Kamis, 24 November 2016

Vaksin Toxoid

 
Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu (Dinkes, 2013). Secara garis besar, vaksin dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu:

Bakteri atau virus hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccines). Vaksin ini berasal dari virus dan bakteri yang masih hidup. Wah, jadi kita dengan sadar menyuntikkan virus hidup ke dalam tubuh! Tapi tenang saja, tentu saja organisme ini adalah versi yang sudah dilemahkan, jadi tidak akan berbahaya bagi tubuh kita. Contohnya adalah vaksin gondok, cacar air, dan rubella (MMR).

Bakteri atau virus mati (inactivated vaccines). Virus dan bakteri sengaja dimatikan saat proses pembuatan vaksin. Tapi walaupun sudah mati, virus dan bakteri dalam vaksin ini masih tetap bisa merangsang sistem imun tubuh kita untuk menciptakan antibodi yang diperlukan. Contohnya adalah vaksin polio.

Sub unit (subunit vaccines). Vaksin ini dibuat dari bagian dari tubuh bakteri tertentu. Jadi tidak berupa bakteri lengkap. Hanya diambil molekul yang menyebabkan penyakit saja. Contoh vaksin jenis ini adalah hepatitis dan batuk rejan (pertussis).

Toksoid (Toxoid Vaccines)
Jadi ada juga penyakit yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri tertentu. Nah, vaksin jenis toksoid ini isinya adalah racun dari bakteri tersebut, tentu saja versi yang sudah dilemahkan. Contohnya adalah vaksin tetanus dan difteri. (Gisvold dan Wilson,2012)

Vaksin Toksoid
Toksoid adalah toksin yang dihilangkan sifat toksinnya (detoksifikasi), digunakan untuk menginisiasi imunitas aktif (yaitu membentuk suatu antitoksin). Toksoid umumnya diproduksi dengan mereaksikan toksin dengan formaldehid. Produk ini aman dan efikasinya tidak diragukan Contohnya adalah vaksin tetanus toksoid dan vaksin tetanus difteri ( Tjay 2013).

Definisi Vaksin Tetanus Toksoid (TT)
Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan (Setiawan, 2006). Tetanus adalah penyakit serius yang disebabkan oleh Bakteri Closttridium tetani yang tinggal di tanah, debu, barang berkarat, kotoran hewan, dsb. Tetanus disebabkan oleh bakteri yang masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan racun yang kemudian menyerang sistem saraf pusat.

Upaya pencegahan tetanus neonatorum dilakukan dengan memberikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) pada ibu hamil. Konsep imunisasi TT adalah life long imunization yaitu pemberian imunisasi imunisasi TT 1 sampai dengan TT 5. Skema life long immunization adalah sebagai berikut: Tiap dosis (0,5 ml). Mengandung: Tetanus Toksoid murni 10 Lf. Aluminum fosfat 1,5 mg, Thimerosal 0,05 mg. Indikasi:  pencegahan terhadap tetanus dan perlindungan terhadap tetanus neonatorum pada wanita usia subur. Kontraindikasi :Reaksi berat terhadap dosis vaksin TT sebelumnya, Hipersensitif terhadap komponen vaksin, Imunisasi sebaiknya tidak diberikan pada keadaan deman atau infeksi akut. Pada demam ringan (minor afbrille illness) seperti infeksi ringan pada pernafasan bagian atas, imunisasi dapat diberikan. Cara kerja: Merangsang tubuh membentuk antibody terhadap tetanus. Cara pemberian : Vaksin dikocok terlebih dahulu sebelum digunakan, agar suspense menjadi homogen.

Penyuntikan vaksin TT untuk mencegah tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara intramuscular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ketiga dan keempat. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada trimester pertama.

Di unit pelayanan statis: vaksin TT yang belum dibuka hanya boleh digunakan selama minggu, dengan ketentuan: vaksin belum kadaluarsa, vaksin disimpan dalam suhu 2 dan 8 derajat celcius, tidak pernah terendam air, terjaga kesterilannya, tidak beku. Diposyandu: Vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi.

Efek samping: Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan. Gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi penyuntikan dan bersifat sementara. Terkadang terjadi demam. Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin dkk, 2001). Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak diperlukan tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000).

Vaksin Difteri
Anti-toksin difteria pertama kali digunakan pada tahun 1891 dan mulai dibuat secara masal tahun 1892. Pemberian anti-toksin dini sangat mempengaruhi angka kematian akibat difteria. Untuk imunisasi primer terhadap difteria digunakan toksoid difteria yang kemudian digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertussis dalam bentuk vaksin DTP. Untuk imunisasi rutin anak dianjurkan pemberian 5 dosis pada usia 2,4,6, 15-18 bulan dan saat masuk sekolah. Beberapa penelitian serologis membuktikan adanya penurunan kekebalan sesudah kurun waktu tertentu dan perlunya penguatan (booster) pada masa anak.

Komposisi: Tiap dosis (0,5 ml). Mengandung: Toksoid tetanus murni 7,5 Lf, Toksoid difteri murni 2 Lf, Aluminum fosfat 1,5 mg, Thimerosal 0,05 mg. Indikasi: Vaksin ini digunakan untuk mencegah timbulnya difteri,  Imunisasi ulang terhadap tetanus dan difteri pada individu mulai usia 7 tahun. Kontraindikasi: jangan diberikan pada anak menderita gejala-gejala berat setelah pemberian dosis sebelumnya, seseorang yang terinfeksi HIV baik tanpa gejala maupun dengan gejala, imunisasi DT harus berdasarkan jadwal standar tertentu, gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala serius keabnormalan pada saraf. Cara Kerja: Merangsang tubuh membentuk antibody terhadap difteri dan tetanus. Cara Pemberian : Pemberian dengan cara intra muscular (IM) atau penyuntikan kedalam otot denga dosis 0,5 ml sebanyak 5 kali pemberian.

Jadwal pemberian: Pemberian vaksin pertama pada usia 2 bulan dan berikutnya dengan interval 4-6 minggu. Efek samping: Biasanya setelah diberikan vaksin DT akan terjadi reaksi lokal atau sistemik yang bersifat ringan. Kasus yang sering terjadi adalah bengkak, nyeri di area tusukan, penebalan kemerahan di area bekas suntikan, dan tentunya anak akan menangis lebih dari 3 jam. Kadang-kadang terjadi reaksi umum yaitu demam dengan suhu tubuh > 38 c dan ada muntah.

Daftar pustaka
Permenkes RI. No. 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi
Wilson, dan Gisvold. 2012. Kimia Medisinal Organik dan kimia Farmasi. Edisi 11, Buku kedokteran EGC : Jakarta
Tjay, T. H dan Rahardja. 2013. Obat-Obat  Penting.  Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Depkes RI. 2000.gerakan partifasif penyelamatan ibu hamil, menyusui dan bayi. Jakarta: Depkes RI
Prijanto, M., Suprijanto, E., Widianingrum, D., Haryanto., Wiseso, G. 2014. Efektivitas Vaksnasi Toksoid Serap Tetanus pada Ibu-ibu Hamil dan Bayi yang dilahirkannya. Jakarta: Pusat Penelitian Penyakit Menular

Tidak ada komentar:

Posting Komentar