Gangguan kecemasan
(ansietas) meliputi suatu kumpulan gangguan,
dimana kecemassan (ansietas) dan gejala lainnya yang terkait, dan
yang tidak rasional dialami pada suatu tingkat
keparahan sehingga mengganggu aktivitas / pekerjaan. Ciri-ciri khasnya yaitu
perasaan cemas dan sifat menghindar.
Patofisiologi
Model noradrenergik,
model ini menunjukkan bahwa system saraf otonomik pada penderita ansietas,
hipersensitif dan bereaksi berlebihan terhadap berbagai rangsangan. Locus
keruleus mempunyai peranan dalam mengatur ansietas, yaitu dengan mengaktivasi
pelepasan norepinephrinen (NE) dan merangsang system saraf simpatik dan
parassimpatik. Aktivitas berlebihan noradrenegik yang kronik menurunkan jumlah
aZ adrenoreseptor pada penderita gangguan kecemasan umum/generalized anxiety disorder (GAD) dan gangguan stress pasca
trauma/ posttraumatic stress disorder
(PTSD). Pasien dengan gangguan kecemasan social/ social anxiety disorder (SAD) nampaknya mempunyai respon
adrenokortikal yang berlebihan terhadap tekanan psikologis/kejiwaan.
Model reseptor asam
y-aminobutyrate (GABA). GABA adalah neurotransmitter inhibitor utama di sistem
saraf pusat (SSP). Umumnya target/sasaran obat-obat antiansietas adalah
reseptor GABAA. Benzodiazepin (BZ) meningkatkan atau mengurangi efek
penghambatan GABA, dimana BZ mempunyai efek pengontrolan atau penghambatan yang
kuat pada system serotonin (5-HT), NE, dan dopamine (DA). Gejala ansietas
mungkin berhubungan dengan penurunan aktivitas sistem GABAatau penurunan jumlah
reseptor pusat BZ. Pada penderita GAD, ikatan BZ di lobus temporalis kiri
dikurangi. Sensitivitas abnormal terhadap sifat antagonistempat ikatan BZ dan
pengurangan ikatan ditunjukkan pada kondisi gangguan kepanikan/ panic disorder. Respon hormone
pertumbuhan (growth hormone) terhadap
baclofen pada penderita SAD pada umumnya menunjukkan adanya ketidaknormalan
pada fungsi reseptor GABAB pusat. Ketidaknormalan penghambatan GABA
dapat menyebabkan peningkatan respon terhadap tekanan/ stress pada penderita
PTSD.
Model serotonin (5-HT),
gejala-gejala GAD menggambarkan transmisi 5-HT yang berlebihan atau rangsangan
berlebihan pada jalur stimulasi 5-HT. Pasien SAD mempunyai respon prolaktin
yang lebih besar terhadap rangsangan Buspiron; menunjukkan peningkatan respon
serotonergik pusat. Peran 5-HT pada gangguan kepanikan tidak jelas, tetapi
mungkin berperan pada perkembangan anticipatory
anxiety. Data awal menunjukkan bahwa 5-HT dan 5-HTZ metaklorofenilpiperasin
(mCPP) antagonis menyebabkan peningkatan ansietas pada penderita PTSD.
Penderita PTSD
mengalami hipersekresi factor pelepasan kortikotropin, tetapi menunjukkan
tingkat kortisol yang subnormal pada saat trauma dan berlangsung kronik.
Gangguan pengaturan di hipotalamus-pituitarui-adrenal merupakan faktor resiko
perkembangan akhir PTSD.
Penelitian neuroimaging
fungsional menunjukkan bahwa bagian depan dan posterior (occipital) otak merupakan bagian penting dalam respon ansietas.
Penderita gangguan kepanikan memiliki aktivassi abnormal pada daerah
parahippocampal dan korteks prefrontal dalam keadaan istirahat. Panik kecemasan
berhubungan dengan aktivasi batang otak dan daerah ganglia basal. Penderita GAD
mengalami peningkatan abnormal aktivitas kortikal dan penurunan aktivitas
ganglia basal. Pada penderita SAD, mungkin terdapat ketidaknormalan di
amigdala, hippocampus dan beberapa daerah kortikal. Rendahnya volume
hippokampal pada penderita PTSD mungkin merupakan prekusor perkembangan lanjut
PTSD.
Manifestasi
Klinik
Gangguan
kecemasan umum/ Generalized Anxiety
Disorder (GAD). Gejala klinis GAD
ditunjukkan pada tabel 1. Kriteria diagnosis ditegakkan melalui gejala-gejala
yang menetap pada kebanyakan hari selama minimal 6 bulan. Perasaan cemas atau
khawatir harus merupakan salah satu masalah dan disertai dengan minimal tiga
gejala psikologis. Gangguan/penyakit ini mulai muncul pada usia rata-rata 21
tahun. Perjalanan penyakit ini berlangsung kronis, disertai beberapa kejadian
gejala-gejala penyakit memburuk dan membaik secara spontan. GAD mempunyai
persentase kekambuhan yang tinggi dan kecepatan pemulihan kembali yang rendah.
Gangguan kepanikan / Panic Disorder. Umumnya gejala dimulai
dengan rangkaian serangan panic (panic
attack) yang tidak diduga. Hal ini diikuti dengan kekakuan terus menerus
minimal 1 bulan akan munculnya serangan panik yang lain.
Gangguan kecemasan sosial
/ Social Anxiety Disorder (SAD). Ciri-ciri
utama SAD adalah perasaan takut yang kuat, irasional, dan terus menerus akan
dinilai negatif dalam kehidupan sosial atau penampilannya. Paparan terhadap
situasi yang ditakuti biasanya menimbulkan serangan panik.
Fobia spesifik / Specific Phobia. Ciri
khas utama yaitu ketakutan yang luar biasa dan terus menerus terhadap obyek
atau situasi tertentu, seperti hujan angin ributbdisertai petir dan guruh,
hewan atau ketinggian. Penderita-penderita ini tidak mengalami gangguan serius
dalam kehidupan kesehariannya karena merekahanya perlu menghindari objek-objek
yang ditakuti. Fobia spesifik tidak dapat diatasi dengan terapi obat, tetapi
lebih member respon terhadap terapi perilaku / psikologis.
Gangguan stres pasca
trauma / post traumatic stress disorder (PTSD). Pada PTDS, paparan
terhadap suatu kejadian yang traumatik dengan segera menyebabkan rasa takut
yang hebat, tidak berdaya, atau ngeri.
Diagnosis
Evaluasi terhadap
penderita ansietas memerlukan pemeriksaan fisik dan mental yang lengkap;
pemeriksaan laboratorium yang tepat, dan riwayat penyakit, kejiwaan dan
pengobatan. Gejala kecemasan
dapat muncul pada beberapa penyakit kejiwaan utama (contoh: gangguan mood,
skizofrenia, sindrom organic mental,
penghentian penggunaan obat-obatan).
Terapi
Tujuan
terapi. Tujuan
pengobatan GAD adalah untuk menurunkan tingkat keparahan, lamanya dan
frekuensinya kekambuhan gejala dan untuk meningkatkan kemampuan umum penderita
secara keseluruhan.
Tujuan pengobatan
gangguan kepanikan/panic disorder meliputi meniadakan serangan panic (tidak
selalu tercapai), menurunkan secara signifikan kecemasan yang berulang dan
ketakutan fobia, dan mengembalikan aktivitas normal penderita.
Tujuan pengobatan SAD
adalah untuk menurunkan gejala-gejala psikologi dan menghindarkan fobia dan
meningkatkan keterlibatan dalam aktivitas social yang diminati.
Tujuan pengobatan PTSD
adalah untuk menurunkan gejala-gejala utama, ketidakmampuan, dan komorbiditas
dan meningkatkan kualitas hidup dan kemmpuan untuk mengatasi stress.
Obat-obat yang
berhubungan dengan gejala kecemasan
Antikonvulsi
: karbamazepin
Antidepresan
: penghambat ambilan kembali serotonin secara selektif (SSRI), antidepresan
trisiklik (TCA)
Antihipertensi
: felodipin
Antibiotik
: kuinolon, isoniazid
Bronkodilator
: albuterol, teofilin
Kortikosteroid
: prednisone
Agonis
dopa : levodopa
Herbal
: ma huang, gingseng, efedra
Obat
antiinflamasi nonsteroid : ibuprofen
Stimulan
: amfetamin, metilfenidat, kafein, kokain
Simpatomimetik
: pseudoefedrin
Hormon
tiroid : levotiroksin
Toksisitas
: antikolinergik, antihistamin, digoxin
Penghentian
: alkohol sedatif
|
Pendekatan
umum
Gangguan
kecemasan umum (GAD). Metode terapi non
farmakologi meliputi jangka pendek, manajemen stress, terapi kognitif,
meditasi, terapi pendukung dan olahraga. Penderita GAD harus diedukasi untuk
menghindari kafein, stimulant, konsumsi alcohol yang berlebihan dan obat-obat
diet. Terapi kognitif sikap merupakan terapi psikologis yang paling efektif
untuk penderita GAD, dan pada umumnya penderita GAD memerlukan terapi
psikologi, baik terapi psikologi saja atau dikombinasi dengan obat-obat anti
kecemasan.
Pilihan
obat untuk gangguan kecemasan
Gangguan kecemasan
|
Obat lini pertama
|
Obat lini kedua
|
Alternatif
|
Gangguan kecemasan
|
Venlafaxin XR
|
Benzodiazepine
|
Hidroksizin
|
umum
|
Paroksetin
|
Imipramin
|
|
Escitalopram
|
Buspiron
|
||
Gangguan kepanikan
|
SSRI
|
Imipramin
|
Fenelzin
|
Klomipramin
|
|||
Alprazolam
|
|||
Klonazepam
|
|||
Gangguan kecemasan
|
Paroksetin
|
Citalopram
|
Buspiron
|
social
|
Sentralin
|
Escitalopram
|
Gabapentin
|
Venlafaxin XR
|
Fluvoksamin
|
Fenelzin
|
|
Klonazepam
|
DAFTAR PUSTAKA
American
Pharmacist Association., 2014-2015, Drug
Information Handbook, 24thedition, Lexi Comp, USA.
Almi,
D.U., 2013, Hematemesis Melena Et Causa Gastritis
Erosif Denganriwayat Penggunaan Obat Nsaid Pada Pasien
Laki-Lakilanjut Usia, Jurnal,
Universitas Lampung.
Davey
P, 2006. Hematemesis & Melena: dalam At a Glance Medicine. Jakarta:
Erlangga. Hlm 36-7
Depkes, 2009, Profil
kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007, Laporan, Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar