Berdasarkan mekanisme reaksi imunologik yang terjadi,
Gell dan Coombs membagi reaksi hipersensitivitas menjadi 4 golongan yakni
reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III dan IV. Reaksi tipe I, II, III, dan IV
terjadi karena interaksi antara antigen dengan reseptor yang terdapat pada
permukaan limfosit . Sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk timbulnya
reaksi, reaksi tipe I, II, III, dan IV disebut reaksi tipe segera (immediate)
karena berlangsung cepat terjadi hanya dalam jarak waktu beberapa menit
sedangkan yang tipe IV disebut reaksi tipe lambat (delayed type
hypersensitivity reaction) karena reaksi berlangsung lebih lambat
dibandingkan tipe yang lain, yaitu umumnya lebih dari 12 jam.
Reaksi Hipersensitivitas: Reaksi tipe I yang disebut juga
reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi timbul segera setelah
tubuh terpajan dengan alergen. Pada reaksi tipe I, alergen yang masuk ke dalam
tubuh menimbulkan respon imun berupa produksi IgE dan penyakit alergi seperti
rinitis alergi, asma, dan dermatitis atopi. Reaksi tipe II atau reaksi
sitotoksik atau sitotoksik terjadi karena dibentuk antibodi jenis IgG atau IgM
terhadap antigen yang merupakan bagian dari sel pejamu. Reaksi tipe III disebut juga reaksi
kompleks imun, terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam
sirkulasi/pembuluh darah atau jaringan dan mengaktifkan komplemen. Reaksi hipersensitivitas tipe IV
dibagi dalam DTH (Delayed Type Hypersensitivity) yang terjadi melalui sel
CD4+ dan T cell Mediated Cytolysis yang terjadi melalui sel CD8.
Reaksi
hipersensitivitas tipe I dibagi menjadi 2 yaitu alergi dan pesudoalergi ( anafilaktoid). Alergi
adalah suatu perubahan daya reaksi tubuh terhadap kontak pada suatu zat (
allergen ) yang memberi reaksi terbentuknya antigen dan antibodi sedangkan pseudoalergi / anafilaktoid adalah reaksi sistemik umum yang melibatkan
penglepasan mediator oleh sel mast yang terjadi tidak melalui IgE. Secara
klinis reaksi ini menyerupai reaksi tipe 1 yaitu syok, urtikaria, bronkospasme,
anafilaksis tetapi tidak berdasarkan atas reaksi imun. Reaksi ini tidak
memerlukan pajanan terlebih dahulu untuk menimbulkan sensitasi. Reaksi
anafilaktoid dapat ditimbulkan antimikroba, protein, kontras dengan yodium, penisilin,
pelemas otot, dll.
Patofisiologi
Alergi
Gejala
alergi timbul apabila IgE melekat pada permukaan mastosit atau basophil
bereaksi dengan alergen yang sesuai. Interaksi antara alergen dengan IgE yang
menyebabkan ikatan silang antara 2 reseptor yang mengakibatkan degranulasi sel
dan penglepasan substansi-substansi tertentu misalnya histamin, vasoactive
amine, prostaglandin, tromboksan, bradikinin. Degranulasi dapat terjadi kalau
terbentuk ikat-silang akibat reaksi antara IgE pada permukaan sel dengan
anti-IgE. Histamin melebarkan dan meningkatkan
permeabilitas vaskular serta merangsang kontraksi otot polos dan kelenjar
eksokrin. Di saluran nafas, histamin merangsang kontraksi otot polos sehingga
menyebabkan penyempitan saluran nafas dan menyebabkan membran saluran nafas
membengkak serta merangsang ekskresi lendir pekat secara berlebihan. Hal ini
mengakibatkan saluran nafas tersumbat, sehingga terjadi asma, sedangkan pada
kulit, histamin menimbulkan benjolan (urtikaria) yang berwarna merah (eritema)
dan gatal karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan pelebaran
pembuluh darah. Pada gastrointestinal, histamine menimbulkan reflek muntah dan
diare.
Pada
seseorang yang mengalami alergi terjadi peningkatan eosinofil relatif karena
disertai dengan penurunan basofil akibat banyaknya terjadi degranulasi,
eosinofil sendiri menghasilkan histaminase dan aril sulfatase. Histaminase yang
dihasilkan ini berperan dalam mekanisme pembatasan atau regulasi
histamin, sehingga pada pasien dengan kasus alergi yang berat, jumlah eosinofil
akan sangat meningkat melebihi normal.
Ada
beberapa jenis penyebab alergi yaitu: Defisiensi limfosit T yang
mengakibatkan kelebihan IgE. Kelainan pada mekanisme umpan balik
mediator. Faktor genetik. Anak-anak, terutama bayi, lebih
rentan mengalami alergi dikarenakan faktor genetik, karena maturitas barrier
imunitas dari ibunya belum sempurna, sehingga belum dapat melindungi tubuh
dengan maksimal, namun alergi dapat membaik karena maturitas enzim dan barier
yang berjalan seiring dengan bertambahnya umur. Hal ini juga dapat terjadi
akibat faktor polimorfisme genetik antibodi yang aktif pada waktu tertentu,
sehingga menentukan kepekaan terhadap alergen tertentu. Faktor lingkungan. Obat.
Anafilaktik (IgE dependent)
|
|
Antibiotik:
Penisilin dan derivatnya
Basitrasin
Neomisin
Tetrasiklin
Streptomisin, dll
Bahan yang sering dipergunakan untuk prosedur diagnosis:
Zat radioopak
Bromsulfalein
Benzilpenisiloil-polilisin
Bisa (racun):
Ular
Semut api
Lebah
Kumbang
|
Ekstrak alergen:
Rumput-rumputan atau jamur
Serum (ATS, ADS, Anti bisa ular)
Darah
Lengkap
Produk
Gamaglobulin
Kriopresipitat
Serum
Imunoglobulin i.v.
Makanan
Susu sapi
Kerang
Kacang-kacangan
Ikan
Telur
Udang
Lateks
|
Secara umum alergi digolongkan
menjadi beberapa macam golongan yaitu.
Alergi atropik:
reaksi hipersensitivitas I pada individu yang secara genetic menunjukkan
kepekaan terhadap allergen dengan memproduksi IgE secara berlebihan. Alergi
obat : reaksi imunologi yang berlebihan atau tidak
tepat terhadap obat tertentu. Dermatitis
kontak: Reaksi hipersensitivitas IV yang
disebabkan oleh zat kimia atau substansi lain misalnya kosmetik, makanan, dan
lain lain
Pseudoalergi
Reaksi
pseudoalergi atau anafilaktoid adalah reaksi sistemik imun yang melibatkan
penglepasan mediator oleh sel mast yang terjadi tidak melalui IgE. Pseudoalergi
tidak berhubungan dengan produksi antibodi / sintesis limfosit T tetapi di sisi
lain secara klinis dapat dibedakan dengan reaksi hipersensitivitas. Selama reaksi
pseudoalergi, obat tidak berfungsi sebagai antigen, tetapi obat memiliki kemampuan
dari sifat kimia atau farmakologinya untuk menstimulasi langsung pelepasan / aktivasi dari mediator inflamasi dari sel
mast, basophil, atau jaringan tubuh lainnya.
Mekanisme
pseudoalergi merupakan mekanisme jalur efektor non imun.
Anafilaktoid (IgE Independent)
|
|
Aktivasi komplemen multimediator – aktivasi sistem kontak
Media radiokontras
Angiotensin-converting enzyme inhibitor yang diberikan selam dialisis
ginjal
Etilen oksida
Protamin
Degranulasi sel mast dan basofil nonspesifik
Opioid
Pelemas otot
Idiopatik
|
Faktor fisik
Olahraga
Suhu (dingin atau panas)
Immune aggregates
Imunoglobulin intravena
Dekstran
Sitotoksik
Reaksi transfusi terhadap elemen seluler (IgG, IgM)
Psikogenik
Zat artifisial
Anafilaksis idiopatik
|
Reaksi
non imun yang tidak dapat diprediksi diklasifikasikan dalam pseudoalergi,
idiosinkrasi atau intoleransi. Reaksi pseudoalergi merupakan hasil aktivasi sel
mast secara langsung, tidak melibatkan IgE spesifik dan degranulasi oleh agen
seperti opiat, koloidekspander, polipeptida, antiinflamasi non-steroid
dan media radiokontras. Reaksi yang bersifat non imun ini dapat terjadi
saat pertama kali paparan. Reaksi idiosinkrasi hanya terjadi pada sebagian
kecil populasi, seperti hemolisis yang diinduksi obat pada orang dengan
defisiensi glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) .Intoleransi obat
merupakan ambang batas yang lebih rendah terhadap aksi farmakologi obat,
seperti terjadinya tinnitus setelah pemberian aspirin. Secara klinis reaksi ini
menyerupai reaksi Tipe I seperti syok, urtikaria, bronkospasme, anafilaksis,
pruritus, tetapi tidak berdasarkan atas reaksi
imun. Manifestasi klinisnya sering serupa, sehingga sulit dibedakan satu dari lainnya.
Reaksi ini tidak memerlukan pajanan terdahulu untuk menimbulkan sensitasi. Reaksi
anafilaktoid dapat ditimbulkan antimikroba, protein, kontras dengan yodium,
AINS, etilenoksid, taksol, penisilin dan muscle relaxan.
Perbedaan Alergi/Anafilaksis dengan Pseudoalergi
Alergi
|
Pseudoalergi (anafilaktoid)
|
Perlu
sensitasi
|
Tidak
perlu sensitasi
|
Reaksi
setelah paparanberulang
|
Reaksi
pada paparan pertama
|
Jarang (
<5% )
|
Sering (
>5% )
|
Gejala
klinis khas
|
Gejala
tidak khas
|
Dosis
pemicu kecil
|
Tergantung
dosis (tergantung kecepatan pemberian infuse)
|
Ada
kemungkinan riwayat keluarga
|
Tidak ada
riwayat keluarga (kecuali efek enzim)
|
Pengaruh
fisiologi sedang
|
Pengaruh
fisiologi kuat
|
Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala klinis anafilaksis / anafilaktoid
|
Kutan / subkutan / jaringan mukosa
Flushing, pruritus, urtikaria, angioedema, ruam morbiliform
Pruritus pada bibir, lidah, palatum; edema pada bibir,
lidah dan uvula
Pruritus periorbita, eritema dan edema, eritema
konjungtiva
|
Saluran pernafasan
Laring: pruritus dan nyeri tenggorokan, disfagia, disfoni,
suara serak, pruritus di kanalis aurikularis eksterna
Paru-paru: nafas pendek, dispnea, rasa berat di dada,
batuk, mengi / bronkospasme (penurunan PEF)
Hidung: Pruritus, hidung tersumbat, hidung berair, bersin
|
Kardiovaskular
Hipotensi: Near syncope, pingsan, penurunan kesadaran
Nyeri dada, disritmia
|
Gastrointestinal
Mual, nyeri atau kram perut, muntah, diare
|
Lain-lain
Kontraksi uterus pada wanita
|
Diagnosis
Anamnesis. Evaluasi kecurigaan terhadap alergi
obat dimulai dengan riwayat penyakit dan terapi secara rinci. Infeksi yang
ditanyakan termasuk daftar semua terapi yang diberikan, meliputi dosis,
indikasi, tanggal pemberian & lamanya pemberian terapi tersebut. Dari
anamnesis akan diketahui bahwa gejala klinis menghilang beberapa waktu setelah
penghentian obat, dan reaksi yang sama timbul kembali dengan pemberian ulang
obat yang sama atau dengan struktur sama. Dari anamnesis dapat dibedakan antara
alergi obat dengan reaksi toksik dan pseudoalergi ataupun idiosinkrasi.
Misalnya gejala gastrointestinal setelah menelan antibiotika, nyeri pada tempat
suntikan obat, atau sakit kepala setelah pengobatan nitrogliserin diperkirakan
bukan berdasarkan reaksi imunologik.
Pemeriksaanfisik. Pada pemeriksaan fisik perlu dicari
tanda bahaya yang dapat mengancam nyawa, seperti kolaps kardiovaskular,
termasuk urtikaria, edema laring atau saluran nafas atas, wheezing dan
hipotensi. Adanya demam, lesi mukosa membran, limfadenopati, nyeri sendi dan
bengkak yang menandakan reaksi alergi yang berat.
Masing-masing
bentuk lesi kulit dapat mengarah pada reaksi kulit yang berbeda: Erupsi
morbiliformis eksantem merupakan ruam obat klasik. Urtikaria, lebih mengarah pada
respon imun yang diperantarai antibodi IgE atau stimulasi sel mast secara
langsung. Purpura dan petekiae merupakan
stigmata kutaneus dari vaskulitis atau trombositopenia yang diinduksi obat. Lesi makulopapular di jari tangan
dan kaki atau distribusi serpiginosa di lateral telapak kaki menunjukkan serum
sickness. Lesi target yang terdiri dari papul
eritematosa di sentral, dengan cincin di perifer yang edema dan eritematosa
menunjukkan eritema multiforme. Pada bentuk yang lebih luas dapat menjadi lesi
yang melepuh dan melibatkan mukosa membrane. Variasi lesi papul eritematosa atau
area pigmentosa sampai lesi papulovesikular bulosa atau urtikaria dapat
menunjukkan erupsi obat fikstum. Lesi papulovesikular dan berskuama dengan adanya riwayat obat
topikal dapat menunjukkan dermatitis kontak. Ruam ezkema pada area yang terpapar
matahari lebih mengarah pada reaksi fotoalergik.
Pemeriksaan Penunjang: Pemeriksaan darah. Uji Coomb untuk penderita anemia. Antibodi IgE total serum. Antibodi IgE spesifik dalam RAST (Radioallergosorbent
test). Antibodi IgM dan IgG spesifik. Antibodi antinuklear (ANA) pada SLE yang diduga diinduksi
oleh obat-obatan. Uji kulit, uji tusuk (Prick test/Scratch
test) dan uji
tempel (Patch test). SGOT. CPK (fosfokinase kreatin). LDH (dehidrogenase laktat). Foto toraks. Emfisema (hiperinflasi), atelektasis
atau edema paru. EKG. Perubahan EKG bersifat sementara
(kecuali pada infark miokardium. Depresi gelombang S-T. Bundle branch block. Fibrilasi atrium. Berbagai aritmia ventricular.
Kriteria umum reaksi alergi / pseudoalergi: Gejala pasien sesuai dengan reaksi
imunologi terhadap obat. Pasien mendapatkan obat yang memang
dapat memberikan gejala alergi (struktur kimia obat memang telah dikaitkan
dengan reaksi imun). Terdapat hubungan temporal antara pemberian obat dengan
timbulnya gejala reaksi alergi. Tidak ada penyebab lain yang jelas
terhadap manifestasi klinis pasien yang sedang menggunakan obat tertentu yang
memang dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas. Data laboratorium menunjang
mekanisme imunologi yang dapat menjelaskan reaksi obat.
Terapi
Farmakologi
Adrenalin
Adrenalin
termasuk golongan adrenergik yang akan meningkatkan konsentrasi cAMP dalam
mastosit sehingga terjadi hambatan degranulasi, selain itu adrenalin mempunyai
khasiat terhadap sel sasaran, yaitu: (1) Perangsangan terhadap pembuluh darah
kulit, selaput lendir dan terhadap kelenjar liur (2) Mengendurkan otot polos
usus, bronkhus dan pembuluh darah otot rangka (3) Perangsangan jantung dengan akibat peningkatan
denyut jantung, kekuatan kontraksinya dan tekanan darah. (4). Perangsangan
pusat-pusat pengaturan di otak, misalnya pernafasan. Kesemuanya ini kalau
disimpulkan akan mengurangi gejala-gejala renjatan anafilaktik.
Dosis: epinefrin 0,01 ml/kgBB s.k./i.m. (larutan 1:1000), bila
perlu ulangi dengan interval 15-30 menit. Bila syok/kolaps vaskular 0,01-0,05
ml/kgBB, i.v. (larutan 1:10.000), suntikan perlahan-lahan (1-2 menit). Bila penyebabnya suntikan adrenalin
0,1–0,2 ml (larutan 1:1000) s.k. pada daerah suntikan, untuk mengurangi
absorpsi antigen
Efek samping: Angina, anxietas, sakit kepala,
mual, takikardi, dyspnea
Antihistamin
Antihistamin merupakan kelompok
obat-obatan yang berkerja menghambat histamin yang dihasilkan oleh mastosit.
Dosis: Difenhidramin diberikan dengan dosis
0,5 mg/kg/dosis 3 kali/24 jam. CTM diberikan dengan dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24
jam. Setirizin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5
tahun: 2.5 mg/dosis, 1 kali/hari; > 6 tahun : 5-10 mg/dosis, 1 kali/hari. Loratadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5
tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; > 6 tahun : 10 mg/dosis, 1 kali/hari.
Feksofenadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30
mg/hari, 2 kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180mg/hari,
4kali/hari.
Efek
samping
: sedasi, mucosa mulut kering, anemia hemolitik, efek antikolinergik,
trombositopenia, vertigo, anoreksia
Golongan
Xanthin
Aminofilin. Pada bronkospasme berikan aminofilin
4-7 mg/kgBB, larutkan dalam dekstrosa 5% paling sedikit sama banyak, suntikan
i.v. secara lambat (15-20 menit). Bila belum teratasi dilanjutkan perinfus
dengan kecepatan 0,2-1,2 mg/kgBB/jam atau 4-5 mg/kgBB i.v selama 20-30 menit
setiap 6 jam, bila memungkinkan, monitor kadar aminofilin darah.
Teofilin. Teofilin termasuk kelompok xantin
yang mempunyai khasiat mengatasi renjatan anafilaktis. Mekanisme kerjanya
melalui mastosit dan sel sasarannya seperti halnya adrenalin. Teofilin
menghambat kerja enzim fosfodiesterase yang akan merusak cAMP, sehingga kadar
cAMP akan meningkat akibatnya degranulasi mestosit dihambat. Selain itu
teofilin akan bekerja pada pusat pernafasan dan otot-otot bronkhus, lebih-lebih
otot-otot bronkhus dalam keadaan kontraksi sehingga mampu mengrangi gejala-gejala
renjatan anafilaktik.
Dosis: 5-7 mg/ kg secara IV atau PO. Efek
samping
: diare, mual, muntah, takikardi
Kortikosteroid
Kortikosteroid merupakan kelompok
obat-obatan yang paling banyak dipakai pada penyakit radang dan penyakit
imunologik. Kortikosteroid mempunyai efek menghambat radang, disamping
menghambat respons imun dan menstabilkan dinding mastosit. Dengan menghambat
respons imun mungkin dapat menghambat sintesis IgE.
Dosis: Prednison diberikan sebagai dosis
awal adalah 1-2 mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari sampai keadaan stabil
kira-kira 4 hari kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4
kali/hari dalam 4-10 hari. Steroid parenteral yang digunakan
adalah metil prednisolon atau hidrokortison dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap
4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul rumatan prednison oral. Efek samping: Moon face
Cairan Intravena
Cairan intravena untuk mengatasi
syok berikan larutan NaCl fisiologis dan glukosa 5% dengan perbandingan 1:4, 30
ml/kgBB sampai syok teratasi paling lama 2 jam. Setelah syok teratasi, infus
diteruskan sesuai berat badan dan umur anak. Cairan dan elektrolit dipenuhi
dengan pemberian dekstrosa 5% dalam 0,225% NaCl atau dekstrosa 5% dalam 0,45%
NaCl dengan jumlah rumatan dan dehidrasi yang ada.
Bila gejala klinis berat (dermatitis
eksfoliatif, nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson, vaskulitis,
kelainan paru, kelainan hematologik) harus diberikan kortikosteroid serta
pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan elektrolit, transfusi,
antibiotik profilaksis). Perawatan lokal segera dilakukan untuk mencegah
perlekatan, sikatriks, atau kontraktur melalui konsultasi dan kerjasama
interdisiplin dengan bagian terkait (mata, kulit, bedah).
Pada reaksi pseudoalergi seperti pewarnaan radiokontras dapat diberikan terlebih dahulu obat sebelum prosedur pemeriksaan, seperti kortikosteroid, antihistamin dan atau efedrin. Pencegahan reaksi alergi obat merupakan langkah terpenting dalam penatalaksanaan. Penggunaan obat yang sering memberikan reaksi alergi, seperti antibiotik, harus diberikan sesuai indikasi. Pemberian obat secara oral lebih sedikit memberikan reaksi alergi dibandingkan parenteral atau topikal. Pemberian obat parenteral harus ditunjang dengan ketersediaan epinefrin atau sarana gawat darurat lain.
KIE
Anamnesis teliti mengenai alergi
obat. Penderita menunggu 30 menit sesudah
pemberian obat. Penggunaan
antibiotik atau obat lain harus atas indikasi, kalau mungkin berikanlah p.o.
daripada suntikan. Bacalah label obat dengan teliti. Kalau diperlukan anti serum,
pergunakanlah preparat serum manumur. Lakukanlah tes kulit atau tes
konjungtiva. Bila
alergi terhadap obat, harus mempunyai catatan mengenai macam/jenis obat
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Dipiro,
J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M. 2009. Pharmacotherapy:
A Pathophysiologic Approach 7th Ed., New York: McGraw-Hill.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi,
Ed. 3. Jakarta: EGC
Brooks,
Geo F. Butel, Janet S. Morse, Stephen A. 2005. Mikrobiologi Kedokteran
Edisi 21. Jakarta: Salemba Medika
Coombs
RRA, Gell PGH. Classification of allergic reactions responsible for clinical
hypersensitivity and disease. Clin Aspects Immunol. 1968;575-96.
Green
JJ, Manders SM. Pseudoporphyria. J Am Acad Dermatol. Jan 2001;44(1):100-8
Revuz
J, Valeyrie-Allanore L. Drug reactions. In: Dermatology. Vol 1. Philadelphia,
Pa: Mosby; 2003:. 333-53
Shapiro
LE, Shear NH. Mechanisms of drug reactions: the metabolic track. Semin Cutan
Med Surg. Dec 1996;15(4):217-27
Sampson
HA, Leung DY. Anaphylaxis. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB,
penyunting. Nelson textbook of pediatric. Edisi ke-18.Philadelphia: WB Saunders
Co; 2004. h. 983-5.
Lieberman
P, et al. The diagnosis and management of anaphylaxis: An updated
practice parameter. J Allergy Clin Immunol. 2005;115:S483-523
Kemp
SF, Lockey RF. Anaphylaxis: A review of causes and mechanisms. J Allergy Clin
Immunol. 2002;110:341-8
Subowo,
Imunologi Klinik , Ed. 1, Angkasa Bandung 1993. h. 9-36

Tidak ada komentar:
Posting Komentar