Rabu, 07 Desember 2016

Tyroid Disorder

 
Tiroid adalah kelenjar endokrin besar yang terletak di pangkal leher bagian depan, dibawah lapisan kulit dan otot. Kelenjar tiroid berbentuk kupu-kupu dengan dua sayap yang merupakan lobus tiroid kiri dan kanan di sekitar trakea. Fungsi tunggal tiroid adalah membuat hormon tiroid (tiroksin dan triidotironin) yang berperan meningkatkan aktivitas metabolisme pada hampir semua jaringan tubuh. Kelenjar tiroid dikontrol oleh kelenjar pituitari , yang mengeluarkan hormon pemacu tiroid (TSH).

Kelenjar tyroid terletak dibagian bawah leher, antara fascia koli media dan fascia pre vertebralis. Di dalam ruang yang sama terletak trakhea, esofagus, pembuluh darah besar, dan syaraf. Kelenjar tyroid melekat pada trakhea sambil melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat lingkaran. Keempat kelenjar paratyroid umumnya terletak pada permukaan belakang kelenjar tyroid (Syamsuhidayat R, 1998).

Tyroid terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan oleh istmus dan menutup cincin trakhea 2 dan 3. Kapsul fibrosa menggantungkan kelenjar ini pada fasia pretrakhea sehingga pada setiap gerakan menelan selalu diikuti dengan terangkatnya kelenjar kearah kranial. Sifat ini digunakan dalam klinik untuk menentukan apakah suatu bentukan di leher berhubungan dengan kelenjar tyroid atau tidak (Djokomoeljanto, 2001).

Kelenjar tiroid berperan mempertahankan derajat metabolisme dalam jaringan pada titik optimal. Hormon tiroid merangsang penggunaan O2 pada kebanyakan sel tubuh, membantu mengatur metabolisme lemak dan hidrat arang, dan sangat diperlukan untuk pertumbuhan serta maturasi normal. Apabila tidak terdapat kelenjar tiroid, orang tidak akan tahan dingin, akan timbul kelambanan mental dan fisik, dan pada anak-anak terjadi retardasi mental dan dwarfisme. Sebaliknya, sekresi tiroid yang berlebihan menimbulkan penyusutan tubuh, gugup, takikardi, tremor, dan terjadi produksi panas yang berlebihan.

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4) yang kemudian berubah menjadi bentuk aktifnya yaitu triyodotironin (T3). Iodium nonorganik yang diserap dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid. Zat ini dipekatkan kadarnya menjadi 30-40 kali sehingga mempunyai afinitas yang sangat tinggi di dalam jaringan tiroid. T3 dan T4 yang dihasilkan ini kemudian akan disimpan dalam bentuk koloid di dalam tiroid. Sebagian besar T4 kemudian akan dilepaskan ke sirkulasi sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar yang kemudian mengalami daur ulang. Di sirkulasi, hormon tiroid akan terikat oleh protein yaitu globulin pengikat tiroid (thyroid binding globulin, TBG) atau prealbumin pengikat albumin (thyroxine binding prealbumine, TBPA).

Hormon stimulator tiroid (thyroid stimulating hormone, TSH) memegang peranan terpenting untuk mengatur sekresi dari kelenjar tiroid. TSH dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Proses yang dikenal sebagai negative feedback sangat penting dalam proses pengeluaran hormon tiroid ke sirkulasi. Dengan demikian, sekresi tiroid dapat mengadakan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan di dalam maupun di luar tubuh. Juga dijumpai adanya sel parafolikuler yang menghasilkan kalsitonin yang berfungsi untuk mengatur metabolisme kalsium, yaitu menurunkan kadar kalsium serum terhadap tulang.

Pengukuran TSH menjadi hasil test yang jelas dari fungsi tiroid pada banyak keadaan. Nilai TSH berkisar antara rentang luar mayor dari kasus primer penyakit tiroid. Jika TSH tidak normal, lihat nilai dari T4 bebas/ free T4 (fT4). Ketika ada faktor resiko, lihat free T3 (fT3) ketika fT4 normal dan diduga ada tirotoksikosis.

Ptofisiologi
Karsinoma tiroid merupakan neoplasma yang berasal dari kelenjar yang terletak di depan leher yang secara normal memproduksi hormone tiroid yang penting untuk metabolisme tubuh. Infiltrasi karsinoma tiroid dapat ditemukan di trachea, laring, faring, esophagus, pembuluh darah karotis, venajugularis, struktur lain pada leher dan kulit.

Metastase limfogen dapat meliputi semua region leher sedangkan metastase hematogen biasanya di paru, tulang, otak dan hati. Kanker ini berdiferensiasi mempertahankan kemampuan untuk menimbun yodium pembesaran kelenjar getah bening. Lokasi kelenjar getah bening yang bisa makin besar dan bisa teraba pada perabaan yakni pada ketiak, lipat paha, ada pula yang tidak dapat di raba yakni berada di dalam rongga perut.  Penyebab besarnya kelenjar getah bening adalah infeksi non spesifik, infeksi spesifik (TBC), keganasan (lymphoma).

Hormone stimulator tiroid (TSH) memegang peranan penting untuk mengatur sekresi dari kelenjar tiroid. TSH dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Proses yang dikenal sebagai negative feedback sangat penting dalam proses pengeluaran hormone tiroid ke sirkulasi.

Kelenjar tiroid terdiri dari sel-sel epitel kubus rendah yang tersusun membentuk kantung kantung kecil, folikel-folikel yang merupakan unit structural, fungsional, dan sekresi kelenjar tiroid.

Hormon-hormon tiroid. Ada dua jenis hormone tiroid utama yaitu tiroksin (T4) dan riiodothyronine (T3). Keduanya tersussu oleh 2 residu tirosil yang terikan melalui eter dan digantikan oleh 4 atau 3 residu yodium. Kuantitatif terbanyak adalah T4 sebagai hormone utama dan sedikit T3. T3 merupakan hormone yang aktif biologis (potensi metabolic 3x daripada T4), dan T4 dianggap sebagai prekursor atau prohormon yang bila diperlukan dipecah di jatringan untuk membentuk T3.

Enzin tiroperoksidase adalah salah satu enzim utama yang disintesis didalam reticulum endoplasma tirosit da mengoksidasi yodium memfasilitasi pembentukan T3 dan T4. Yodium merupakan unsure terpenting hormone tiroid, menyusun 65% dari berat T4 dan 58% dari berat T3. Di jaringan perifer misalnya hati terjadi deyonisasi T4 menghasilkan T3 dan reverse T3 (rT3). rT3 ini tidak mempunyai keaktifan biologis.

Sekresi hormone tiroid. Didalam kelenjar tiroid, hormone T3 dan T4 terikat kepada tiroglobulin. Oleh bimbingan hormone TSH terjadi pengeluaran T4 dengan sedikit T3 dan tiroglobulin. Pada keadaan normal, ada variasi diurnal TSH dengan meningkat 2-3x dari nilai dasar pada pk 10-11 malam dan menurun pada pk 10-11 pagi. Sekresi TSH diatur oleh kadar hormone tiroid yang beredar melalui mekanisme ummpan balik negative dan hormone pelepas tirotropin yang dikeluarkan oleh hipotamalus.

T4 diproduksi lebih banyak dan di dapatkan kadar lebih tinggi di plasma dengan kadar lebih tinggi daripada T3. Masa paruh T4 4-6hari, sedangkan T3 hanya 1 hari. Sebagian besar T4 terikat langsung dengan protein globulin pengikat protein(TBG)  dan 10-15% dengan pra albumin pengikat tiroksin serta 5% dengan albumin. Kurang dari 1% dalam bentuk bebas tidak terikat, free T3 dan free T4 yang merupakan fraksi aktif biologis, umumnya tidakn terpengaruh oleh kelainan protein pengikat tiroid. Hormone T4 terikat kuat dengan TBG sedangkan T3 tidak terikat kuat dengan TBG tetapi terikat kuat dengan TBPA dan albumin. Sebagian besar kadar T3 serum (>75%0 dihasilkan dari konversi T4 menjadi T3 berkurang dari konversi menjadi reverse T3(rT3) meningkat.

Sintesis, Sekresi, dan Angkutan Hormon. Folikel-folikel kelenjar tiroid berperan penting dalam pengaturan unur-unsur yang diperlukan untuk sintesis hormon tiroid. Tiroglobulin mengisi folikel dan memicu sintesis hormone tiroid. Sel epitel tiroid mempunyai simporter yodium (sodium-iodide symporter) di membrane dasar yang memekatkan yodium sirkulais dari darah. Didalam sel yodium segera diangkut ke lumen folikel.

Pada bagian ujung membrane plasma sel epitel tiroid terdapat tiroid peroksidase (TPO) yang mengkatalisis reaksi pembentukan hormone tiroid. Pertama , yodida dioksidasi menjadi yodium yang lalu yodinasi tirosin membentuk T3 dan atau T4. Peptide pengikat antar hormone tiroid dan tiroglobulin kemudian dipecah secara enzimatik. Koloid mengandung hormone tiroid diinternalisasi pada permukaan ujung sel-sel epitel tiroid. Lisosom,yang mengandung enzim hidrolitik, menyatu dengan endosom dan melepaskan hormone tiroid bebas berdifusi ke dalam darah, bergabung dengan proyetein pengikat yang dihasilkan oleh hati untuk diangkut ke jaringan lain. Reaksi ini bersifat reversible.

TSH yang di sekresi oleh hipofisis bagian depan, mengatur sintesis dan sekresi hormone tiroid. Sebaliknay sekresi TSH diatur oleh TRH dari hipotalamus. Secara umum, kadar tiroid darah diatas kadar normal akan menghambat penglepasan TRH dan TSH. Kadar TSH yang meningkat berkaitan dengan peningkatan proliferasi sel tiroid dan perangsangan produksi T3dan T4.

Pengaruh fisioogis hormone tiroid. Fungsi utama T3 adalah mengatur metabolisme karbohidrat dan protein didalam semua sel. Karena itu, perubahan T3 dapat mempengaruhi semua sistem organ tubuh tertuama sistem kardiovaskular, saraf, imun, dan reproduksi. Tiroid pengatur pertumbuhan, metabolisme  respirasi selular, penggunaan energy total, serta berperan penting pada prkembangan dan diferensiasi jaringan. T3 juga dapat berinteraksi dengan dan memodulasi kerja sistem hormone lain misalnya hormone pertumbuhan dan steroid, substrat, dan vitamin.

Metabolisme dan eksreksi hormone tiroid. Keaktifan hormone tiroid diregulasi oleh 3 jalur enzimatik terpisah yaitu deyodinasi, glukoronidasi, dan sulfasi. Deyodinasi berperan utama. Hampir 80% dari produksi dan metabolisme intraselular hormone tiroid berjalan dengan pemindahan sekuensial yodium dari molekul. Deyodinasi tipe I dan II mengubah T4 menjadi T3 di jaringan perifer. Deyodinasi tipe I juga membentuk rT3 dari T4, tipe III mengkatalisisi konversi T4 dan T3 menjadi rT3 dan DIT (T2), T2 akan menjadi MIT. Keaktifan enzim deyodinasi dapat diatur oleh kadar T3 dan T4 serta enzim deyodinase lain.

Hormone tiroid primer di glukoronidasi oleh enzim uridin diphosphat glukoronasil (UDP-GT) dan diekskresi oleh ginjal. Glukoronidasi menjadi penting bila kadar T3 meningkat. Keaktifan UDPGT dapat dimodulasi oleh berbagai xenobiotics. Sulfas T3  memfasilitasi metabolisme T3 oleh enzim deyodinasi tipe I. pada janin, bila tiada deyodinasi t4, maka sumber T3 didapat dari T3-sulfat, yang dibentuk oleh sulfatase dari jaringan dan bekteri usus.

Klasifikasi Gangguan Tiroid
Pada orang dewasa dikenal 4 jenis kelainan/gangguan tiroid. Pertama dan kedua, gangguan fungsi atau keseimbangan homeostasis beryupa kekurangan hormone tiroid (hipotiroid) dan kelebihan hormone tiroid (hipertiroid). Ketiga, kelainan berupa pembesaran kelenjar tiroid. Dan keempat, kelainan hormone tiroid disertai gangguan klinis. Perlu pula diperhatikan pengaruh obat-obatan terhadap fungsi tiroid.

Hipotiroid. Dipotiroid dapat dibedakan antara yang klinis jelas (overt) dan klinis tidak jelas (subklinis). Hipotiroid subklinis didefinisikan sebagai keadaan dengan kadar TSH meningkat ringan dan kadar T3 dan T4 normla disertai dengan sedikit / tanpa gejala klinis. Prevalensi meningkat dengan bertambahnya usia baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian besar pasien dengan antibody TPO positif dan akan berkembang menjadi hipotiroid klinis. Hipotiroid klinis merupakan kelainan klinis yang paling umum terjadi, yang didefinisikan sebagai kadar TSH tinggi dan T4 rendah dalam serum. Penyebab utamanya kadar yodium yang tidak cukup atau asupan yodium rendah. Didaerah dengan asupan yodium cukup, penyebab utamanya adalah tiroiditis hashimoto yaitu suatu penyakit autoimun disebabkan oleh autoantibody terhadap TPO. Penyebab lainnya penyakit autoimun lain dan radiasi. Perempuan lebih banyak terkena.

Berdasarkan penyebabnya dibeakan menjadi hipotiroid primer dan hipotiroid sekunder. Yang primer misalnya penyakit hashimoto atau tiroiditis autoimun kronis, pengangkatan kelenjar tiroid karena pembedahan, pengobatan tiroid dengan yodium radioaktif, radiasi eksternal, gangguan metabolisme yodium, kelebihan atau kekurangan yodium, limfoma kelenjar tiroid, tiroiditis pasca partus, pengobatan (antitiyoid, litium, interferon atau bahan kimia penyebab goiter). Hipotiroid sekunder disebabkan oleh penyakit hipofisis dan hipotalamus. Diperkirakan 1 dari 100 wanita usia reproduktif mengalami hipotiroid. Tanda dan gejala hipotiroid bervariasi berdaarkan perseorangan, penyebab dan lamanya. Hipotiroid klinis yang tidak diobati selama kehamilan dapat meningkatkan kejadian anemis, hipertensi, preeklamsia, dan disfungsi jantung pada ibu, serta abortus spontan, berat badan lahir rendah, kematian janin atau lahir mati, dan mungkin gangguan perkembangan otak janin. Hipotiroid berat maternal pada trimester kedua dapat menyebabkan gangguan neurologi yang tidak dapat pulih, sedangkan apda trimester ketiga gangguan lebih ringan dan mungkin dapat dipulihkan sebagian.

Pembesaran kelenjar tiroid (goiter). Pembesaran kelenjar tiroid dapat merata atau nodular, tunggal atau banyak. Goiter biasanya disebabkan berkepanjangan oleh TSH atau zat serupa TSH baik pada hipotiroid maupun hipertiroid dan dapat pula pada keadaan eutiroid. Penyebab tersering adalah defisiensi yodium.

Hipertiroidisme. Hipertiroid terjadi ketika jaringan terpapar oleh kelebihan T4, T3 dan atau keduanya. Tumor pituitary yang mensekresi TSH melepaskan hormone aktif secara biologi yang tidak member respon pada kontrol umpan balik normal.tumor  dapat menghasilkan prolaktin atau horon pertumbuhan . oleh karena itu pasien mengalami amenhorea, galaktorhea, atau akromegali. Hipertiroid yang terjadi akibat penguraian dari hormone tiroid eksogen karena penggunaan obat hormone tiroid yang tidak tepat disebut tirotoksikosis faktitia. Obat amiodaron mampu menginduksi hipotiroidisme karena amiodaron memicu konversi T4 menjadi t3 dan iodida dilepaskan dari obat dapat mempengaruhi jumlah iodide.

Etiologi
Etiologi dari penyakit ini belum pasti yang berperan khususnya untuk terjadi well differentiated ( papiler dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis dan untuk jenis meduler adaalh factor anaplastik dan meduler. Diperkirakan kanker jenis anaplastik berasal dari perubahan kanker tiroid berdiferensi baik ( papiler dan folikuler) dengan kemungkinan jenis folikuler dua kali lebih besar.

Radiasi merupakan slaah satu factor etiologi kanker tiroid. Bnayak kasus kanker pada anak- anak- anak sebelumnya mendapatkan radiasi pada kepala dan leher karena penyakit lain. Biasanya efek radiasi timbul setelah 5-25 tahun, tetapi rata-rata 9-10 tahun. Stimulasi TSH yang lama juga merupakan salah satu faktor etioplogi kanker tiroid. Faktor lainnya adalah adanya riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun.

Diagnosa Hipotiroid
Pada tiroiditis Hashimoto, pemeriksaan goiter yang terbentuk dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan fisik, dan keadaan hipotiroid diketahui dengan identifikasi gejala dan tanda fisik yang khas, serta melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Peningkatan antibodi antitiroid merupakan bukti laboratorik paling spesifik pada tiroiditis Hashimoto, namun tidak semuanya dijumpai pada kasus. Pemeriksaan hormon tiroid biasanya diperiksa kadar TSH. Dikatakan hipotiroid apabila terjadi peningkatan kadar TSH.

Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan secara histopatologis melalui biopsi. Kelainan histopatologisnya dapat bermacam – macam yaitu antara lain infiltrasi limfosit yang difus, obliterasi folikel tiroid, dan fibrosis. Aspirasi jarum halus biasanya tidak dibutuhkan pada penderita tiroiditis ini, namun dapat dijadikan langkah terbaik untuk diagnosis padakasus yang sulit dan merupakan prosedur yang dibutuhkan jika nodul tiroid terbentuk .

Hipotiroid merupakan akibat yang sering terjadi setelah lobektomi yang sangat mempengaruhi hasil akhir operasi dan kualitas hidup pasien. Hampir 100% mengalami peningkatan kadar TSH. Tetapi peningkatan kadar TSH tidak selalu menjadi patokan untuk memulai terapi hormon. Semakin awal dideteksi dapat mencegah terjadinya keluhan dan komplikasinya (Wiseman, 2011).

Kelenjar tiroid yang teraba atau membesar dan uji positif terhadap autoantiboditiroid akan mengarahkan pada adanya tiroiditis Hashimoto yang mendasari, padakasus mana terapi harus diteruskan. Jika antibodi tidak ada, terapi harusdihentikan selama 6 minggu. Masa penghentian 6 minggu diperlukan karenawaktu paruh tiroksin cukup panjang (7 hari) dan memungkinkan kelenjar tiroid penyembuhan kembali setelah penekanan yang cukup lama. Pola penyembuhanfungsi tiroid setelah penghentian T4. Padaindividu hipotiroid, TSH menjadi jelas meningkat pada 5-6 minggu dan T4 tetapnormal, kemudian keduanya normal setelah 6 minggu pada pengawasan eutiroid.

Gambaran klinis miksedema yang lengkap biasanya cukup jelas, tapi gejalagejaladan tanda-tanda hipotiroidisme ringan dapat sangat tidak jelas. Pasiendengan hipotiroidisme akan datang dengan gambaran tak lazim : neurasteniadengan gejala kram otot, parestesia, dan kelemahan; anemia; gangguan fungsireproduksi, termasuk infertilitas, keterlambatan pubertas atau menoragia; edemaidiopatik, efusi pleurokardial; pertumbuhan terhambat; obstipasi; rinitis kronisatau suara parau karena edema mukosa nasal atau pita suara; dan depresi beratyang terus berlanjut menjadi ketidakstabilan emosional atau bahkan jelas-jelaspsikosa paranoid. Pada kasus s eperti ini, pemeriksaan diagnostik akan memastikan atau menyingkirkan hipotiroid sebagai faktor penunjang.

Pengaruh Hipotiroidisme Terhadap Organ

Pada sistem kardiovaskuler
Efek terhadap curah jantung (Cardiac Output). Efek hipotiroidisme terhadap fungsi jantung merupakan hal yang paling penting untukdapat memprediksi keberhasilan tindakan bedah. Kelainan kardiovaskuler pada pasienhipotiroidisme diantaranya yaitu gangguan pada kontraktilitas jantung dengan penurunancurah jantung, peningkatan resistensi pembuluh darah perifer, dan penurunan volume darah. Adanya peningkatan resistensi pembuluh darah perifer pada hipotiroidismemerupakan akibat langsung dari kekurangan hormon tiroid. Peningkatan resistensi pembuluhdarah sistemik pada hipotiroidisme ini menyebabkan penurunan kebutuhan akan oksigen darijaringan perifer, yang akhirnya mengakibatkan peningkatan afterload jantung. Hal ini akandiikuti dengan adanya penurunan curah jantung dan denyut jantung. Efek terhadap tekanandarah juga terlihat dengan peningkatan tekanan diastolik dan penurunan tekanan sistolik,sehingga tekanan nadi juga berkurang.

Perubahan molekuler. Perubahan molekuler yang mendasari terjadinya kelainan kardiovaskuler padahipotiroidisme adalah terdapatnya gangguan penyerapan kalsium pada retikulum sitoplasmikdan penekanan aktivitas dari myosin ATP-ase yang memberikan pengaruh terhadapkontraktilitas miokard. Adanya penurunan penyerapan kalsium dan aktivitas hidrolisis ATPterhadap kalsium ditingkat retikulum sitoplasmik dan penurunan reseptor β adrenergik akanmenyebabkan penurunan kontraktilitas miokard. Efek ini dapat dilihat sebagai pengaruhhormon tiroid pada miosit jantung terhadap transkripsi gen klasik nuklir.

EKG. Bradikardi merupakan gambaran EKGyang paling sering ditemukan pada hipotiroidisme. Disamping itu dapat juga ditemukangambaran low voltage, PR interval memanjang, adanya pemanjangan gelombang P dankompleks QRS, dan juga adanya perubahan ST yang tidak spesifik. Tapi kekurangan hormontiroid bukan satu-satunya penyebab gangguan irama dan perubahan EKG, sehinggakecurigaan adanya penyebab hipotiroidisme yang lain harus dicari, terutama pada pasiendengan riwayat sakit jantung yang sedang menjalani tindakan bedah.

Pengaruh hipotiroidisme pada sistem pernafasan
Beberapa kelainan pada fungsi pernapasan pasien hipotiroidisme yaitu adanyapenurunan kapasitas pernafasan maksimal dan kemampuan untuk menyebarkan karbonmonoksida. Kemampuan untuk mengatasi keadaan hipoksia ventilasi pada hipotiroidismesangat rendah, dan pengendalian terhadap hiperkapnia ventilasi juga sangat sering terganggu.Satu dari banyak faktor yang terlibat sebagai penyebab gangguan fungsi pernafasan adalahadanya kelemahan otot pernapasan. Gangguan fungsi otot pernafasan ini merupakan hasildari perubahan intrinsik (seperti yang disebabkan oleh ekspresi gen yang berubah dari produkgen dalam sel-sel otot) dan disfungsi dari saraf frenikus. Efek langsung dari hipotiroidisme terhadap fungsi paru tidak ada. Hormon inimempengaruhi produksi surfaktan oleh sel pneumocytes tipe II. Hal ini akan menyebabkanterjadinya kerusakan paru dan perburukan fungsi paru.

Pengaruh hipotiroidisme pada fungsi ginjal
Efek hipotiroidisme pada fungsi ginjal yaitu terdapatnya penurunan perfusi ginjal,peningkatan hormon antidiuretik (ADH), penurunan faktor natriuretik atrium (ANF), danpenurunan aktifitas sistem renin-angiotensin-aldosteron. Hiponatremi dapat terjadi padahipotiroidisme tetapi natrium total tubuh meningkat dan sebahagian besar terikat denganmukopolisakarida ekstraseluler. Hiponatremia pada hipotiroidisme ini harus dicermati padapasien bedah yang nantinya akan menyebabkan terjadinya perburukan fungsi ginjal padaperiode perioperatif.

Pengaruh hipotiroidisme pada sistem hematopoitik dan koagulasi
Sekitar 25% sampai 50% dari keadaan hipotiroidisme ditemukan adanya anemia.Biasanya jenis anemianya normositik normokrom dan memiliki cadangan besi yang normal,dengan sumsum tulang yang hiposeluler dengan diferensiasi sel darah merah yang normal.Kekurangan zat besi kadang-kadang dapat terlihat, terutama pada wanita yang premenopauseyang mengalami menorrhagia karena hipotiroidismenya. Kadang-kadang ditemukan anemiapernisiosa dan defisiensi vitamin B12 yang dapat memberikan gambaran makrositik. Pasien hipotiroidisme cendrung mudah berdarah, mengalami menorragia, waktuperdarahan yang memanjang pada ekstraksi gigi. Gangguan hemostasis paling sering berupapemanjangan waktu perdarahan, faktor Von Willebrand yang rendah. Keadaan ini dapatditerapi dengan pemberian desmopresin karena dapat merangsang pelepasan faktor VIII darisel endotel dan trombosit.

Pengaruh hipotiroidisme pada sistem pencernaan
Hipotiroidisme dapat mengalami konstipasi kronik,atoni dan hipomotiliti dari saluran gastrointestinal yang dapat berlanjut menjadi ileus paralitikatau “ ileus Miksedema”. Distensi yang berat dari bagian lain di saluran pencernaan(misalnya, kerongkongan, perut, dan duodenum) juga bisa terjadi. Sangat mungkin efekpembedahan pada hipotiroidisme dapat memperburuk komplikasi dan hasil akhirpembedahan dengan meningkatnya morbiditas atau bahkan mortalitas.

Beberapa faktor molekuler dan seluler dapat berperan untuk disfungsi gastrointestinalpada hipotiroidisme. Dimana hormon tiroid merangsang aktivitas Na-K ATPase danpenyerapan natrium di usus. Lambung merupakan daerah target yang penting untuk hormontiroid, sehingga hipogastrinemia sering ditemukan pada hipotiroidisme. Terdapat sebuahsirkulasi enterohepatik dari hormon tiroid yang memiliki efek langsung terhadap fungsi usus.Hormon tiroid dapat memberikan efek terhadap sekresi hormon saluran pencernaan sepertipolipeptida intestinal vasoaktif. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya malabsorpsi danmemburuknya motilitas usus yang dapat dilihat pada pasca operasi (terutama setelah reseksiusus) yang bisa diperburuk dengan adanya hipotiroidsme.

Diagnosa Hipertiroidisme
Diagnosis hipertiroidisme ditegakkan tidak hanya berdasarkan gejala dantanda klinis yang dialami pasien, tetapi juga berdasarkan hasil laboratorium dan radiodiagnostik.

TSH. Thyroid stimulating hormone (TSH) merupakan hormon yang diproduksi oleh hipofisis untuk menstimulasi pembentukan dan sekresi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Pada kondisi normal terdapat negative feedback pada pengaturan sekresi TSH dan hormon tiroid di sistem pituitarythyroid axis. Apabila kadar hormon tiroid di aliran darah melebihi normal, maka hipofisis akan mengurangi sekresi TSH yang pada akhirnya akan mengembalikan kadar hormon tiroid kembali normal. Sebaliknya apabila kadar hormon tiroid rendah maka hipofisis akan mensekresi TSH untuk memacu produksi hormon tiroid.

Bahn et al (2011), menyarankan pemeriksaan serum TSH sebagai pemeriksaan lini pertama pada kasus hipertiroidisme karena perubahan kecil pada hormon tiroid akan menyebabkan perubahan yang nyata pada kadar serum TSH. Sehingga pemeriksaan serum TSH sensitivitas dan spesifisitas paling baik dari pemeriksaan darah lainnya untuk menegakkan diagnosis gangguan tiroid. Pada semua kasus hipertiroidisme (kecuali hipertiroidisme sekunder atau yang disebabkan produksi TSH berlebihan) serum TSH akan sangat rendah dan bahkan tidak terdeteksi (<0.01 mU/L). Hal ini bahkan dapat diamati pada kasus hipertiroidisme ringan dengan nilai T4 dan T3 yang normal sehingga pemeriksaan serum TSH direkomendasikan sebagai pemeriksaan standar yang harus dilakukan (Bahn et al, 2011).

T4 dan T3. Pemeriksaan serum tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) direkomendasikan sebagai pemeriksaan standar untuk diagnosis hipertiroidisme. Pemeriksaan utamanya dilakukan pada bentuk bebas dari hormon tiroid karena yang menimbulkan efek biologis pada sistem tubuh adalah bentuk tak terikatnya. Pada awal terapi baik dengan obat anti tiroid, iodine radioaktif dan tiroidektomi pemeriksaan kadar hormon tiroid perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi sebelum terapi. Satu bulan setelah terapi perlu dilakukan pemeriksaan terhadap free T4, total T3 dan TSH untuk mengetahui efektivitas terapi yang diberikan dan pemeriksaan dilakukan setiap satu bulan hingga pasien euthyroid (Bahn et al, 2011). Selain itu dari rasio total T3 dan T4 dapat digunakan untuk mengetahui etiologi hipertiroidisme yang diderita pasien. Pada pasien hipertiroidisme akibat Graves’ Disease dan toxic nodular goiter rasio total T3 dan T4> 20 karena lebih banyak T3 yang disintesis pada kelenjar tiroid hiperaktif dibandingkan T4 sehingga rasio T3 lebih besar. Sedangkan pada pasien painless thyroiditis dan post-partum thyroiditis rasio total T3 dan T4< 20 (Bahn et al, 2011; Baskin et al, 2002).

Menurut Beastall et al (2006), monitoring pada pasien hipertiroidisme yang menggunakan obat anti tiroid tidak cukup hanya ditegakkan dengan pemeriksaan kadar TSH. Hal ini disebabkan pada pasien hipertiroidisme terutama Graves’ disease kadar TSH ditemukan tetap rendah pada awal pemakaian obat anti tiroid sehingga untuk melihat efektivitas terapi perlu dilakukan pemeriksaan kadar T4 bebas.

Thyroid Receptor Antibodies (TRAb). Dalam menegakkan diagnosis hipertiroidisme akibat autoimun atau Graves’ disease perlu dilakukan pemeriksaan titer antibodi. Tipe TRAb yang biasanya diukur dalam penegakan diagnosis Graves’ disease adalah antithyroid peroxidase antibody (anti-TPOAb), thyroid stimulating antibody (TSAb), dan antithyroglobuline antibody (anti-TgAb). Ditemukannya TPOAb, TSAb dan TgAb mengindikasikan hipertiroidisme pasien disebabkan karena Graves’ disease. TPOAb ditemukan pada 70–80% pasien, TgAb pada 30–50% pasien dan TSAb pada 70–95% pasien (Joshi, 2011). Pemeriksaan antibodi dapat digunakan untuk memprediksi hipertiroidisme pada orang dengan faktor risiko misal memiliki keluarga yang terkena gangguan tiroid dan tiroiditis post partum.Pada wanita hamil yang positif ditemukan TPOAb dan TgAb pada trimester pertama memiliki kemungkinan 30 – 50% menderita tiroiditis post partum (Stagnaro-Green et al, 2011).

Radioactive Iodine Uptake. Iodine radioaktif merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui berapa banyak iodine yang digunakan dan diambil melalui transporter Na+/I- di kelenjar tiroid. Pada metode ini pasien diminta menelan kapsul atau cairan yang berisi iodine radioaktif dan hasilnya diukur setelah periode tertentu, biasanya 6 atau 24 jam kemudian.
Pada kondisi hipertiroidisme primer seperti Graves’ disease, toxic adenoma dan toxic multinodular goiter akan terjadi peningkatan uptake iodine radioaktif. Pemeriksaan ini dikontraindikasikan bagi pasien wanita yang hamil atau menyusui (Beastall et al, 2006).

Scintiscanning. Scintiscanning merupakan metode pemeriksaan fungsi tiroid dengan menggunakan unsur radioaktif. Unsur radioaktif yang digunakan dalam tiroid scintiscanning adalah radioiodine (I131) dan technetium (99mTcO4-). Kelebihan penggunaan technetium radioaktif daripada iodine diantaranya harganya yang lebih murah dan pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat. Namun kekurangannya risiko terjadinya false-positive lebih tinggi, dan kualitas gambar kurang baik dibandingkan dengan penggunaan radioiodine (Gharib et al, 2011). Karena pemeriksaan dengan ultrasonography dan FNAC lebih efektif dan akurat, scintiscanning tidak lagi menjadi pemeriksaan utama dalam hipertiroidisme. Menurut Gharib et al (2010), indikasi perlunya dilakukan scintiscanning di antaranya pada pasien dengan nodul tiroid tunggal dengan kadar TSH rendah dan pasien dengan multinodular goiter. Selain itu dengan scintiscanning dapat diketahui etiologi nodul tiroid pada pasien, apakah tergolong hot (hiperfungsi) atau cold (fungsinya rendah).

Ultrasound Scanning. Ultrasonography (US) merupakan metode yang menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi untuk mendapatkan gambaran bentuk dan ukuran kelenjar tiroid. Kelebihan metode ini adalah mudah untuk dilakukan, noninvasive serta akurat dalam menentukan karakteristik nodul toxic adenoma dan toxic multinodular goiter serta dapat menentukan ukuran nodul secara akurat (Beastall et al, 2006). Pemeriksaan US bukan merupakan pemeriksaan utama pada kasus hipertiroidisme. Indikasi perlunya dilakukan pemeriksaan US diantaranya pada pasien dengan nodul tiroid yang teraba, pasien dengan multinodulargoiter, dan pasien dengan faktor risiko kanker tiroid (Gharib et al, 2010).

Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC). FNAC merupakan prosedur pengambilan sampel sel kelenjar tiroid(biopsi) dengan menggunakan jarum yang sangat tipis. Keuntungan darimetode ini adalah praktis, tidak diperlukan persiapan khusus, dan tidakmengganggu aktivitas pasien setelahnya. Pada kondisi hipertiroidisme dengannodul akibat toxic adenoma atau multinodular goiter FNAC merupakan salahsatu pemeriksaan utama yang harus dilakukan untuk membantu menegakkandiagnosis Hasil dari biopsi dengan FNAC ini selanjutkan akan dianalisis dilaboratorium. Hasil dari biopsi pasien dapat berupa tidak terdiagnosis (jumlahsel tidak mencukupi untuk dilakukan analisis), benign (non kanker),suspicious (nodul dicurigai kanker), dan malignant (kanker) (Bahn et al, 2011;Beastall et al, 2006). Menurut Ghorib et al (2011) pada pasien dengan nodul berukurankecil yang tidak tampak atau tidak teraba, maka FNAC perlu dilakukandengan bantuan ultrasonography. Selain itu penggunaan bantuanultrasonography juga disarankan pada kondisi pasien dengan multinodular goiter dan obesitas.

Tata Laksana Terapi
Berdasarkan disfungsi organ yang terkena, hipotiroid dibagi dua yaitu hipotiroid primer dan hipotiroid sentral.. Hipotiroid primer berhubungan dengan defek pada kelenjar tiroid itu sendiri yang berakibat penurunan sintesis dan sekresi hormon tiroid, sedangkanhipotiroid sentral berhubungan dengan penyakit penyakit yang mempengaruhi produksi hormon thyrotropin releasing hormone (TRH) oleh hipothalamus atau produksi tirotropin(TSH) oleh hipofisis (Roberts & Ladenson, 2004).

Hipotiroid berdasarkan kadar TSH dibagi beberapa kelompok yaitu:
TSH < 5,5 μIU/L è normal
5,5 μIU/L ≤ TSH < 7 μIU/L è Hipotiroid ringan
7 μIU/L ≤ TSH < 15 μIU/L è Hipotiroid sedang                  
TSH ≥ 15 μIU/L è Hipotiroid berat

Selain itu pasien dinyatakan hipotiroid klinis jika dijumpai peninggian kadar TSH (TSH ≥ 5,5 μIU/L) disertai adanya simptom seperti fatique,peningkatan BB, gangguan.siklus haid, konstipasi, intoleransi dingin, rambut dan kuku rapuh (Wiseman, 2011).

Terapi Farmakologi

Hipertiroid
Thiourea (Thionamide)
Propylthiouracil (PTU) dan  methimazole (MMI) mem-block sintesis hormon tiroid dengan inhibisi sistem enzim peroksidase dari kelenjar tiroid, sehingga mencegah oksidasi iodida dan berkutnya penyertaan membentuk iodotirosin dan akhirnya iodotironin (‘organifikasi’), dan dengan inhibisi penggabungan MIT dan DIT membentuk T4 dan T3. PTU (tapi bukan MMI) juga meng-inhibit perubahan perifer dari T4 menjadi T3.

Contoh dosis awal termasuk PTU 300-600 mg sehari (biasanya dalam tiga sampai empat dosis terbagi) atau MMI 30-60 mg sehari dalam tiga dosis terbagi. Terdapat bukti bahwa kedua obat bisa diberikan dalam dosis harian tunggal.

Perbaikan pada simtom dan abnormalitas laboratorium semestinya muncul dalam 4-8 minggu, sewaktu dosis bisa diturunkan menjadi dosis penjagaan. Perubahan dosis sebaiknya dilakukan tiap bulan karena T4 endogen akan mencapai kondisi tunak dalam interval ini. Dosis penjagaan harian adalah PTU 50-300 mg dan MMI 5-30 mg.

Terapi obat antitiroid sebaiknya dilanjutkan sampai 12-24 bulan untuk memicu remisi jangka panjang.

Pasien sebaiknya diawasi tiap 6-12 bulan setelah remisi. Jika terjadi serangan ulang, terapi alternatif dengan radioactive iodine (RAI) disukai sebagai rangkaian obat antitiroid kedua, karena terapi lanjutan biasanya jarang memicu remisi.

Efek samping minor termasuk pruritic maculopapular, arthralgia (= sakit pada persendian), demam, dan lukopenia ringan (hitung darah putih <4000/mm3). Thiourea alternatif bisa dicoba pada situasi ini, tapi cross-sensitivity (reaksi sensitivitas antar obat) terjadi pada 50% pasien.

Efek samping mayor termasuk agranolusitosis (dengan demam, merasa lemah, gingivitis, infeksi oropharyngeal, dan hitung granulosit <250/mm3), anemia aplastik, sindroma seperti-lupus, polymyositis (= kondisi yang ditandai inflamasi dan degenerasi dari otot skelet), intoleransi saluran cerna, hepatotoksisitas, dan hipoprotrombinemia. Agranulositosis, jika terjadi, selalu terjadi dalam tiga bulan pertama terapi; pengawasan rutin tidak dianjurkan karena onset yang mendadak. Pasien yang telah merasakan efek samping mayor terhadap salah satu thiourea sebaiknya tidak beralih ke obat lain karena cross-sensitivity (reaksi sensitivitas antar obat).

Iodida
Iodida sebenarnya menghalangi pelepasan hormon tiroid, inhibit biosintesis hormon tiroid dengan menghalangi penggunaan iodida intratiroid, dan menurunkan ukuran dan vaskularitas kelenjar.

Perbaikan simtom terjadi dalam 2-7 hari sejak memulai terapi, dan konsentrasi serum T3  dan T4 bisa berkurang selama beberapa minggu.

Iodida sering digunakan sebagai terapi tambahan untuk menyiapkan pasien dengan penyakit Grave sebelum menjalani operasi, untuk menginhibisi pelepasan hormon tiroid dan dengan cepat mencapai keadaan euthyroid (= kelenjar tiroid berfungsi normal) pada pasien yang sangat tirotoksik dengan dekompensasi kardia, atau untuk meng-inhibit pelepasan hormon tiroid setelah terapi RAI.

Kalium iodida tersedia sebagai larutan jenuh (SSKI, 38 mg iodida per tetes) atau larutan Lugol, mengandung 6,3 mg iodida per tetes.

Dosis awal tipikal SSKI adalah 3-10 tetes tiap hari (120-400 mg) dalam air atau jus. Ketika digunakan untuk mempersiapkan pasien sebelum operasi, sebaiknya diberikan 7-14 hari sebelum operasi.

Sebagai pelengkap RAI, SSKI sebaiknya tidak digunakan sebelum tapi sebaiknya 3-7 hari setelah perawatan dengan RAI sehingga radioactive iodine bisa terkumpul di tiroid.

Efek samping termasuk reaksi hipersensitivitas (kulit kemerahan, drug fever, rhinitis [= inflamasi membran mukosa hidung], conjunctivitis); pembengkakan kelenjar ludah, ‘iodisme’ (rasa logam, mulut dan tenggorokan terbakar, nyeri pada gigi dan gusi, simtom head cold, dan terkadang gangguan perut dan diare); dan ginekomasti.

Adrenergik blocker
β blocker tekah digunakan secara luas untuk mengurangi simom tirotoksik seperti palpitasi, cemas, tremor, dan tidak tahan panas. Agen ini tidak mempunyai efek pada tirotoksikosis perifer dan metabolisme protein dan tidak mengurangi TSAb atau mencegah ‘badai’ tiroid. Propanolol dan nadolol secara parsial menghalangi perubahan T4 menjadi T3, tapi kontribusinya kecil terhadap terapi keseluruhan.

Β blocker biasanya digunakan sebagai terapi tambahan dengan obat antitiroid, RAI, atau idodida dalam penanganan penyakit  Grave atau toxic nodule; pada persiapan sebelum operasi; atau pada ‘badai’ tiroid. β blocker adalah terapi primer hanya untuk tiroiditis dan hipertiroid yang diinduksi iodin.

Dosis propanolol yang dibutuhkan untuk mengurangi simtom adrenergik bervariasi, tapi dosis awal 20-40 mg empat kali sehari efektif untuk kebanyakan pasien (denyut jantun <90 denyutan per menit). Pasien lebih muda atau dalam kondisi lebih toksik bisa membutuhkan sampai 240-480 mg/hari).

β blocker dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kongestif, kecuali kelainan itu hanya karena takikardi (curah tinggi), dan pada pasien yang mengembangkan cardiomyopati dan gagal jantung. Efek samping lain termasuk mual, muntah, cemas, insomnia, lightheadedness, bradikardi, dan gangguan hematologi.

Simpatolitik yang bekerja sentral (seperti, clonidin) dan  antagonis Ca channel blocker  (seperti, diltiazem) bisa berguna untuk mengontrol simtom ketika dikontraindikasikan untuk β blocker.

Radioactive iodine
Natrium iodida 131 (131I) adalah cairan oral yang terkumpul di tiroid dan mengganggu sintesis hormon dengan masuk ke hormone tiroid dan tiroglobulin. Setelah periode beberapa minggu, folikel yang telah diambil RAI dan folikel disekitarnya mengalami nekrosis selular dan fibrosis jaringan interstitial.

RAI adalah agen pilihan untuk penyakit Grave, nodul otonom toksik, dan toxic multinodular goiter. Kehamilan merupakan kontraindikasi absolut untuk penggunaan RAI.

β blocker adalah terapi tambahan primer untuk RAI, karena bisa diberikan kapan saja tanpa perlu menyesuaikan dengan terapi RAI.

Pasien dengan penyakit kardia dan pasien lansia sering dirawat dengan thionamide sebelum RAI ablation (ablation = pengangkatan jaringan) karena hormon tiroid akan naik singkat setelah perawatan RAI karena pelepasan preformed hormon tiroid.

Obat-obat antitioid sebaiknya tidak rutin diberikan setelah RAI, karena penggunaannya dihubungkan dengan tingginya kejadian serangan hipertiroid setelah perawatan atau hipertiroid yang bertahan.

Jika iodida diberikan, sebaiknya diberikan 3-7 hari setelah RAI untuk mencegah interaksi dengan asupan RAI di kelenjar tiroid.

Target terapi adalah menghancurkan sel tiroid yang hiperaktif, dan dosis tunggal 4000-8000 rad menghasilkan kondisi euthyroid pada 60% pasien setelah 6 bulan atau kurang. Dosis kedua RAI sebaiknya diberikan 6 bulan setelah RAI pertama jika pasien tetap hipertiroid.

Hipotiroid umum terjadi setelah RAI. Efek samping akut, jangka pendek, termasuk pelunakan tiroidal ringan dan dysphagia (= kesulitan menelan). Terapi lanjutan jangka panjang belum terbukti meningkatkan resiko terbentuknya karsinoma tiroid, leukimia, atau defek kongenital.

Hipotiroid
Levotiroksin (L –tiroksin)
Merupakan obat pilihan untuk penggantian hormon tiroid dan terapi supresif karena stabil secara kimia, relatif murah, bebas antigen, dan mempunyai potensi yang seragam; tetapi, semua sediaan tiroid komersial yang ada bisa digunakan. Penggantian sediaan levotiroksin sebaiknya dilakukan dengan  hati-hati kecuali telah dicapai bioekivalensi. Karena T3 (dan bukan T4) adalah bentuk aktif biologis, pemberian levotiroksin menghasilkan penumpukan hormon tiroid yang siap diubah menjadi T3. Kolestiramin, kalsium karbonat, sucralfat, aluminium hidroksida, ferrous sulfate, sediaan kedelai, dan suplemen fiber bisa mengganggu absorpsi levotiroksin dari saluran cerna. Obat yang meningkatkan kliren T4 noniodinasi termasuk rifampin, carbamazepin, dan mungkin fenitoin. Amiodarone bisa menghalangi konversi T4 menjadi T3.

Pasien muda dengan penyakit yang sudah lama diidap atau pasien lebih tua tanpa penyakit kardia yang diketahui bisa memulai terapi dengan levotiroksin 50 μg sehari dan ditingkatkan menjadi 100 μg sehari setelah  1 bulan. Dosis harian awal yang dianjurkan untuk pasien lebih tua atau mereka dengan penyakit kardiak adalah 25 μg/hari yang dititrasi dengan peningkatan 25 μg tiap bulan untuk mencegah stress pada sistem kardiovaskular. Levotiroksin adalah obat pilihan pada wanita hamil, dan target perawatan adalah  mengurangi TSH sampai 1 mIu/l dan menjaga konsentrasi T4 bebas pada rentang normal.

Terapi non Farmakologi
Operasi pengangkatan kelenjar tiroid.adalah penanganan untuk nodul, gondok ukuran besar, kurangnya penanganan obat tiroid, pasien dengan kontra indikasi terhadap tionamida. Pemotongan kelanjar tiroid (tiroidektomi)


KIE
Untuk pencegahan agar tidak terganggu fungsi tiroid dalam tubuh maka asupan iodium harus mencukupi. Sehingga disarankan memasak menggunakan garam yang beryodium. Sedangkan pada penderita hipertiroid disarankan untuk menghindari makanan yang tinggi yodium karena dapat meningkatkan aktivitas kelenjar tiroid. Penderita hipertiroid disarankan menghindari konsumsi daging merah karena memiliki lemak jenuh berlebih yang merugikan keseimbangan hormonal tubuh. Jika Anda memiliki hipertiroid bersama dengan kolesterol tinggi, diabetes tipe-2 dan penyakit jantung, maka akan menjadi sulit untuk sembuh dari hipertiroid. Cara terbaiknya adalah mengganti daging merah dengan ikan tuna dan salmon.

Penderita hipertiroid disarankan menghindari produk susu dan menhindari kafein, alkohol, dan tembakau karena semua itu adalah termasuk stimulant dan dapat meningkatkan denyut jantung dan memperburuk gejala, seperti iritabilitas, kegugupan dan kecemasan serta kadar metabolisme.  Diet yang diberikan harus tinggi kalori, yaitu memberikan kalori 2600-3000 kalori perhari baik dari makanan maupun dari suplemen. Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 hr (2,5 gr/kg) berat badan) per hari untuk mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti: susu dan telur.

Olahraga secara teratur Pada pasien hipotiroid: Pasien disarankan tidak beraktivitas berat dan melelahkan. Banyak makan makanan yang mengandung serat karena sering mengalami konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi gastrointestinal. Mengonsumsi makanan yang bergizi dan mengandung yodium yang cukup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar