisomerase II), sehingga terjadi penghambatan replikasi dan
transkripsi DNA bakteri.
Efek samping yang dapat terjadi : diare,
mual, kembung, konstipasi, nyeri perut, sakit kepala, insomnia, agitasi,
anorexia, ansietas, arthralgia, mulut kering, dyspnea, edema, lelah, demam,
genital pruritus, keringat berlebih, gelisah, rhinitis, gangguan kulit,
somnolence dan hilang rasa. Sediaan yang tersedia berupa tablet 250 mg; 500 mg
dan vial 5 mg/ml, 100 ml.
Para Amino
Salisilat (PAS)
Ditemukan tahun 1940, dahulu merupakan
OAT garis pertama yang disunakan bersama dengan isoniazid dan streptomycin;
kemudian kedudukannya digantikan oleh ethambutol. PAS memperlihatkan efek
bakteriostatik terhadap M. tuberculosis dengan menghambat secara
kompetitif pembentukan asam folat dari asam para-amino benzoat. Penggunaan PAS
sering disertai efek samping yang mencakup keluhan saluran cerna, reaksi
hipersensitifitas (10% penderita), hipotiroid, trombositopenia, dan
malabsorpsi. PAS terdapat dalam bentuk tablet 500 mg yang diberikan dengan
dosis oral 8-12 g sehari, dibagi dalam beberapa dosis.
Ethionamide
Etionamid menghambat pertumbuhan M. tuberculosis. Basil yang sudah resisten terhadap tuberculostatik
lain masih sensitif terhadap etionamid. Resistensi mudah terjadi bila dosis
kurang tinggi atau obat ini digunakan sendiri, dan timbul lebih lambat jika
dikombinasi dengan streptomisin atau INH.
Efek samping yang paling sering dijumpai adalah
anoreksia, mual, dan muntah. Sering juga terjadi hipertensi postural yang
hebat, depresi mental, mengantuk dan athenia. Dapat pula terjadi rasa kecap
metalik, sedangkan kejang dan neuropati primer jarang terjadi. Efek samping
lain pada sistem saraf mencakup gangguan pada saraf olfaktorius, pengelihatan
kabur, diplopia, vertigo parasetia, sakit kepala, rasa lelah dan tremor.
Kemerahan kulit, purpura, stomatitis, ginikomastia, impotensi, menoragi, akne,
dan aloposia juga pernah dilaporkan. Hepatitis terjadi pada sekitar 5% pasien
yang menggunakan obat ini. Gejala hepatotoksik hilang bila pengobatan
dihentikan. Fungsi hati pasien yang mendapat etionamid perlu diperiksa secara
teratur dan penggunaannya dianjurkan bersama dengan piridoksin.
Etionamid terdapat dalam bentuk tablet 250 mg. Dosis
awal ialah dua kali 250 mg sehari, kemudian dinaikan setiap lima hari dengan 125 mg sampai
maksimal 1 g/hari. Obat ini sebaiknya diberikan pada waktu makan untuk
mengurangi iritasi lambung.
Cycloserin
Sikloserin menghambat pertumbuhan M. tuberculosis melalui penghambatan
sintesis dinding sel. Jenis jenis yang sudah resisten terhadap streptomisin,
PAS, INH, pirazinamid dan viomisin mungkin masih sensitif terhadap sikloserin.
Efek samping yang paling sering timbul dalam
penggunaan sikloserin ialah pada SSP dan biasanya terjadi dalam 2 minggu
pertama pengobatan. Gejalanya ialah somnolen, sakit kepala, tremor, disantria,
vertigo, gangguan tingkah laku, paresis, serangan psikosis akut, dan konvulsi.
Serangan dapat menyerupai epilepsi grand mal atau epilepsi petit mal, dan
insidennya berhubungan dengan dosis yang digunakan.
Sikloserin dalam bentuk kapsul 250 mg, diberikan 2
kali sehari. Jika keadaan lebih berat, dapat diberikan dosis lebih besar untuk
jangka waktu yang lebih singkat. Sikloserin dosis besar (250-500mg tiap 6 jam)
dapat digunakan dengan aman bila diberikan bersama piridoksin atau depresan
SPP.
Perhatian
Khusus untuk Pengobatan
Wanita hamil
Pada
prinsipnya paduan pengobatan TB pada wanita hamil tidak berbeda dengan
pengobatan TB pada umumnya. Semua jenis OAT (Obat Anti Tuberkulosis) aman untuk
wanita hamil, kecuali streptomisin karena dapat menembus barier placenta dan
dapat menyebabkan permanent ototoxic terhadap janin dengan akibat terjadinya
gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada janin tersebut. Perlu
dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting
artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan
dilahirkannya terhindar dari kemungkinan penularan TB (DepKes RI, 2005).
Ibu menyusui
dan bayinya
Pada
prinsipnya paduan pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda
dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis
OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus
mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara
terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak
perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus menyusu. Pengobatan pencegahan
dengan INH dapat diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya
selama 6 bulan. BCG diberikan setelah pengobatan pencegahan (DepKes RI, 2005).
Wanita
penderita TB pengguna kontrasepsi
Rifampisin
berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB, susuk KB),
sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang wanita
penderita TB seyogyanya mengggunakan kontrasepsi nonhormonal, atau kontrasepsi
yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg) (DepKes RI, 2005).
Pengobatan atau Tindak Lanjut Bagi Penderita Yang Sembuh, Meninggal,
Pindah, Lalai / Drop Out dan Gagal
Penderita Yang Sudah Sembuh. Penderita
dinyatakan sembuh bila penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara
lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) paling sedikit 2 (dua) kali
berturut-turut hasilnya negatif (yaitu
pada AP dan/atau sebulan sebelum AP, dan pada satu pemeriksaan follow-up
sebelumnya) Tindak lanjut: Penderita diberitahu
apabila gejala muncul kembali supaya memeriksakan diri dengan mengikuti
prosedur tetap.
Pengobatan Lengkap. Adalah penderita
yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tapi tidak ada hasil,
pemeriksaan ulang dahak 2 kali berturut-turut negatif. Tindak lanjut: Penderita
diberitahu apabila gejala muncul kembali
supaya memeriksakan diri dengan
mengikuti prosedur tetap. Seharusnya terhadap semua penderita BTA
positif harus dilakukan pemeriksaan ulang dahak sesuai dengan
petunjuk.
Meninggal. Adalah penderita
yang dalam masa pengobatan diketahui
meninggal karena sebab apapun.
Pindah. Adalah penderita yang pindah
berobat ke daerah kabupaten/kota lain. Tindak lanjut : Penderita yang ingin
pindah, dibuatkan surat pindah dan bersama sisa obat dikirim ke UPK yang baru.
Hasil pengobatan penderita dikirim kembali ke UPK asal.
Defaulted atau Drop Out . Adalah
penderita yang tidak mengambil obat 2
bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Tindak lanjut: lacak penderita tersebut dan
beri penyuluhan pentingnya berobat secara teratur. Apabila penderita akan
melanjutkan pengobatan, lakukan pemeriksaan dahak. Bila positif mulai pengobatan dengan kategori-2;
bila negatif sisa pengobatan kategori-1 dilanjutkan.
Gagal. Penderita BTA positif yang
hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada satu
bulan sebelum akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan. Tindak lanjut :
Penderita BTA positif baru dengan kategori 1 diberikan kategori 2 mulai dari
awal. Penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2 dirujuk ke UPK
spesialistik atau berikan INH seumur hidup. Penderita BTA negatif yang hasil
pemeriksaan dahaknya pada akhir bulan ke 2 menjadi positif. Tindak lanjut:
berikan pengobatan kategori 2 mulai dari awal.
Daftar
Pustaka
Alius, C.,
Venty. 2011. Tuberkulosis Paru pada Pasien Diabetes Melitus. J Indo Med Assoc. 61 (4): 173-178.
CDHS. 2003. California
department of health services/California tuberculosis controllers association
joint guidelines guidelines for the treatment of active tuberculosis disease. California : CTCA.
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Pharmaceutical
Care Untuk Penyakit Tuberkulosis. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi II. Cetakan Pertama. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Farfan, G.,
Huang, S., Li, J., Song, J.Y., Velden, P.V., Zhang, M. 2006. “Soil Science”:
Streptomycin and the Treatment of Tuberculosis (TB). Center for BioMolecular Modeling.
Handayani, S.
2002. Respon Imunitas Seluler pada Infeksi Tuberkulosis Paru. Cermin
Dunia Kedokteran.
http://pionas.pom.go.id/monografi/streptomisin
, diakses tanggal 11 Mei 2016. http://reference.medscape.com/drug-interactionchecker
Hudoyo, A. 2010.
Jurnal Tuberkulosis Indonesia Vol.7.
Jakarta: PPTI.
Ikatan Sarjana
Farmasi Indonesia. 2002. Iso
Farmakoterapi.Jakarta : PT. ISFI Penerbitan.
Ink. 2006.
Tuberculosa Pada Anak. Skripsi.
Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Meiyanti. 2007.
Penatalaksanaan Tuberkulosis Pada Kehamilan. Majalah Farmasi. 26 (3):
143-151.
Mutschler, E.
1991. Profilaksis dan Terapi Penyakit
Infeksi dalam. Diterjemahkan Oleh Widianto, et. al. Edisi V. Jakarta: ITB.
PDDPI. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan
Tuberkulosis di Indonesia. 2006. Available URL:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.html
Tjay, T. H dan
Rahardja, K. 2002.Obat-Obat Penting.Jakarta : Elex Media Komputindo Gramedia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar