Kanker
adalah istilah yang digunakan untuk suatu kondisi di mana sel telah kehilangan
pengendalian dan mekanisme normalnya sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak
normal, cepat, dan tidak terkendali. Terdapat lebih daripada 100 jenis kanker
dan setiapnya diklasifikasi berdasarkan jenis sel yang terlibat. Sejalan dengan
pertumbuhan dan kembang biaknya, sel-sel kanker membentuk suatu massa dari
jaringan ganas yang menyusup ke jaringan sehat di sekitarnya yang dikenal sebagai
invasif. Di samping itu, sel kanker dapat menyebar (metastasis) ke bagian alat
tubuh lainnya yang jauh dari tempat asalnya melalui pembuluh darah dan pembuluh
getah bening sehingga tumbuh kanker baru di tempat lain dan hasilnya adalah
suatu kondisi serius yang sangat sulit untuk diobati.
Jenis
kanker tersering berbeda antara pria dan wanita di mana pada pria kanker yang
sering adalah kanker paru, lambung, hepar, kolorektal, esofagus, dan prostat
manakala pada wanita adalah kanker payudara, paru, lambung, kolorektal, dan
serviks (WHO, 2008). Apabila penyakit ini dapat dideteksi pada tahap awal, maka
lebih daripada separuh penyakit kanker dapat dicegah, bahkan dapat disembuhkan
dan perlu redefinisi dalam pelayanan kesehatan dari pengobatan ke promosi dan
preventif. Tetapi hasil diagnosis kanker menyatakan bahwa 80% penderita kanker
ditemukan pada stadium lanjut yaitu stadium 3 dan stadium 4. Pada tahap ini
kanker sudah menyebar ke bagian-bagian lain di dalam tubuh sehingga semakin
kecil peluang untuk sembuh dan pulih. Keadaan di atas menjadi salah satu
penyebab meningkatnya penyakit kanker di Indonesia.
WHO
pula menyatakan bahwa sepertiga sampai setengah dari semua jenis kanker dapat
dicegah, sepertiga dapat disembuhkan bila ditemukan pada stadium dini. Oleh
karena itu, upaya mencegah kanker dengan menemukan kanker pada stadium dini
merupakan upaya yang penting karena disamping membebaskan masyarakat dari
penderitaan kanker juga menekan biaya pengobatan kanker yang mahal (Siswono,
2005). Jika pencegahan kanker dilakukan oleh masing-masing individu, maka hal
tersebut akan berdampak besar dalam mengurangi angka kejadian kanker di dunia.
Etiologi
Mekanisme
dari berbagai kanker masih belum
sepenuhnya dimengerti. Kanker atau neoplasma, lebih dulu timbul dari sel dalam
berbagai mekanisme normal untuk mengontrol pertumbuhan dan proliferasi dari
perubahan. Beberapa bukti terbaru yang mendukung dari karsinogenesis adalah
proses multistage yang sepenuhnya diatur.
Tahap
pertama yaitu inisiasi, dimana proses ini membutuhkan pembukaan dari sel normal
untuk menjadi substansi karsinogenik. Kemudian, karsinogenik ini akan
memproduksi kerusakan pada genetic tersebut, dimana hasilnya mutasi sel yang
irreversible. Sel yang termutasi ini akan diubah responnya terhadap sekitarnya
menjadi lebih selektif untuk kebutuhan berkembangnya, memberikan kekuatan yang
dibutuhkan untuk memperbanyak populasi dari sel neoplastic. Tahap kedua dikenal
dengan istilah promosi, karsinogenik tersebut atau factor lain yang dapat
mengubah lingkungan untuk membantu pertumbuhan dari sel yang telah termutan
menjadi lebih banyak dari sel normal.
Perbedaan utama dari inisiasi dan promosi yaitu tahap kedua, promosi, lebih
bersifat reversible. Karena bersifat reversible, tahap promosi dapat menjadi
target kemoterapi pada masa yang akan datang, termasuk mengubah gaya hidup dan
diet.
Pada
tahap selanjutnya, sel yang termutasi berubah menjadi sel kanker
(transformasi). Tergantung dari tipe masing-masing kanker, 5 hingga 20 tahun
mungkin berlalu di tahap karsinogenik dan perkembangan kanker yang dapat
terdeteksi secara klinis. Tahap terakhir dari pertumbuhan neoplastik disebut
dengan progresi yang terlibat dalam peningkatan perubahan genetic lebih lanjut
menjadi sel yang berpoliferasi. Elemen yang paling penting pada fase ini yaitu
serbuan dari tumor menuju jaringan local yang dapat menyebabkan metastase.
Zat
yang dapat bertindak sebagai kansinogen atau pemicu termasuk agen kimia,
fisika, dan biologi. Mengikutnya agen kimia bisa terjadi dari sifat oleh
lingkungan dan juga dari lifestyle. Beberapa obat dan hormone yang digunakan
untuk tujuan terapetik juga merupakan klasifikasi dari penyebab kanker secara
kimiawi. Untuk agen fisika penyebab merupakan perilaku sel karsinogenik
tersebut diantaranya meliputi radiasi ionisasi dan cahaya ultraviolet. Radiasi
tipe ini menginduksi mutasi dengan cara membentuk radikal bebas yang dapat
merusak DNA dan komponen sel yang lain. Virus dan agen biologi juga berpengaruh
pada beberapa kanker. Seperti halnya infeksi dari virus human papiloma yang
diketahui sebagai penyebab utama kanker rahim. Selain semua penyebab yang
dikatakan diatas, juga termasuk umur, jenis kelamin, diet, factor pertumbuhan,
dan iritasi kronik yang dapat menjadi factor pemicu karsinogenik.
Klasifikasi Kanker
Ada
lima kelompok besar yang digunakan untuk mengklasifikasikan kanker yaitu
karsinoma, sarkoma, limfoma, adenoma dan leukemia (National Cancer Institute,
2009). Karsinoma ialah
kanker yang berasal dari kulit atau jaringan yang menutupi organ internal. Sarkoma
ialah kanker yang berasal dari tulang,
tulang rawan, lemak, otot, pembuluh darah, atau jaringan ikat. Limfoma ialah kanker yang
berasal dari kelenjar getah bening dan jaringan sistem kekebalan tubuh. Adenoma ialah kanker yang
berasal dari tiroid, kelenjar pituitari, kelenjar adrenal, dan jaringan
kelenjar lainnya. Leukemia ialah
kanker yang berasal dari jaringan pembentuk darah seperti sumsum tulang dan
sering menumpuk dalam aliran darah.
Patofisiologi
Semua
kanker bermula dari sel, yang merupakan unit dasar kehidupan tubuh. Untuk
memahami kanker, sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi ketika
sel-sel normal menjadi sel kanker. Tubuh terdiri dari banyak jenis sel. Sel-sel
tumbuh dan membelah secara terkontrol untuk menghasilkan lebih banyak sel
seperti yang dibutuhkan untuk menjaga tubuh sehat. Ketika sel menjadi tua atau
rusak, mereka mati dan diganti dengan sel-sel baru. Kematian sel terprogram ini
disebut apoptosis, dan ketika proses ini rusak, kanker mulai terbentuk. Sel
dapat mengalami pertumbuhan yang tidak terkendali jika ada kerusakan atau
mutasi pada DNA. Empat jenis gen yang bertanggung jawab untuk proses pembelahan
sel yaitu onkogen yang mangatur proses pembahagian sel, gen penekan tumor yang
menghalang dari pembahagian sel, suicide gene yang kontrol apoptosis dan
gen DNA-perbaikan menginstruksikan sel untuk memperbaiki DNA yang rusak. Maka,
kanker merupakan hasil dari mutasi DNA onkogen dan gen penekan tumor sehingga
menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali (National Cancer Institute,
2009).
Sel-sel
tambahan ini dapat membentuk massa jaringan yang disebut tumor. Namun, tidak
semua jenis tumor itu kanker. Tumor dapat dibagikan sebagai tumor jinak dan
ganas di mana yang jinak dapat dihapus dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain
manakala tumor ganas merupakan kanker yang dapat menyerang jaringan sekitar dan
menyebar ke bagian tubuh lain. Beberapa kanker tidak membentuk tumor misalnya
leukemia (National Cancer Institute, 2009).
Faktor Resiko
Terdapat
empat faktor penyebab kanker seperti biologis, lingkungan, makanan dan
psikologis. Keempat-empat faktor penyebab kanker tersebut dijelaskan seperti
berikut:
Biologis
Keturunan. Sejumlah penelitian
menemukan bahwa sekitar 5% dari kasus kanker diakibatkan oleh faktor keturunan.
Faktor keturunan ini memang susah untuk dihindari (Arief, I., 2009).
Hormon. Hormon estrogen yang berlebihan dalam
tubuh dapat meningkatkan kemungkinan terjangkitnya kanker kandungan dan kanker
payudara. Sedang hormon progesteron dapat mencegah timbulnya kanker
endometrium, tetapi meningkatkan resiko kanker payudara. Kedua jenis hormon
tersebut banyak digunakan sebagai bahan pil KB maupun terapi hormon pada wanita
menopause. Penggunaan jangka panjang dapat mengurangi resiko kanker kandungan
dan endometrium, tetapi meningkatkan resiko kanker payudara dan kanker hepar
(Kusmawan, E., 2009).
Virus
dan kuman. Virus
human papilloma (HPV), merupakan penyebab utama kanker leher rahim dan dapat
meningkatkan resiko timbulnya kanker jenis lain. Virus hepatitis B dan
hepatitis C dapat memicu timbulnya kanker hati. Virus human T-cell
leukemia/lymphoma (HTLV-1) meningkatkan resiko limfoma dan leukemia. Virus
human immunodefisiensi (HIV) yang dikenal sebagai penyebab AIDS ini
meningkatkan resiko limfoma dan Kaposi’s sarcoma. Virus Epstein-Barr
meningkatkan resiko terjangkitnya limfoma. Virus human herpes 8 (HHV8) dapat
menyebabkan Kaposi’s sarcoma. Helicobacter pylori penyebab luka
lambung dan usus juga dapat menimbulkan kanker di sepanjang saluran pencernaan.
Untuk mengurangi kemungkinan tertular virus/bakteri tersebut, hindari
berganti-ganti pasangan seksual, juga jangan saling bertukar sikat gigi, jarum,
sisir, peralatan makan, dan sebagainya (Kusmawan, E., 2009).
Lingkungan
Tembakau. Asap rokok/tembakau yang dihirup baik
perokok aktif maupun perokok pasif dapat menyebabkan kanker paru, pita suara,
mulut, tenggorokan, ginjal, kandung kencing, kerongkongan, perut, pankreas,
leukemia, dan leher rahim. Bukan hanya asapnya, bahkan sering menghirup aroma
tembakau serta mengunyahnya juga dapat menyebabkan kanker.
Penyinaran
yang berlebihan. Sinar
matahari pagi baik untuk kesehatan. Tetapi sinar matahari siang yang banyak
mengandung ultraviolet dapat menyebabkan kanker kulit. Sinar ultraviolet dapat
menembus kaca, pakaian yang tipis, juga dapat dipantulkan oleh pasir, air,
salju, dan es. Perlu diingat bahwa lampu-lampu ultraviolet yang banyak dijual
di toko juga dapat menyebabkan kanker.
Polusi
udara. Menurut
Chen Zichou, seorang ahli Institut Penelitian Kanker mengatakan, penyebab utama
meningkatnya jumlah kanker di China disebabkan polusi udara, lingkungan, dan
kondisi air yang kian hari kian memburuk.
Makanan. Banyak zat kimia yang
ditambahkan dalam makanan dapat menjadi pemicu kanker, misalnya zat pengawet,
pewarna buatan, pemanis buatan dan perasa buatan. Padahal, hampir semua
makanan/minuman produksi pabrik atau yang dijual di restoran mengandung zat-zat
tambahan tersebut. Selain itu, kebanyakan sayur-sayuran dan buah-buahan ditanam
dengan mengandalkan pupuk buatan dan pestisida. Makanan yang dipanggang,
dibakar, atau digoreng dengan minyak jelantah juga berpotensi menyebabkan
kanker (Cancer Helps, 2009).
Psikologis. Kondisi stress dapat
melemahkan respon imunitas tubuh. Menurunnya sistem imunitas ini mempermudah
sel-sel kanker menyerang tubuh karena kemampuan sel imun untuk mengenal dan
melawan musuh tidak dapat berfungsi secara baik.
Gejala
Gejala
kanker cukup bervariasi dan tergantung lokasi kanker, tahap penyebaran, dan
saiz tumor. Beberapa kanker dapat dirasakan atau dilihat melalui kulit seperti
benjolan pada payudara atau testikel dan dapat dijadikan indicator lokasi
kanker tersebut. Kanker kulit sering diidentifikasi dengan perubahan kutil atau
tahi lalat pada kulit. Beberapa kanker mulut memberikan gambaran bercak putih
di dalam mulut atau bintik putih di lidah.
Jenis
kanker lain memiliki gejala yang kurang jelas secara fisik. Beberapa tumor otak
cenderung menampilkan gejala awal penyakit karena mereka mempengaruhi fungsi
kognitif penting. Kanker pankreas biasanya terlalu kecil untuk menyebabkan
gejala sehingga rasa sakit terjadi akibat dorongan terhadap saraf terdekat.
Selain daripada itu, ia juga mengganggu fungsi hati sehingga tampilan kulit dan
mata menguning yang dikenal sebagai ikterus. Gejala juga dapat terjadi akibat
tumor yang menyebabkan penekanan terhadap organ dan pembuluh darah. Misalnya,
kanker kolon dapat menyebabkan gejala seperti sembelit, diare, dan perubahan
ukuran tinja. Kanker kandung kemih atau prostat dapat menyebabkan perubahan
dalam fungsi kandung kemih (American Cancer Society, 2010).
Gejala
kanker cukup bervariasi dan tergantung lokasi kanker, tahap penyebaran, dan
saiz tumor. Beberapa kanker dapat dirasakan atau dilihat melalui kulit seperti
benjolan pada payudara atau testikel dan dapat dijadikan indicator lokasi
kanker tersebut. Kanker kulit sering diidentifikasi dengan perubahan kutil atau
tahi lalat pada kulit. Beberapa kanker mulut memberikan gambaran bercak putih
di dalam mulut atau bintik putih di lidah.
Jenis
kanker lain memiliki gejala yang kurang jelas secara fisik. Beberapa tumor otak
cenderung menampilkan gejala awal penyakit karena mereka mempengaruhi fungsi
kognitif penting. Kanker pankreas biasanya terlalu kecil untuk menyebabkan
gejala sehingga rasa sakit terjadi akibat dorongan terhadap saraf terdekat.
Selain daripada itu, ia juga mengganggu fungsi hati sehingga tampilan kulit dan
mata menguning yang dikenal sebagai ikterus. Gejala juga dapat terjadi akibat
tumor yang menyebabkan penekanan terhadap organ dan pembuluh darah. Misalnya,
kanker kolon dapat menyebabkan gejala seperti sembelit, diare, dan perubahan
ukuran tinja. Kanker kandung kemih atau prostat dapat menyebabkan perubahan
dalam fungsi kandung kemih (American Cancer Society, 2010).
Diagnosis
Deteksi
dini kanker dapat meningkatkan pengobatan yang berhasil dan prognosis baik.
Dokter menggunakan informasi dari gejala dan beberapa prosedur lain untuk
mendiagnosis kanker. Teknik pencitraan seperti X-ray, CT scan, MRI scan, PET
scan, dan ultrasound digunakan secara teratur untuk mendeteksi
lokasi tumor. Dokter juga dapat melakukan endoskopi. Pengekstrakan sel-sel
kanker dan melihat di bawah mikroskop adalah satu-satunya cara mutlak untuk
mendiagnosis kanker. Prosedur ini disebut biopsi. Tes diagnostik molekul yang
sering digunakan juga seperti menganalisis lemak, protein, dan DNA pada tingkat
molekul. Sebagai contoh, sel-sel kanker prostat mensekresi zat kimia yang
disebut PSA (prostate-specific antigen) ke dalam aliran darah yang dapat
dideteksi oleh tes darah. Molekuler diagnostik, biopsi, dan teknik pencitraan
digunakan secara bersama-sama untuk mendiagnosis kanker (Crosta, P., 2010).
Stadium Kanker
Sistem
TNM adalah salah satu sistem pementasan yang paling umum digunakan. Sistem ini
telah diterima oleh International Union Against Cancer (UICC) dan American
Joint Committee on Cancer (AJCC). Kebanyakan fasilitas medis menggunakan
sistem TNM sebagai metode utama untuk pelaporan kanker termasuk National
Cancer Institute (NCI). Sistem TNM ini berdasarkan pada besarnya tumor (T),
tingkat penyebaran ke kelenjar getah bening (N), dan adanya metastasis (M).
Nomor ditambahkan untuk setiap huruf untuk menunjukkan ukuran atau saiz tumor
dan luasnya penyebaran.
Imunologi Kanker
Respon
imun terhadap sel kanker. Sel
kanker dikenal sebagai nonself yang bersifat antigenik pada sistem
imunitas tubuh manusia sehingga ia akan menimbulkan respons imun secara seluler
maupun humoral. Imunitas humoral lebih sedikit berperan daripada imunitas
seluler dalam proses penghancuran sel kanker, tetapi tubuh tetap membentuk
antibodi terhadap antigen tumor. Dua mekanisme antibodi diketahui dapat
menghancurkan target kanker yaitu, Antibody dependent cell mediated
cytotoxicity (ADCC) dan Complement Dependent Cytotoxicity. Pada ADCC
antibodi IgG spesifik berikatan terhadap Tumor Associated Antigen (TAA)
dan sel efektor yang membawa reseptor untuk bagian Fc dari molekul Ig. Antibodi
bertindak sebagai jembatan antara efektor dan target. Antibodi yang terikat
dapat merangsang pelepasan superoksida atau peroksida dari sel efektor. Sel
yang dapat bertindak sebagai efektor di sini adalah limfosit null (sel K),
monosit, makrofag, lekosit PMN (polimorfonuklear) dan fragmen trombosit. Ini
akan mengalami lisis optimal dalam 4 sampai 6 jam (Halim, B dan Sahil, MF,
2001).
Pada
Complement Dependent Cytotoxicity, pengikatan antibodi ke permukaan sel
tumor menyebabkan rangkaian peristiwa komplemen klasik dari C
1,4,2,3,5,6,7,8,9. Komponen C akhir menciptakan saluran atau kebocoran pada
permukaan sel tumor. IgM lebih efisien dibanding IgG dalam merangsang proses
ini (Halim, B dan Sahil, MF, 2001). Pada
pemeriksaan patologi-anatomik tumor, sering ditemukan infiltrat sel-sel yang
terdiri atas sel fagosit mononuklear, limfosit, sedikit sel plasma dan sel
mastosit. Meskipun pada beberapa neoplasma, infiltrasi sel mononuklear
merupakan indikator untuk prognosis yang baik, pada umumnya tidak ada hubungan
antara infiltrasi sel dengan prognosis. Sistem imun yang nonspesifik dapat
langsung menghancurkan sel tumor tanpa sensitisasi sebelumnya. Efektor sistem
imun tersebut adalah sel Tc, fagosit mononuklear, polinuklear, Sel NK. Aktivasi
sel T melibatkan sel Th dan Tc. Sel Th penting pada pengerahan dan aktivasi makrofag
dan sel NK (Halim, B dan Sahil, MF, 2001).
Kontak
langsung antara sel target dan limfosit T menyebabkan interaksi antara reseptor
spesifik pada permukaan sel T dengan antigen membran sel target yang
mencetuskan induksi kerusakan membran yang bersifat letal. Peningkatan kadar cyclic
Adenosine Monophosphate (cAMP) dalam sel T dapat menghambat sitotoksisitas
dan efek inhibisi Prostaglandin (PG) E1 dan E2 terhadap sitotoksisitas mungkin
diperantarai cAMP. Mekanisme penghancuran sel tumor yang pasti masih belum
diketahui walaupun pengrusakan membran sel target dengan hilangnya integritas
osmotik merupakan peristiwa akhir. Pelepasan Limfotoksin (LT), interaksi
membran-membran langsung dan aktifitas sel T diperkirakan merupakan penyebab
rusaknya membrane. Interleukin (IL), interferon (IFN) dan sel T mengaktifkan
pula sel NK. Lisis sel target dapat terjadi tanpa paparan pendahuluan dan
target dapat dibunuh langsung. Kematian sel tumor dapat sebagai akibat paparan
terhadap toksin yang terdapat dalam granula, produksi superoksida atau
aktivitas protease serine pada permukaan sel efektor. Aktivitas NK dapat
dirangsang secara in vitro dengan pemberian IFN. Penghambatan aktivasi sel NK
terlihat pada beberapa PG (PGE1, PGE2, PGA1 dan PGA2), phorbol ester, glukokortikoid
dan siklofosfamid. Sel NC (Natural Cytotoxic) juga teridentifikasi
menghancurkan sel tumor. Berbeda dengan sel NK, sel NC kelihatannya distimulasi
oleh IL-3 dan relatif tahan terhadap glukokortikoid dan siklofosfamid (Halim, B
dan Sahil, MF, 2001).
Selain
itu, sitotoksisitas melalui makrofag menyebabkan makrofag yang teraktivasi
berikatan dengan sel neoplastik lebih cepat dibanding dengan sel normal.
Pengikatan khusus makrofag yang teraktivasi ke membran sel tumor adalah melalui
struktur yang sensitif terhadap tripsin. Pengikatan akan bertambah kuat dan
erat dalam 1 sampai 3 jam dan ikatan ini akan mematikan sel. Sekali pengikatan
terjadi, mekanisme sitotoksisitas melalui makrofag berlanjut dengan transfer
enzim lisosim, superoksida, protease, faktor sitotoksis yang resisten terhadap
inhibitor protease dan yang menyerupai LT. Sekali teraktivasi, makrofag dapat
menghasilkan PG yang dapat membatasi aktivasinya sendiri. Makrofag yang
teraktivasi dapat menekan proliferasi limfosit, aktivitas NK dan produksi
mediator. Aktivasi supresi dapat berhubungan dengan pelepasan PG atau produksi
superoksida. Sebagai tambahan, makrofag dapat merangsang dan juga menghambat
pertumbuhan sel tumor. Makrofag dapat pula berfungsi sebagai efektor pada ADCC
terhadap tumor. Indometasin dapat menghambat efek perangsangan makrofag pada
pertumbuhan tumor ovarium yang diperkirakan prostaglandin mungkin berperan
sebagai mediatornya. Di samping itu makrofag dapat menimbulkan efek negatif
berupa supresi yang disebut makrofag supresor. Hal tersebut dapat disebabkan
oleh tumor itu sendiri atau akibat pengobatan (Halim, B dan Sahil, MF, 2001).
Faktor-faktor yang mempengaruhi luputnya tumor dari
pengawasan sistem imun tubuh sebagai berikut
(Baratawidjaja, 1998):
Kinetik
tumor (sneaking through). Pada
binatang yang diimunisasi, pemberian sel tumor dalam dosis kecil akan
menyebabkan tumor tersebut dapat menyelinap (sneak through) yang tidak
diketahui tubuh dan baru diketahui bila tumor sudah berkembang lanjut dan di
luar kemampuan sistem imun untuk menghancurkannya. Mekanisme terjadinya tidak
diketahui tapi diduga berhubungan dengan vaskularisasi neoplasma tersebut.
Modulasi
antigenic. Antibodi
dapat mengubah atau memodulasi permukaan sel tanpa menghilangkan determinan
permukaan.
Masking
Antigen. Molekul
tertentu, seperti sialomucin, yang sering diikat permukaan sel tumor dapat
menutupi antigen dan mencegah ikatan dengan limfosit.
Penglepasan
Antigen (Shedding Antigen). Antigen
tumor yang dilepas dan larut dalam sirkulasi, dapat mengganggu fungsi sel T
dengan mengambil tempat pada reseptor antigen. Hal itu dapat pula terjadi
dengan kompleks imun antigen antibodi.
Toleransi. Virus kanker mammae
pada tikus disekresi dalam air susunya, tetapi bayi tikus yang disusuinya
toleran terhadap tumor tersebut. Infeksi kongenital oleh virus yang terjadi
pada tikus-tikus tersebut akan menimbulkan toleransi terhadap virus tersebut
dan virus sejenis.
Limfosit
yang terperangkap. Limfosit
spesifik terhadap tumor dapat terperangkap di dalam kelenjar limfe. Antigen
tumor yang terkumpul dalam kelenjar limfe yang letaknya berdekatan dengan
lokasi tumor, dapat menjadi toleran terhadap limfosit setempat, tetapi tidak
terhadap limfosit kelenjar limfe yang letaknya jauh dari tumor.
Faktor
genetic. Kegagalan
untuk mengaktifkan sel efektor T dapat disebabkan oleh karena faktor genetik.
Faktor
penyekat. Antigen
tumor yang dilepas oleh sel dapat membentuk kompleks dengan antibodi spesifik
yang membentuk pejamu. Kompleks tersebut dapat menghambat efek sitotoksitas
limfosit pejamu melalui dua cara, yaitu dengan mengikat sel Th sehingga sel
tersebut tidak dapat mengenal sel tumor dan memberikan pertolongan kepada sel
Tc.
Produk
tumor. PG
yang dihasilkan tumor sendiri dapat mengganggu fungsi sel NK dan sel K. Faktor
humoral lain dapat mengganggu respons inflamasi, kemotaksis, aktivasi komplemen
secara nonspesifik dan menambah kebutuhan darah yang diperlukan tumor padat.
Faktor
pertumbuhan. Respons
sel T bergantung pada IL. Gangguan makrofag untuk memproduksi IL-1, kurangnya
kerjasama di antara subset-subset sel T dan produksi IL-2 yang menurun akan
mengurangi respons imun terhadap tumor.
Defidiensi Imun pada Pasien Kanker
Defisiensi
imun harus dicurigai bila ditemukan tanda-tanda dari peningkatan kerentanan
terhadap infeksi. Defisiensi imun primer atau kongenital diturunkan tetapi
defisiensi imun sekunder timbul dari berbagai faktor setelah lahir. Penyakit
defisiensi imun tersering mengenai limfosit, komplemen dan fagosit. Defisiensi
imun pada pasien kanker adalah dari faktor-faktor seperti berikut (Halim, B dan
Sahil, MF, 2001) :
Lokasi
tumor. Pada
gangguan keganasan sel B seperti mieloma multipel dan leukemia mielositik
kronik dijumpai gangguan sel B poliklonal, defisiensi sel Th, kelebihan sel Ts
dan penurunan rasio sel T4 : T8 pada tumor solid. Kelainan monosit dan sel T
telah terlihat pada penderita karsinoma metastatik dan sarkoma, terutama stadium
lanjut. Parahnya gangguan sel T bervariasi dari berbagai jenis tumor sesuai
asalnya.
Operasi. Depresi sel T dan B
sementara terlihat pada kasus postoperatif. Gangguan imunitas maksimal terjadi
selama minggu pertama setelah pembedahan, biasanya fungsi sel T akan kembali
normal 1 bulan. Lama dan intensitas imunosupresi berhubungan dengan jumlah
trauma operasi, lama prosedur dan imunokompetensi sebelum operasi. Pembuangan
jaringan limforetikuler dapat mengganggu fungsi imun. Penelitian pada pasien
kanker menunjukkan bahwa, splenektomi dapat mempermudah timbulnya sepsis
fulminan akibat bakteri. Peningkatan kerentanan terhadap infeksi ini
berhubungan dengan umur, penyakit penyerta dan modalitas pengobatan kankernya.
Tambahan radiasi kelenjar getah bening dan kemoterapi akan menyebabkan gangguan
lebih besar terhadap fungsi sel B. Beberapa peneliti bahkan menggunakan injeksi
penisilin profilaksis, vaksin pneumokokus pada pasien post splenektomi sebelum
diberi kemoterapi atau radioterapi. Kerentanan ini disebabkan oleh menurunnya
kemampuan fagositosis dan gangguan pembentukan antibodi dini.
Radioterapi. Radiasi berpengaruh
terhadap limfosit, sehingga akan mengalami kematian interfase dalam beberapa
jam tanpa terjadinya mitosis. Sebelum rangsangan, antigen limfosit hanya
menunjukkan kemampuan yang terbatas untuk memperbaiki kerusakan DNA akibat
radiasi. Setelah rangsangan antigen, sel plasma maupun sel reflektor menjadi
lebih radioresisten. Limfopenia terjadi bukan hanya akibat radiasi terhadap
jaringan limfoid, tapi juga akibat destruksi limfosit pada daerah tepi. Level
sel T dan B dapat berkurang, tergantung bagian yang diradiasi. Walaupun terjadi
penurunan kadar sel B, respon humoral biasanya tetap. Radiasi limfoid total
dapat menyebabkan penurunan yang menetap pada kadar sel T. Respon proliferatif
sel T terhadap mitogen atau antigen histokompatibilitas dapat tertekan selama
bertahun-tahun. Radiasi total badan dengan dosis besar dapat menyebabkan
penurunan yang hebat dari seluruh sel limforetikuler tetapi untuk mencapai
kembali rasio normal T4 : T8 perlu lebih dari setahun. Level monosit tidak
menurun secara bermakna selama radioterapi dan kebanyakan makrofag resisten
terhadap radiasi.
Kemoterapi. Kebanyakan sitostatika
bersifat imunosupresif kecuali Bleomisin dan Vincristin dalam dosis terapeutik.
Kemoterapi intermiten biasanya kurang imunosupresif dibanding dengan tipe
kontinu. Fungsi sel T dan B dapat kembali di antara seri pengobatan walaupun
gangguan menetap dapat terlihat setelah pengobatan yang lama atau bila
kemoterapi dan radiasi digabung. Glukokortikoid mempengaruhi fungsi dan
resirkulasi pada darah tepi dan level limfosit lebih dipengaruhi dibanding
monosit. Level sel T lebih dipengaruhi dibanding sel B dan sel T CD4 lebih
terpengaruh dibanding sel T CD8. Pada kemoterapi dosis tinggi glukokortikoid
dapat menghambat setiap fungsi sel limforetikuler, namun faktor inhibisi
makrofag tetap dihasilkan. Kemampuan respon makrofag dan monosit terhadap
mediator terhambat jelas. Kemampuan fagositosis monosit dipertahankan sedangkan
fungsi bakterisidalnya dihambat. Siklosfosfamid mempunyai pengaruh yang lebih
besar terhadap sel B dibanding sel T, dalam dosis rendah menghambat sel
supresor dan meningkatkan efek sel T CD8 daripada sel T CD4, pada dosis lebih
tinggi sel T CD8 dan sel T CD4 menurun (Ozer, H., 1986). Efek imunosupresif
bahan pengalkil dan antimetabolit berhubungan sebagian dengan toksisitas
terhadap sel yang berproliferasi. Bahan pengalkil seperti siklofosfamid dapat
menekan produksi antibodi, sedangkan antimetabolit seperti 5 Fluorourasil, 6
Merkaptopurin dan Metotreksat akan efektif setelah pemberian antigen dan bila
sel B sedang berproliferasi. Bila sel telah berhenti berproliferasi dan
limfosit sudah matur maka respons seluler maupun humoral menjadi resisten
terhadap agen sitotoksik.
Gizi
buruk. Semua
sel membutuhkan nutrisi untuk berkembang dan bekerja. Kurangnya vitamin,
mineral, kalori, dan protein dapat membuat sistem kekebalan tubuh lemah di mana
ia kurang mampu menemukan dan menghancurkan kuman. Ini berarti orang-orang yang
kekurangan gizi lebih mungkin untuk mendapatkan infeksi. Orang dengan kanker
sering memiliki gizi buruk karena berbagai alasan. Sebagai contohnya, kanker
itu sendiri mungkin menyebabkan pasien sulit untuk makan atau mencerna makanan.
Hal ini biasa terjadi pada orang dengan kanker sistem pencernaan, mulut, atau
tenggorokan. Selain itu, perawatan kanker, seperti terapi radiasi dan
kemoterapi, dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan dan mual. Di samping itu,
pemulihan dari operasi meningkatkan kebutuhan tubuh akan nutrisi.
Infeksi Opurtunistik pada Pasien Kanker
Infeksi
opurtunistik (IO) adalah infeksi yang disebabkan oleh patogen (bakteri, virus,
jamur atau protozoa) yang menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan
inang terganggu. Pada pasien kanker, IO sering disebabkan oleh kuman yang
tinggal di kulit, usus dan lingkungan (American Cancer Society, 2009). Jenis-jenis infeksi opurtunistik pada pasien
kanker
Bakteri. Beberapa bakteri yang
sering menyebabkan infeksi pada pasien kanker termasuk: Pseudomonas
aeruginosa, Klebsiella
pneumonia, Escherichia
coli (E. coli), Salmonella, Clostridium difficile, Staphylococcus aureus, Staphylococcus
epidemidis, Streptococcus
viridians, Pneumococcus, Enterococcus.
Virus. Beberapa virus pada
orang dengan jumlah sel darah putih yang rendah (CancerHelp UK, 2009): Varicella
zoster (VZV), virus yang menyebabkan cacar air
dan herpes zoster. Herpes
simplex (HSV), virus yang menyebabkan luka
herpes genital dingin. Cytomegalovirus
(CMV), Influenza
virus, Human
respiratory syncytial virus (RSV).
Jamur. Jamur yang umumnya
menginfeksi pasien kanker (American Cancer Society, 2009): Pneumocystis
jirovecii (sebelumnya dikenal sebagai P.
carinii), Candida, Aspergillus, Kriptokokus, Histoplasma, Coccidioides.
Protozoa. Protozoa merupakan
hewan bersel tunggal, berinti sejati (eukariotik) dan tidak memiliki dinding
sel. Protozoa berasal dari kata protos yang berarti pertama dan zoom yang
berarti hewan sehingga disebut sebagai hewan pertama. Ukurannya 1000 mikron dan
merupakan organisme mikroskopis bersifat heterotrof. Tempat hidupnya adalah
tempat yang basah yang kaya zat organik, air tawar atau air laut sebagai
zooplakton, beberapa jenis bersifat parasit dan menyebabkan penyakit pada manusia
dan hewan ternak. Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu,
bulu getar (silia) atau bulu cambak (flagela). Beberapa protozoa memiliki fase
vegetatif yang bersifat aktif yang disebut tropozoit dan fase dorman dalam
bentuk sista. Tropozoit akan aktif mencari makan dan berproduksi selama kondisi
lingkungan memungkinkan. Jika kondisi tidak memungkinkan kehidupan tropozoit
maka protozoa akan membentuk sista. Sista merupakan bentuk sel protozoa yang
terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada
bakteri. Pada saat sista protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering
maupun basah. Pada umumnya berkembang biak dengan membelah diri.
Protozoa
umum yang sering menyebabkan penyakit serius pada pasien kanker termasuk
(American Cancer Society,2009): Toxoplasma gondii, Cryptosporidium, Cyclospora, Isospora. Protozoa
usus yang sering kali menyebabkan komplikasi pada pasien imunodefisiensi
seperti pasien kanker ialah spore-forming protozoa seperti: Cryptosporidium
parvum, Isospora
belli, Cyclospora
cayetanensisc, Microsporidium
spp.
Infeksi
daripada protozoa usus ini diasosiasi dengan alterasi substansial pada struktur
dan fungsi usus. Namun, patogenesis terjadinya diare pada pasien yang
terinfeksi belum pasti. Biasanya infeksi protozoa ini dapat memicu pengeluaran
sitokin (Interleukin 8) oleh sel epitel yang akan mengaktivasi fagosit ke
lamina propria. Fagosit yang diaktifkan ini akan mengeluarkan faktor solubel
yang dapat meningkatkan sekresi klorida dan air serta menghambat absorbsi.
Mediator lain seperti prostaglandin dan leukotrien pula bertindak pada saraf
enterosit dan memicu sekresi usus. Kerusakan enterosit akibat invasi dan
multiplikasi parasit ini mengakibatkan distorsi struktur vilus dan diasosiasi dengan
malabsorbsi serta diare osmotik (Chacon, C.E., 2009).
Pada
penderita immunocompromised, infeksi opurtunistik parasit usus memainkan
peranan yang besar dalam menyebabkan diare kronik yang disertai dengan
penurunan berat badan (Hammouda NA, et al, 1996). Manifestasi klinis
yang sering ditunjukkan oleh pasien terinfeksi protozoa pembentuk spora ini
adalah diare akut, kram perut, demam ringan, mual, dehidrasi serta penurunan
berat badan akibat malabsorbsi. Diare pada pasien imunodefisiensi ini lebih sering,
lama, dan sulit ditangani dibandingkan dengan pasien yang sistem kekebalannya
normal. Infeksi daripada parasit ini hanya dapat ditegakkan diagnosanya dengan
pemeriksaan tinja di mana sering dilakukan skrining untuk temukan oosit dan
spora. Acid fast stain digunakan untuk melihat oosit Cryptosporidium,
Cyclospora, dan Isospora pada tinja dan aspirasi duodenal. Cryptosporidium
dan Isospora dapat juga diidentifikasi pada biopsi intestinal dengan
mikroskop cahaya. Leukosit dan eritrosit yang tidak dapat ditemukan pada tinja
membantu membedakan daripada diare yang disebabkan oleh bakteria dan protozoa
invasif seperti amoeba (Goodgame, R.W., 1996).
Terapi Kanker
Terapi
kanker tergantung pada jenis kanker, stadium kanker, usia, status kesehatan,
dan karakteristik pribadi tambahan. Tidak ada pengobatan tunggal untuk kanker
dan pasien sering menerima kombinasi terapi dan perawatan paliatif. Perawatan
biasanya termasuk dalam salah satu kategori seperti operasi, radiasi,
kemoterapi, immunoterapi, terapi hormon, atau terapi gen.
Prinsip
kerja pengobatan ini adalah dengan membunuh sel - sel kanker, mengontrol
pertumbuhan sel kanker, dan menghentikan pertumbuhannya agar tidak menyebar dan
mengurangi gejala-gejala yang disebabkan oleh kanker.
Operasi. Pembedahan merupakan
pengobatan tertua untuk kanker. Jika kanker belum bermetastasis, kemungkinan
besar pasien dapat disembuhkan sepenuhnya hanya dengan menyingkirkan tumor
dengan operasi. Hal ini sering terlihat pada penyingkiran prostat, payudara
atau testis. Setelah penyakit ini telah menyebar, tidak mungkin dapat
menyingkirkan semua sel kanker. Operasi juga dapat berperan besar dalam
membantu untuk mengontrol gejala seperti gangguan pencernaan atau kompresi
sumsum tulang belakang (Crosta, P., 2010).
Radioterapi. Radioterapi berarti
pengobatan kanker dengan menggunakan sinar radioaktif. Sinar X, elektron, dan
sinar γ (gamma) banyak digunakan dalam pengobatan kanker disamping partikel
lain. Pada prinsipnya apabila berkas sinar radioaktif atau partikel dipaparkan
ke jaringan, maka akan terjadi berbagai peristiwa antara lain peristiwa
ionisasi molekul air yang mengakibatkan terbentuknya radikal bebas di dalam sel
yang pada gilirannya akan menyebabkan kematian sel. Lintasan sinar juga
menimbulkan kerusakan akibat tertumbuknya DNA yang dapat diikuti kematian sel.
Radioterapi digunakan sebagai pengobatan mandiri untuk mengecilkan tumor atau
menghancurkan sel-sel kanker termasuk yang berkaitan dengan leukemia dan
limfoma, dan juga digunakan dalam kombinasi dengan pengobatan kanker lain
(Siswono, 2002).
Kemoterapi. Kemoterapi terkadang
merupakan pilihan pertama untuk menangani kanker. Kemoterapi bersifat
sistematik, berbeda dengan radiasi atau pembedahan yang bersifat setempat,
karenanya kemoterapi dapat menjangkau sel-sel kanker yang mungkin sudah
menjalar dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Penggunaan kemoterapi
berbeda-beda pada setiap pasien, kadang-kadang sebagai pengobatan utama, pada
kasus lain dilakukan sebelum atau setelah operasi dan radiasi. Tingkat keberhasilan
kemoterapi juga berbeda-beda tergantung jenis kankernya. Kemoterapi biasa
dilakukan di rumah sakit, klinik swasta, tempat praktek dokter, ruang operasi
dan juga di rumah (Crosta, P., 2010).
Imunoterapi. Imunoterapi digunakan
untuk merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker. Misal, vaksin
yang terdiri dari antigen diperoleh dari sel tumor bisa menaikkan fungsi tubuh
pada antibodi atau sel kekebalan (limfosit T). Walaupun mekanisme tepat pada
tindakan tidak benar-benar jelas, interferon mempunyai tugas di dalam
pengobatan beberapa kanker (Indonesian Pharmacist Update, 2009).
Terapi
hormone. Kanker
dikaitkan dengan beberapa jenis hormon, terutamanya kanker payudara dan kanker
prostat. Terapi hormon dirancang untuk mengubah produksi hormon dalam tubuh
sehingga sel-sel kanker berhenti berkembang atau dibunuh sepenuhnya. Terapi
hormon kanker payudara sering fokus pada pengurangan kadar estrogen (obat umum
untuk ini adalah tamoxifen) dan hormon terapi kanker prostat sering fokus pada
pengurangan kadar testosteron. Selain itu, beberapa kasus leukemia dan limfoma
dapat diobati dengan hormon kortison (Crosta, P., 2010).
Daftar Pustaka
American Cancer Society, 2009. Infections in People with Cancer.
Available from:
http://www.cancer.org/docroot/ETO/content/ETO_1_2X_Infections_in_Peop
le_with_Cancer.asp [Accessed 16 Mei 2016]
American Cancer Society, 2010. Detailed Guide: Cancer (General
Information): Signs and Symptoms of Cancer. Available from : http://www.cancer.org/docroot/CRI/content/CRI_2_4_3X_What_are_the_signs_and_symptoms_of_cancer.asp?sitearea= [Accessed 16 Mei 2016]
Arief, I 2009. Tujuh faktor risiko kanker prostat . National Cardiovascular Center
Harapan Kita. Available from :http://www.pjnhk.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=249
4&Itemid=32 [Accessed 16 Mei 2016]
Cancer Helps, 2009. Penyebab Kanker . Global Bioscience
2004-2009. Available from : http://www.cancerhelps.com/penyebab-kanker.htm
[Accessed 16 Mei 2016]
CancerHelp UK, 2009. Types of infections. Cancer Research UK.
Available from:
http://www.cancerhelp.org.uk/coping-with-cancer/copingphysically/fever/cause/infection/types-of-infections
[Accessed 16 Mei 2016]
Chacon, C.E. dan Mitchell, D.K.,
2009. Penyakit protozoa usus.
eMedicine from WebMed. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/999282- overview [Accessed 16 Mei 2016]
Crosta, P 2010. What is cancer? Medical News Today.
Available from : http://www.medicalnewstoday.com/info/cancer-oncology/whatiscancer.php
[Accessed 16 Mei 2016]
Goodgame, R.W., 1996. Understanding Intestinal Spore-Forming
Protozoa: Cryptosporidia, Microsporidia, Isospora, and Cyclospora. Annals
of Internal Medicine. American College of Physicians. Available from : http://www.annals.org/content/124/4/429.full
[Accessed 16 Mei 2016]
Halim, B. dan Sahil, M.F., 2001. Imunologi Kanker. Available from :
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16_ImunologiKanker.pdf/16_Imunolog
iKanker.html [Accessed 16 Mei 2016]
Harnawatiaj, 2008. Pendekatan Terpadu Percepat Penyembuhan
Kanker. Available from :
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/22/kanker/ [Accessed 16 Mei 2016]
Indonesian Pharmacist Update, 2009.
Imunoterapi pada Kanker. Available
from: http://farmasiindonesia.com/imunoterapi-pada-kanker.html KOMPAS, 2009.
[Accessed 16 Mei 2016]
J. Patrick, Chris., F. 2008. Pharmacoteraphy-A Pathofiologyc Approach
: Oncologi Disorder (Page 2085-2116). 7th Edition. United States
Kusmawan, E., 2009. Faktor-Faktor Pemicu Kanker. Available
from : http://images.linazahro.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Shv9kQ
KCIUAAHpq5gc1/Faktor%20resiko%20kanker.doc?nmid=247171353
[Accessed 16 Mei 2016]
National Cancer Institute, 2009. What Is Cancer? U.S. National Institutes
of Health. Available from : http://www.cancer.gov/cancertopics/what-is-cancer
[Accessed 16 Mei 2016]
Siswono, 2002. Peran Radioterapi pada Pengobatan Kanker. KOMPAS 6 Januari 2002.
Available from :
http://www.gizi.net/cgibin/berita/fullnews.cgi?newsid1010376116,48600,
[Accessed 16 Mei 2016]
Siswono, 2005. Penderita Kanker Terus Meningkat, Indonesia Kekurangan Dokter Bedah
Onkologi. Indonesian Nutrition Network. Available from :
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1111986431,81378,
[Accessed 16 Mei 2016]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar