Vaksin
adalah antigen berupa
mikroorganisme yang sudah
mati, masih hidup tapi
dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang
telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid,
protein rekombinan yang bila diberikan
kepada seseorang akan menimbulkan
kekebalan spesifik secara aktif terhadap
penyakit infeksi tertentu (Dinkes, 2013). Secara garis besar, vaksin
dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu:
Bakteri atau virus hidup yang
dilemahkan (live attenuated vaccines). Vaksin ini berasal dari virus dan bakteri yang masih hidup.
Wah, jadi kita dengan sadar menyuntikkan virus hidup ke dalam tubuh! Tapi
tenang saja, tentu saja organisme ini adalah versi yang sudah dilemahkan, jadi
tidak akan berbahaya bagi tubuh kita. Contohnya adalah vaksin gondok, cacar
air, dan rubella (MMR).
Bakteri
atau virus mati (inactivated vaccines). Virus dan bakteri sengaja dimatikan saat proses pembuatan
vaksin. Tapi walaupun sudah mati, virus dan bakteri dalam vaksin ini masih
tetap bisa merangsang sistem imun tubuh kita untuk menciptakan antibodi yang
diperlukan. Contohnya adalah vaksin polio.
Sub
unit (subunit vaccines). Vaksin
ini dibuat dari bagian dari tubuh bakteri tertentu. Jadi tidak berupa bakteri
lengkap. Hanya diambil molekul yang menyebabkan penyakit saja. Contoh vaksin
jenis ini adalah hepatitis dan batuk rejan (pertussis).
Toksoid
(Toxoid Vaccines)
Jadi ada juga penyakit yang disebabkan oleh
racun yang dihasilkan oleh bakteri tertentu. Nah, vaksin jenis toksoid ini
isinya adalah racun dari bakteri tersebut, tentu saja versi yang sudah
dilemahkan. Contohnya adalah vaksin tetanus dan difteri. (Gisvold dan
Wilson,2012)
Vaksin
Toksoid
Toksoid adalah toksin yang dihilangkan
sifat toksinnya (detoksifikasi), digunakan untuk menginisiasi imunitas aktif
(yaitu membentuk suatu antitoksin). Toksoid umumnya diproduksi dengan
mereaksikan toksin dengan formaldehid. Produk ini aman dan efikasinya tidak
diragukan Contohnya adalah vaksin
tetanus toksoid dan vaksin tetanus difteri ( Tjay 2013).
Definisi
Vaksin Tetanus Toksoid (TT)
Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman
tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan (Setiawan, 2006). Tetanus
adalah penyakit serius yang disebabkan oleh Bakteri Closttridium tetani yang tinggal
di tanah, debu, barang berkarat, kotoran hewan, dsb. Tetanus disebabkan oleh
bakteri yang masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan racun yang kemudian
menyerang sistem saraf pusat.
Upaya pencegahan tetanus neonatorum
dilakukan dengan memberikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) pada ibu hamil.
Konsep imunisasi TT adalah life long imunization yaitu pemberian imunisasi
imunisasi TT 1 sampai dengan TT 5. Skema life long immunization adalah sebagai
berikut: Tiap dosis (0,5 ml). Mengandung: Tetanus Toksoid murni 10 Lf. Aluminum
fosfat 1,5 mg, Thimerosal 0,05 mg. Indikasi:
pencegahan terhadap tetanus dan perlindungan terhadap tetanus neonatorum
pada wanita usia subur. Kontraindikasi :Reaksi berat terhadap dosis vaksin TT
sebelumnya, Hipersensitif terhadap komponen vaksin, Imunisasi sebaiknya tidak
diberikan pada keadaan deman atau infeksi akut. Pada demam ringan (minor
afbrille illness) seperti infeksi ringan pada pernafasan bagian atas, imunisasi
dapat diberikan. Cara kerja: Merangsang tubuh membentuk antibody terhadap
tetanus. Cara pemberian : Vaksin dikocok terlebih dahulu sebelum digunakan,
agar suspense menjadi homogen.
Penyuntikan vaksin TT untuk mencegah
tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara
intramuscular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan
interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya.
Untuk mempertahankan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan
diberikan 5 dosis. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1
tahun setelah pemberian dosis ketiga dan keempat. Imunisasi TT dapat diberikan
secara aman selama masa kehamilan bahkan pada trimester pertama.
Di unit pelayanan statis: vaksin TT yang
belum dibuka hanya boleh digunakan selama minggu, dengan ketentuan: vaksin
belum kadaluarsa, vaksin disimpan dalam suhu 2 dan 8 derajat celcius, tidak
pernah terendam air, terjaga kesterilannya, tidak beku. Diposyandu: Vaksin yang
sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi.
Efek samping: Efek samping jarang
terjadi dan bersifat ringan. Gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada
lokasi penyuntikan dan bersifat sementara. Terkadang terjadi demam. Biasanya
hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada
tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT adalah antigen yang sangat aman dan juga
aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil
mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin dkk, 2001). Efek samping tersebut
berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak diperlukan
tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000).
Vaksin
Difteri
Anti-toksin difteria pertama kali
digunakan pada tahun 1891 dan mulai dibuat secara masal tahun 1892. Pemberian
anti-toksin dini sangat mempengaruhi angka kematian akibat difteria. Untuk
imunisasi primer terhadap difteria digunakan toksoid difteria yang kemudian
digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertussis dalam bentuk vaksin DTP. Untuk
imunisasi rutin anak dianjurkan pemberian 5 dosis pada usia 2,4,6, 15-18 bulan dan
saat masuk sekolah. Beberapa penelitian serologis membuktikan adanya penurunan
kekebalan sesudah kurun waktu tertentu dan perlunya penguatan (booster) pada
masa anak.
Komposisi: Tiap dosis (0,5 ml).
Mengandung: Toksoid tetanus murni 7,5 Lf, Toksoid difteri murni 2 Lf, Aluminum
fosfat 1,5 mg, Thimerosal 0,05 mg. Indikasi: Vaksin ini digunakan untuk
mencegah timbulnya difteri, Imunisasi
ulang terhadap tetanus dan difteri pada individu mulai usia 7 tahun.
Kontraindikasi: jangan diberikan pada anak menderita gejala-gejala berat setelah
pemberian dosis sebelumnya, seseorang yang terinfeksi HIV baik tanpa gejala
maupun dengan gejala, imunisasi DT harus berdasarkan jadwal standar tertentu, gejala-gejala
keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala serius
keabnormalan pada saraf. Cara Kerja: Merangsang tubuh membentuk antibody
terhadap difteri dan tetanus. Cara Pemberian : Pemberian dengan cara intra
muscular (IM) atau penyuntikan kedalam otot denga dosis 0,5 ml sebanyak 5 kali
pemberian.
Jadwal pemberian: Pemberian vaksin
pertama pada usia 2 bulan dan berikutnya dengan interval 4-6 minggu. Efek
samping: Biasanya setelah diberikan vaksin DT akan terjadi reaksi lokal atau
sistemik yang bersifat ringan. Kasus yang sering terjadi adalah bengkak, nyeri
di area tusukan, penebalan kemerahan di area bekas suntikan, dan tentunya anak
akan menangis lebih dari 3 jam. Kadang-kadang terjadi reaksi umum yaitu demam
dengan suhu tubuh > 38 c dan ada muntah.
Daftar
pustaka
Permenkes RI. No. 42 Tahun 2013 Tentang
Penyelenggaraan Imunisasi
Wilson, dan Gisvold. 2012. Kimia
Medisinal Organik dan kimia Farmasi. Edisi 11, Buku kedokteran EGC : Jakarta
Tjay, T. H dan Rahardja. 2013.
Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Depkes RI. 2000.gerakan partifasif
penyelamatan ibu hamil, menyusui dan bayi. Jakarta: Depkes RI
Prijanto, M., Suprijanto, E.,
Widianingrum, D., Haryanto., Wiseso, G. 2014. Efektivitas Vaksnasi Toksoid
Serap Tetanus pada Ibu-ibu Hamil dan Bayi yang dilahirkannya. Jakarta: Pusat
Penelitian Penyakit Menular

Tidak ada komentar:
Posting Komentar