Infeksi Menular Seksual
(IMS) didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya invasi
organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar menular
melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesama jenis. Terdapat
lebih kurang 30 jenis mikroba(bakteri, virus, dan parasit) yang dapat
ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan
adalah infeksi gonorrhea, chlamydia, syphilis,trichomoniasis, chancroid,
herpes genital, infeksi human immunodeficiensy virus (HIV)
dan hepatitis B. HIV dan syphilis juga dapat ditularkan
dari ibu ke anaknya selama kehamilan dan kelahiran, dan juga melalui
darah serta jaringan tubuh (WHO,2009).
Etiologi
Penyakit menular
seksual dapat diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, yakni: Dari
golongan bakteri, yakni Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum,
Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Gardnerella
vaginalis, Salmonella sp, Shigella sp, Campylobacter sp, Streptococcus group B,
Mobiluncus sp. Dari golongan
protozoa, yakni Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Giardia
lamblia. Dari golongan virus, yakni Human Immunodeficiency Virus(tipe 1
dan 2), Herpes Simplex Virus (tipe 1 dan 2), Human papiloma Virus, Cytomegalovirus,
Epstein-barr virus, Molluscum contagiosum virus. Dari golongan ektoparasit,
yakni Phthirus pubis dan Sarcoptes scabei
Patofisiologi
Bila
tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan,
sakit berkepanjangan, kemandulan dan bahkan kematian. Wanita lebih beresiko
untuk terkena PMS lebih besar daripada laki-laki sebab mempunyai alat
reproduksi yang lebih rentan. Dan seringkali berakibat lebih parah karena
gejala awal tidak segera dikenali, sedangkan penyakit melanjut ke tahap lebih
parah. Oleh karena letak dan bentuk kelaminnya yang agak menonjol, gejala PMS
pada laki-laki lebih mudah dikenali, dilihat, dan dirasakan. Sedangkan pada
perempuan sebagian besar gejala yang timbul hampir tak dapat dirasakan.
Cara
penularan Penyakit Menular Seksual ini terutama melalui hubungan seksual yang
tidak terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral. Cara penularan lainnya
secara perinatal, yaitu dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, saat
kelahiran ataupun setelah lahir. Bisa melalui transfuse darah atau kontak
langsung dengan cairan darah atau produk darah. Dan juga bisa melalui
penggunaan pakaian dalam atau handuk yang telah dipakai penderita Penyakit
Menular Seksual(PMS).
Perilaku
seks yang dapat mempermudah penularan PMS adalah: Berhubungan seks yang tidak
aman (tanpa menggunakan kondom). Gonta-ganti pasangan seks. Prostitusi. Melakukan
hubungan seks anal (dubur), perilaku ini akan menimbulkan luka atau radang
karena epitel mukosa anus relative tipis dan lebih mudah terluka disbanding
epitel dinding vagina. Penggunaan pakaian dalam atau handunk yang telah dipakai
penderita PMS.
Klasifikasi
Gonore
Gonore adalah penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra,
leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva).
Gejalanya
yaitu: Pada pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2 – 7
hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra,
yang beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya
nanah dari penis. Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk
berkemih, yang semakin memburuk ketika penyakit ini menyabar ke uretra bagian
atas. Lubang penis tampak merah dan bengkak.
Pada
wanita, gejala awal biasa timbul dalam waktu 7 – 21 hari setelah terinfeksi.
Penderita wanita seringkali tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu
atau bulan, dan tidak diketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra
seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi
penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri
ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina dan demam.
Komplikasi yaitu kadang menyebar melalui aliran
darah ke 1 atau beberapa sendi, dimana sendi menjadi bengkak dan sangat nyeri,
sehingga pergerakannya menjadi terbatas. Infeksi melalui aliran darah juga bisa
menyebabkan timbulnya bintik – bintik merah berisi nanah di kulit, demam, rasa
tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang berpindah dari satu sendi ke
sendi lainnya (sindroma artritis – dermatitis).
Diagnosa ditegakkan berdasarkan hasil
pemeriksaan mikroskopik terhadap nanah, dimana ditemukan bakteri penyebab
gonore. Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka
dilakukan pembiakan dilaboratorium. Jika diduga terjadi infeksi tenggorokan
atau rektum, diambil contoh dari daerah ini da dibuat biakan.
Sifilis
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh Treponema Pallidum.Bakteri ini masuk kedalam tubuh
maniusia melalui selaput lendir (vagina dan mulut) atau melalui kulit. Dalam
beberapa jam bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudin
menyebar keseluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis juga bisa menginfeksi janin
selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan.
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1
– 13 minggu setelah terinfeksi; rata – rata 3 – 4 minggu. Infeksi bisa menetap
selama bertahun – tahun dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak
maupun kematian.
Diagnosa ditegakkan berdasarkan
gejala – gejalanya. Diagnosa pasti ditegakkan berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan fisik. Ada 2 jenis pemeriksaan darah
yang digunakan: Tes penyaringan: VDRL (Veneral disease research
laboratory ) atau RPR (Rapid plasma reagin). Tes
penyaringan ini mudah dilakukan dan tidak mahal. Mungkin perlu dilakukan tes
ulang karena pada beberapa minggu pertama sifilis primer hasilnya bisa negatif.
Kemudian pemeriksaan antibiotik terhadap bakteri penyebab sifilis. Pemeriksaan
ini lebih akurat. Salah satu dari tes ini adalah tes FTA – ABS (fluorescent
treponema antibody absorption), yang digunakan untuk memperkuat hasil
tes penyaringan yang positif.
Konddiloma Akuminata
Kondiloma akuminata merupakan kutil di dalam atau di
sekeliling vagina, penis, atau dubur, yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Penyebab virus papilloma. Pada wanita virus papilloma tipe 16
dan 18 yang menyerang leher rahim tetapi tidak menyebabkan kutil pada alat
kelamin luar dan bisa menyebabkan kanker leher rahim. Virus tipe ini dan virus
papiloma lainnya bisa menyebabkantumor intra-epitel pada leher
rahim (ditunjukkan dengan hasil pap-smear yang abnormal) atau kanker pada
vagina, vulva, dubur, penis, mulut, tenggorokan atau kerongkongan.
Gejala, Kondiloma akuminata paling
sering timbul di permukaan tubuh yang hangat dan lembab. Pada pria, area yang
sering terkena adalah ujung dan batang penis dan dibawah kulit depannya (jika
tidak disunat). Pada wanita timbul divulva, dinding vagina, leher rahim
(serviks) dan kulit disekeliling vagina. Kondiloma akuminata juga bisa terjadi
di daerah sekeliling anus dan rektum, terutama pada pria homoseksual dan wanita
yang melakukan hubungan seksual melalui dubur. Biasanya muncul dalam waktu 1 –
6 hari setelah terinfeksi, dimulai sebagai pembengkakan kecil yang lembut,
lembab, berwarna merah atau pink. Mereka tumbuh dengan cepat dan bisa memiliki
tangkai. Pada suatu daerah seringkali tumbuh beberapa kutil dan permukaannya
yang kasar memebrikan gambaran seperti bunga kol.
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan
hasil pemeriksaan fisik. Kutil yang menetap bisa diangkat melalui pembedahan
dan diperiksa dibawah mikroskop untuk meyakinkan bahwa itu bukan merupakan
suatu keganasan. Wanita yang memiliki kutil di leher rahimnya, harus menjalani
pemeriksaan pap-smear secara rutin.
HIV/AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired
Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala
dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan
tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang
mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).Virusnya
sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV)
yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena
virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah
terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju
perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
Penyebab AIDS merupakan bentuk terparah atas
akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ
vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel
T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara
langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar
sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga
jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter darah, maka kekebalan
di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS.
Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul
gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan
memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi
tertentu.
Penularan Seksual, Penularan (transmisi)
HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau
cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa
mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko
daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks
anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral
tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif
maupun insertif. Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan
HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik
terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV.
Diagnosis, Sejak tanggal 5 Juni 1981,
banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS, seperti
definisi Bangui dan definisi World Health Organization tentang AIDS tahun 1994.
Namun demikian, kedua sistem tersebut sebenarnya ditujukan untuk pemantauan
epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien, karena definisi yang
digunakan tidak sensitif ataupun spesifik. Di negara-negara berkembang, sistem
World Health Organization untuk infeksi HIV digunakan dengan memakai data
klinis dan laboratorium; sementara di negara-negara maju digunakan sistem
klasifikasi Centers for Disease Control (CDC) Amerika
Serikat
Pencegahan, Tiga jalur utama (rute) masuknya
virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan
cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi
selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat
ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak
terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan
demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan
Cangkroid
Cangkroid merupakan penyakit menukar
seksual yang disebabkan olehHemophilus ducreyi, dimana terjadi luka
terbuka (ulkus, borok) pada alat kelamin yang sifatnya menetap dan terasa
nyeri.
Gejala mulai timbul dalam waktu 3-7 hari
setelah terinfeksi. Lepuhan kecil yang terasa nyyeri timbul dialat kelamin dan
disekitar anus. Lepuhan ini akan segera pecah dan membentuk luka terbuka yang
dangkal. Luka tersebut bisa membesar dan bergabung satu sama lain.
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan
hasil pemeriksaan fisik. Contoh nanah diambil dan dibiakkan di laboratorium.
Herpes Genital
Herpes genitalis adalah suatu penyakit menular
seksual di daerah kelamin, kulit di sekeliling rektum atau daerah di sekitrnya
yang disebabkan oleh virus herpes simpleks
Gejala awalnya mulai timbul pada hari ke
4-7 setelah terinfeksi. Gejala awal biasanya berupa gatal, kesemutan dan sakit.
Lalu akan muncul bercak kemerahan yang kecil, yang diikuti oleh sekumpulan
lepuhan kecil yang terasa nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung membentuk luka
yang melingkar. Luka yang terbentuk biasanya menimbulkan nyeri dan berbentu
keropeng. Luka akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa meninggalkan jaringan
parut.
Trikomoniasis
Trikomoniasis adalah suatu penyakit menular
seksual pada vagina atau uretra yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis.
Gejalanya, pada wanita penyakit ini biasanya
dimualai dengan keluarnya cairan dari vagina yang berbusa dan berwarna kuning
kehijauan. Pada pria, mengeluarkan cairan berbusa atau cairan seperti nanah
dari uretra, mengalami nyeri saat berkemih dan desakan berkemih yang lebih
sering. Gejala ini biasanya timbul pada pagi hari.
Diagnosa, pada wanita biasanya ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh cairan vagina.
Pada pria dilakukan pemeriksaan mikroskopik terhadap sekret dari ujung penis
yang diambil pada pagi hari sebelum penderita berkemih dan sebagian dibiakkan
di laboratorium. Jika hasil pemeriksaan mikroskopik belum meyakinkan, bisa
dilakukan pembiakan air kemih.
Gejala Umum Penyakit Seksual
Pada anak perempuan gejalanya berup: Cairan yang tidak biasa
keluar dari alat kelamin perempuan warnanya kekuningan-kuningan, berbau tidak sedap.
Menstruasi atau haid tidak teratur. Rasa sakit di perut bagian bawah. Rasa
gatal yang berkepanjangan di sekitar kelamin.
Pada anak laki-laki gejalanya berupa: Rasa sakit atau panas
saat kencing. Keluarnya darah saat kencing. Keluarnya nanah dari penis. Adanya
luka pada alat kelamin. Rasa gatal pada penis atau dubur.
Diagnosa
Infeksi Menular Seksual
Pemeriksaan klinis
pada IMS memiliki 3 prinsip yaitu anamnese, pemeriksaan fisik dan pengambilan
bahan untuk pemeriksaan laboratorium (Daili, 2009). Anamnesis dilakukan untuk
mendapatkan informasi penting terutama pada waktu menanyakan riwayat seksual. Hal
yang sangat penting dijaga adalah kerahasiaan terhadap hasil anamnese pasien.
Pertanyaan yang
diajukan kepada pasien dengan dugaan IMS meliputi: Keluhan dan riwayat penyakit
saat ini. Keadaan umum yang dirasakan. Pengobatan
yang telah diberikan, baik topikal ataupun sistemik dengan penekanan pada
antibiotik. Riwayat seksual yaitu kontak
seksual baik di dalam maupun di luar pernikahan, berganti-ganti pasangan,
kontak seksual dengan pasangan setelah mengalami gejala penyakit, frekuensi dan
jenis kontak seksual, cara melakukan kontak seksual, dan apakah pasangan juga
mengalami keluhan atau gejala yang sama. Riwayat penyakit terdahulu yang berhubungan
dengan IMS atau penyakit di daerah genital lain. Riwayat penyakit berat lainnya. Riwayat
keluarga yaitu dugaan IMS yang ditularkan oleh ibu kepada bayinya. Keluhan lain
yang mungkin berkaitan dengan komplikasi IMS, misalnya erupsi kulit, nyeri
sendi dan pada wanita tentang nyeri perut bawah, gangguan haid, kehamilan dan
hasilnya.
Diagnosa
Gonore
Bila fasilitas
pengobatan, tenaga medis dan laboratorium tersedia, maka untuk diagnosa
uretritis tidak cukup hanya dengan pemeriksaan klinis, tetapi harus diikuti
pemeriksaan bakteriologis. Di sini pemeriksaan bakteriologis meliputi
pemeriksaan dengan hapusan dan biakan untuk identifikasi dan tes kepekaan
antibiotik. Dengan cara pengecatan gram dari hapusan ini nilainya cukup tinggi
karena kemungkinan kuman gonokok ditemukan cukup tinggi. Pada wanita selain
pemeriksaan dengan gram, harus diikuti dengan biakan oleh karena dengan hanya
kemungkinan ditemukan kuman gonokok lebih kecil di samping kemungkinan keliru
dengan flora lain dari vagina.
Beberapa macam
pemeriksaan laboratorium untuk deteksi Neisseria gonorrheae: Pemeriksaan
langsung dengan pewarnaan gram Tampak kuman kokus berpasangpasangan terletak di
dalam dan di luar sel darah putih (polimorfonuklear ). Pemeriksaan ini berguna
terutama pada kasus gonore yang bersifat simtomatis. Pembiakan dengan
pembenihan Thayer Martin Akan tampak koloni berwarna putih keabuan, mengkilap
dan cembung. Pembiakan dengan media kultur ini sangat perlu terutama pada
kasus-kasus yang bersifat asimtomatis. Enzyme immunoassay Merupakan cara
deteksi antigen gonokokus dari sekret genital, namun sensitivitasnya masih
lebih rendah dari metode kultur. Polimerase Chain Reaction (PCR) Identifikasi
gonokokus dengan PCR saat ini telah banyak digunakan di beberapa negara maju,
dengan banyak sensitivitas dan spesifitas yang tinggi, bahkan dapat digunakan
dari sampel urine.
Uji Laboratorium Diagnostik
Spesimen. Nanah dan
sekresi diambil dari uretra, cervix, rectum, conjunctiva, tenggorokan, atau
cairan sinovial untuk dibuat kultur dan hapusan. Kultur darah diperlukan pada
penyakit sistemik, tetapi sistem kultur spesial sangat membantu, karena
gonococci sensitif terhadap polyaetanol sulfonate pada media kultur darah
standar.
Smear. Smear dari
uretra atau eksudat dari endocervix yang diberi pewarnaan gram akan menampakkan
banyak diplokokus di dalam sel nanahnya. Kultur dari eksudat uretral pria tidak
diperlukan lagi bila hasil pewarnaannya positif, namun kultur harus dilakukan
bila eksudat uretralnya berasal dari wanita.
Kultur. Sesaat setelah
pengumpulan nanah atau selaput lendir, dipindahkan ke dalam media selektif yang
telah diperkaya dan diinkubasi pada atmosfir yang mengandung 5% CO2 pada suhu
37ºC.
Serologi.
Serum
dan cairan genital yang mengandung antibody IgG dan IgAbekerja melawan pili
gonococci, membranprotein paling luar dan LPS. BeberapaIgM dari serum manusia
bersifatbakterisidal terhadap gonococci padapercobaan in vitro.
Diagnosa Infeksi Genital Non-Spesifik
(IGNS)
Diagnosa Uretritis
Non Gonokokus (UNG) atau diagnosa servisitis non gonokokus ditegakkan biasanya
didasarkan pada kegagalan menemukan Neisseria gonorrhoeae melalui sediaan
apus dan kultur. Klamidia sebagai penyebab dipastikan dengan pemeriksaan
preparat apus yang diambil dari uretra atau endoserviks atau dengan tes IF
langsung dengan antibodi monoklonal, EIA, Probe DNA, tes amplifikasi asam
nukleus (Nucleic Acid Amplification Test, NAAT), atau dengan kultur sel.
NAAT bisa dilakukan dengan menggunakan spesimen urin. Organisme intraseluler
sulit sekali dihilangkan dari discharge.
Pada pemeriksaan
sekret uretra dengan pewarnaan Gram ditemukan leukosit lebih dari 5 pada
pemeriksaan mikroskop dengan pembesaran 1000 kali. Pada pemeriksaan mikroskopik
sekret serviks dengan pewarnaan Gram didapatkan leukosit lebih dari 30 per
lapangan pandang dengan pembesaran 1000 kali. Tidak dijumpai diplokokus negatif
gram, serta pada pemeriksaan sediaan basah tidak didapati parasit Trichomonas
vaginalis (Lumintang,2009).
Pembiakan C.trachomatis
yang bersifat obligat intraseluler harus dilakukan pada sel hidup. Sel
hidup ini dibiakkan dalam gelas kaca yang disebut biakan monolayer seperti Mc
Coy dan BHK yang dapat dilihat hasil pertumbuhannya pada hari ketiga.
Komplikasi dan
gejala sisa berupa salpingitis dengan risiko infertilitas, kehamilan diluar
kandungan atau nyeri pelvis kronis. Komplikasi dan gejala sisa mungkin terjadi
dari infeksi uretra pada pria berupa epididimitis, infertilitas dan sindroma
Reiter. Pada pria homoseksual, hubungan seks anorektal bisa menyebabkan
proktitis klamidia (Ditjen PP&PL).
Diagnosa
Sifilis
Beberapa pemeriksaan terhadap sifilis
dapat dilakukan dengan berbagai cara: Pemeriksaan
lapangan gelap (dark field) dengan bahan pemeriksaan dari bagian dalam
lesi. Ruam sifilis primer dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis. Serum
diperoleh dari bagian dasar atau dalam lesi dengan cara menekan lesi sehingga
serum akan keluar. Kemudian serum diperiksa pada lapangan gelap untuk melihat
ada tidaknya T.pallidum berbentuk ramping, dengan gerakan lambat dan
angulasi. Bahan apusan lesi dapat pula diperiksa dengan metode mikroskop
fluoresensi, namun pemeriksaan ini memberikan hasil yang kurang dapat dipercaya
sehingga pemeriksaan dark field lebih umum dilaksanakan.
Penentuan antibodi di dalam serum yang
timbul akibat infeksi T.pallidum. Tes yang dilakukan sehari-hari dapat
menunjukkan reaksi IgM dan juga IgG tetapi tidak dapat menunjukkan antibodi
spesifik adalah tes Wasserman, tes Kahn, tes VDRL (Veneral Diseases Research
Laboratory), tes RPR (Rapid Plasma Reagin) dan tes Automated
Reagin. Tes-tes tersebut merupakan tes standar untuk sifilis dan memiliki
spesifisitas rendah sebab dapat menunjukkan hasil positif semu. Sedangkan tes
RPCF ( Reiter Protein Complement Fixation) merupakan tes yang dapat
menunjukkan kelompok antibodi spesifik. Tes dengan spesifitas tinggi dan dapat
menentukan antibodi spesifik sifilis ini adalah tes TPI, tes FTA-ABS, tes TPHA
dan tes Elisa (Hutapea, 2009). Menurut Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular
Seksual Depkes RI tahun 2006, diagnosa sifilis dilakukan dengan pemeriksaan
laboratorium yaitu pemeriksaan serologis terhadap darah dan likuor serebrospinalis.
Diagnosa
Herpes Genital
Diagnosis secara klinis ditegakkan
dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritema dan
bersifat rekuren. Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah tes
Tzank yang diwarnai dengan pengecatan Giemsa atau Wright dimana akan tampak sel
raksasa berinti banyak. Cara terbaik dalam menegakkan diagnosa adalah dengan
melakukan kultur jaringan karena paling sensitif dan spesifik. Namun cara ini
membutuhkan waktu yang banyak dan mahal. Dapat pula dilakukan tes-tes serologis
terhadap antigen HSV baik dengan cara imunoflouresensi, imunoperoksidase maupun
ELISA (Daili, 2009).
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah
akibat dari penyakit ini pada bayi yang baru lahir (Daili, 2009). Herpes
genitalis pada trimester awal kehamilan dapat menyebabkan abortus atau
malformasi kongenital berupa mikroensefali. Pada bayi yang lahir dari ibu
pengidap herpes ditemukan berbagai kelainan seperti hepatitis, ensefalitis,
keratokonjungtifitis bahkan stillbirth.
Diagnosa
Kondiloma Akuminata
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala
dan hasil pemeriksaan fisik. Kutil yang menetap bisa diangkat melalui
pembedahan dan diperiksa dibawah mikroskop untuk meyakinkan bahwa itu bukan
merupakan suatu keganasan. Wanita yang memiliki kutil di leher rahimnya, harus
menjalani pemeriksaan Pap-smear secara rutin. Pada lesi yang meragukan, dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang dengan tes asam asetat, kolposkopi dan
pemeriksaan histopatologis. Kondiloma akuminata yang diakibatkan oleh VPH
berisiko tinggi dapat berkembang menjadi keganasan. Infeksi VPH akan semakin
buruk pada pasien imunodefisiensi dan memperbesar kemungkinan terjadinya
keganasan. Penyakit laten semakin sering kambuh pada wanita yang sedang hamil.
Pendarahan sering terjadi pada flat penile wart (Ghadishah, 2009).
Tata
Laksana Terapi
Menurut WHO(2003),
penanganan pasien infeksi menular seksual terdiri dari dua cara, bisa dengan
penaganan berdasarkan kasus(case management) ataupun penanganan
berdasarkan sindrom (syndrome management). Penanganan berdasarkan kasus
yang efektif tidak hanya berupa pemberian terapi antimikroba untuk menyembuhkan
dan mengurangi infektifitas mikroba, tetapi juga diberikan
perawatan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Sedangkan penanganan berdasarkan
sindrom didasarkan pada identifikasi dari sekelompok tanda dan gejala yang
konsisten, dan penyediaan pengobatan untuk mikroba tertentu yang menimbulkan
sindrom. Penanganan infeksi menular
seksual yang ideal adalah penanganan berdasarkan mikrooganisme penyebnya.
Namun, dalam kenyataannya penderita infeksi menular seksual selalu diberi
pengobatan secara empiris.
Antibiotika untuk pengobatan IMS adalah: Pengobatan gonore:
penisilin, ampisilin, amoksisilin, seftriakson, spektinomisin, kuinolon, tiamfenikol,
dan kanamisin. Pengobatan sifilis: penisilin, sefalosporin, termasuk
sefaloridin, tetrasiklin, eritromisin, dan kloramfenikol. Pengobatan herpes genital: asiklovir,
famsiklovir, valasiklovir. Pengobatan klamidia:
azithromisin, doksisiklin, eritromisin. Pengobatan trikomoniasis:
metronidazole.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar