Kemoterapi adalah
cara pengobatan tumor dengan memberikan obat pembasmi sel kanker (disebut
sitostatika) yang diminum ataupun yang diinfuskan ke pembuluh darah. Jadi, obat
kemoterapi menyebar ke seluruh jaringan tubuh, dapat membasmi sel-sel kanker
yang sudah menyebar luas di seluruh tubuh. Karena penyebaran obat kemoterapi
luas, maka daya bunuhnya luas, efek sampingnya biasanya lebih berat
dibandingkan dua modalitas pengobatan terdahulu (Hendry,dkk 2007).
Obat kemoterapi
secara umum disebut sitostatika, berefek menghambat atau membunuh semua sel
yang sedang aktif membelah diri. Jadi, sel normal yang aktif membelah atau berkembang biak
juga terkena dampaknya, seperti sel akar rambut, sel darah, sel selaput lendir
mulut,dll.Sel tubuh tersebut adalah yang paling parah terkena efek samping
kemoterapi, sehingga dapat timbul kebotakan, kurang darah, sariawan, dll.
Oleh karena itu, pemberian obat
sitostatik (berupa obat medis ataupun obat herbal) harus dibawah pengawasan
dokter yang berpengalaman untuk mencegah timbulnya efek samping yang serius,
dan bila terjadi efek samping dapat segera diatasi atau diobati (Hendry, dkk 2007). Agar sel tubuh
normal mempunyai kesempatan untuk memulihkan dirinya, maka pemberian kemoterapi
biasanya harus diberi jedah (selang waktu) 2-3 minggu sebelum dimulai lagi
pemberian kemoterapi berikutnya (Hendry,dkk 2007).
Bentuk Kemoterapi
Monoterapi
(Kemoterapi Tunggal). Kemoterapi
tumggal yaitu kemoterapi yang dilakukan dengan satu macam sitostatika. Sekarang
sudah banyak ditinggalkan, karena pemberian polikemoterapi memberi hasil yang
lebih memuaskan.
Poli
kemoterapi (Kemoterapi Kombinasi). Prinsip
pemberian kemoterapi kombinasi adalah obat-obat yang diberikan sudah diketahui
memberikan hasil yang baik bila diberikan secara tunggal tetapi masing-masing
obat bekerja pada fase siklus sel yang berbeda, sehingga akan lebih banyak sel
kanker yang terbunuh.
Kemoterapi
Lokal. Pengobatan terhadap
efusi akibat kanker. Pengobatan
langsung intra dan peri tumor. Pengobatan
intratekal.
Pemberian Kemoterapi
Oral. Tekankan pentingnya
untuk mengikuti jadwal yang telah ditentukan, karena interval telah ditentukan
akan membuat interaksi obat lebih efektif.
Subcutan
dan intramuscular. Pastikan
untuk merotasi tempat penyuntikan untuk setiap dosis, karena tempat yang sudah
pernah mengalami penusukan membutuhkan waktu tertentu dalam penyembuhannya.
Topikal. Hati-hati agar pasien
tidak menyentuh area pemberian salep topikal, dan anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian dari katun yang longgar.
Intra
arterial. Memerlukan
penempatan kateter pada arteri yang dekat dengan tumor, karena adanya tekanan
arteri, berikan obat yang dicampur heparin dengan menggunakan infus pump.
Intrakavitas
. Memasukkan obat kedalam
kandung kemih melalui kateter dan atau melalui selang dada kedalam rongga
pleura.
Intraperitonial. Memberikan obat dalam
rongga abdomen melalui port yang ditanam dan atau kateter suprapubik eksternal.
Intratekal. Obat diberikan melalui
prosedur punksi lumbal. Obat harus disuntikkan pelan-pelan dan tanda-tanda
vital dan keadaan umum harus selalu terpantau selama dan setelah tindakan.
Intra
vena. Paling banyak
digunakan. Dapat diberikan melalui kateter vena sentral atau akses vena
perifer.
Efek Samping Kemoterapi
Efek
samping yang sering terjadi (immediate side effects). Efek samping yang
terjadi dalam 24 jam pemberian sitostatika, misalny mual dan muntah.
Efek
samping yang awal terjadi (early side effects). Efek samping yang
timbul dalam beberapa hari sampai minggu, misalnya leukopenia dan stomatitis.
Efek
samping yang terjadi belakangan (delayed side effects). Efek samping yang
timbul dalam hitungan minggu sampai bulan, misalnya neuropati perifer dan
nefropati.
Efek
samping yang terjadi kemudian (late side effects). Efek samping yang
terjadi dalam hitungan bulan sampai tahun, misalnya keganasan sekunder.
Intensitas
efek samping tergantung dari karakteritik obat, dosis pada setiap pemberian
maupun dosis komulatif, selain itu setiap pasien dapat menimbulkan gejala efek
samping yang berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang sama.
Mekanisme Kerja Obat-Obat Kemoterapi
Berdasarkan Kerjanya
pada Siklus
Sel
CCDD (Cell
Cycle Depending Drugs). Obat golongan ini hanya
dapat bekerja selama ada pembelahan sel, dapat
dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu: CCDD spesifik fase: Obat ini hanya
bekerja pada fhase tertentu dari pembelahan sel, sehingga obat ini dapat efektif bekerja jika terdapat
dalam jumlah yang cukup pada saat sel tumor memasuki fase tertentu tersebut. CCDD
Non Spesicifik Fhase: Obat ini bekerja pada sel-sel tumor yang aktif membelah tetapi
tidak tergantung pada pembelahan sel, sehingga obat ini dapat efektif bekerja
pada sel-sel tumor yang sedang aktif membelah tanpa tergantung fasenya.
CCID (Cell Cycle Independing Drugs). Obat
ini dapat membunuh sel tumor pada setiap keadaan dan tidak tergantung pada
pembelahan sel . Suatu obat citostatika dapat bekerja hanya pada satu fhase
saja misalnya golongan alkaloid atau dapat juga bekerja pada beberapa fase
sekaligus ,misalnya golongan anti metabolit.
Menurut Mekanisme
Kerjanya
Alkylating Agent . Obat ini bekenja dengan
cara: Menghambat
sintesa DNA dengan menukar gugus alkali sehingga membentuk ikatan silang DNA. Mengganggu
fungsi sel dengan melakukan transfer gugus alkali pada gugus amino, karboksil,
sulfhidril, atau fosfat. Merupakan
golongan sel spesifik non fase spesifik. Yang termasuk golongan
ini adalah: Amsacrine, Cisplatin,
Dacarbazine, Streptozocin, Hiotepa, Busulfan, Carboplatin, Cyclophospamid,
Mephalan, Chlorambucil, Procarbazin, Ifosphamid.
Antibiotik. Golongan anti tumor
antibiotik umumnya obat yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme, yang umumnya
bersifat sel non spesifik, terutama berguna untuk tumor yang tumbuh lambat.
Mekanisme kerja terutama dengan jalan menghambat sintesa DNA dan RNA.
Yang
termasuk golongan ini: Actinomicin , Mithramicin, Bleomicin, Mitomicyn, Daunorubicin, Mitoxantron, Doxorubicin, Epirubicin, Idarubicin.
Antimetabolit. Golongan ini menghambat
sintesa asam nukleat.Beberapa antimetabolit memiliki struktur analog dengan
molekul normal sel yang diperlukan untuk pembelahan sel, beberapa yang lain
menghambat enzym yang penting untuk pembelahan.Secara umum aktifitasnya meningkat
pada sel yang membelah cepat. Yang termasuk golongan ini: Azacytidine, Cytarabin
Capecitabine, Fludarabin, Mercaptopuri, Fluorouracil, Metotrexate, Luekovorin, Mitoguazon, Capecitabine, Pentostatin, Gemcitabine, Cladribin, Hydroxyurea, Mercaptopurin, Thioguanin, Metothrexate, Pentostatin, Mitoguazone.
Mitotic Spindle. Golongan obat ini
berikatan dengan protein mikrotubuler sehingga menyebabkan disolusi struktur
mitotic spindle pada fase mitosis. Antara lain: Plakitaxel
(Taxol), Vinorelbin, Docetaxel , Vindesine, Vinblastine, Vincristine.
Topoisomerase Inhibitor. Obat
ini mengganggu fungsi enzim topoisomerase sehingga menghambat proses
transkripsi dan replikasi. Macam-macamnya antara lain: Rinotecan, Topotecan, Etoposit.
Hormonal. Beberapa hormonal yang
dapat digunakan dalam kemoterapi antara lain: Adrenokortikosteroid
(Prednison, Metilprednisolon, Dexametason), Adrenal
inhibitor (Aminoglutethimide, Anastrozole, Letrozole, Mitotane), Androgen,
Antiandrogen, LHRH, Progestin.
Cytoprotektive Agents. Macam- macamnya antara
lain: Amifostin, Dexrazoxan.
Monocronal Antibodies. Obat ini memiliki
selektifitas relatif untuk jaringan tumor dan toksisitasnya relatifrendah.Obat
ini dapat menyerang sel tertentu secara langsung, dan dapat pula digabungkan dengan zat
radioaktif atau kemoterapi tertentu. Macam-macamnya antara lain: Rituximab, Trastuzumab.
Hematopoietic Growth Factors. Obat-obat
ini sering digunakan dalam kemoterapi tetapi tidak satupun yang menunjukan
peningkatan survival secara nyata. Macam-macamnya antara lain: Eritropoitin, Coloni stimulating
factors (CSFs), Platelet
growth Factors.
Lain-lain. Obat ini tidak
mempunyai mekanisme khusus, antara lain: L- Asparaginase, Estramustine, Lavamisol, Oktreotide, Suramin, Hexamethylmelamine, Anagrelide, Interferon alfa, IL-2.
Hasil
pengobatan sitostatika dipengaruhi oleh: Pertumbuhan sel kanker. Fraksi tumor mitosis
terbesar saat ukuran tumor 37 % dari ukuran maksimal. Sitostatik efektif pada
sel yang mengalami mitosis, terutama pada saat sel tumor masih kecil. Mutasi genetic:
Tergantung ketidakstabilan gen dan besarnya tumor sehingga diperlukan kombinasi
dengan dosis maximal. Intensitas
dosis : Jumlah obat dalam kurun waktu tertentu.
Metode
pemberian kemoterapi.
Sebagai pengobatan induksi ,kemoterapi diberikan sebagai pengobatan
primer pada penderita dengan keganasan yang telah lanjut dimana tidak terdapat
alternatif terapi lain yang bisa diberikan.
Sebagai pengobatan adjuvant, kemoterapi diberikan setelah tumor primernya
dilakukan tindakan dengan modalitas lain, seperti pembedahan dan radioterapi.
Sebagai pengobatan neoadjuvant, kemoterapi diberikan
sebagai pengobatan initial untuk penderita dengan kanker yang terlokalisir
dimana terdapat alternatif terapi lain yang kurang dapat memberikan terapi
local yang lengkap.
Sebagai pengobatan setempat, atau dengan perfusi
langsung pada daerah tertentu dari tubuh yang paling dikenai kanker.
Jenis
Obat Anti Kanker dan Kemoterapi Kanker
Golongan
Alkilator
Siklofosfamid. Sediaan:
Siklofosfamid tersedia dalam bentuk kristal 100, 200, 500 mg dan 1,2 gram untuk
suntikan, dan tablet 25 dan 50 gram untuk pemberian per oral. Indikasi:
Leukemia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, Limfoma non Hodgkin, Mieloma
multiple, Neuro Blastoma, Tumor Payudara, ovarium, paru, Cerviks, Testis,
Jaringan Lunak atau tumor Wilm. Mekanisme kerja : Siklofosfamid merupakan pro
drug yang dalam tubuh mengalami konversi oleh enzim sitokrom P-450 menjadi
4-hidroksisiklofosfamid dan aldofosfamid yang merupakan obat aktif.
Aldofosfamid selanjutnya mengalami perubahan non enzimatik menjadi fosforamid
dan akrolein. Efek siklofosfamid dipengaruhi oleh penghambat atau perangsang
enzim metabolismenya. Sebaliknya, siklofosfamid sendiri merupakan perangsang
enzim mikrosom, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas obat lain.
Klorambusil. Sediaan:
Klorambusil tersedia sebagai tablet 2 mg. Untuk leukemia limfositik kronik,
limfoma hodgkin dan non-hodgkin diberikan 1-3 mg/m2/hari sebgai dosis tunggal
(pada penyakit hodgkin mungkin diperlukan dosis 0,2 mg/kg berat badan,
sedangkan pada limfoma lain cukup 0,1 mg/kg berat badan). Indikasi: Leukimia
limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, dan limfoma non Hodgkin,
Makroglonbulinemia primer. Mekanisme kerja : Klorambusil
(Leukeran) merupakan mustar nitrogen yang kerjanya paling lambat dan paling
tidak toksik. Obat ini berguna untuk pengobatan paliatif leukemia limfositik
kronik dn penyakin hodgkin (stadium III dan IV), limfoma non-hodgkin, mieloma
multipel makroglobulinemia primer (Waldenstrom), dan dalam kombinasi dengan
metotreksat atau daktinomisin pada karsinoma testis dan ovarium.
Prokarbazin. Sediaan: Prokarbazin kapsul berisi 50 mg zat aktif. Dosis
oral pada orang dewasa : 100 mg/m2 sehari sebagai dosis tunggal atau terbagi
selama minggu pertama, diikuti pemberian 150-200 mg/m2 sehari selama 3 minggu
berikutnya, kemudian dikurangi menjadi 100 mg/m2 sehari sampai hitung leukosit
dibawah 4000/m2 atau respons maksimal dicapai. Dosis harus dikurangi pada
pasien dengan gangguan hati, ginjal dan sumsum tulang. Indikasi: Limfoma Hodgkin. Mekanisme
kerja: Mekanisme kerja belum diketahui, diduga berdasarkan alkilasis asam
nukleat. Prokarbazin bersifat non spesifik terhadap siklus sel. Indikasi
primernya ialah untuk pengobatan penyakit hodgkin stadium IIIB dan IV, terutama
dalam kombinasi dengan mekloretamin, vinkristin dan prednison (regimen MOPP).
Karboplatin. Sediaan: Serbuk injeksi 50 mg, 150 mg, 450 mg. Indikasi: Kanker ovarium lanjut. Mekanisme kerja : Mekanisme pasti masih belum diketahui
dengan jelas, namun diperkirakan sama dengan agen alkilasi. Obat ini membunuh
sel pada semua tingkat siklus, menghambat biosintesis DNA dan mengikat DNA
melalui ikatan silang antar untai. Titik ikat utama adalah N7 guanin, namun
juga terjadi interaksi kovalen dengan adenin dan sitosin.
Golongan
Antimetabolit
5-fluorourasil (5-FU). Sediaan:
Obat ini tersedia sebagai larutan 50 mg/mL dalam ampul 10 mL untuk IV. Indikasi:
Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala, Leukimia limfositik dan
mielositik akut, Limfoma non-Hodgkin. Target enzim untuk 5-FU ini adalah timidilat
sintetase. Perbedaan respon ini berkaitan erat dengan adanya
polimorfisme gen yang bertanggungjawab terhadap ekspresi enzim timidilat
sintetase (TS). Enzim ini sangat penting dalam sintesis DNA yaitu merubah
deoksiuridilat menjadi deoksitimidilat. Diketahui bahwa sekuen promoter dari
gen timidilat sintetase bervariasi pada setiap individu. Ekspresi yang rendah
dari mRNA TS berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan sembuh dari
penderita kanker yang diobati dengan 5-FU.
Gemsitabin. Sediaan:
Obat ini tersedia dalam bentuk larutan infus 1-1,2 g/m2. Indikasi: Kanker paru,
pankreas dan ovarium. Mekanisme kerja: Sebelum menjadi
bahan aktif, gemsitabin mengalami fosforilasi oleh enzim deoksisitidin kinase
dan kemudian oleh nukleosida kinase menjadi nukleotida di- dan trifosfat yang
dapat menghambat sintesis DNA. Gemsitabin difosfat dapat menghambat
ribonukleotida reduktase sehingga menurunkan kadar deoksiribonukleotida
trifosfat yang penting untuk sintesis DNA.
6-Merkaptopurin. Sediaan:
Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 50 mg. Indikasi: Leukimia
limfositik akut dan kronik, leukemia mieloblastik akut dan kronik,
kariokarsinoma. Mekanisme kerja: Merkaptopurin dimetabolisme oleh
hipoxantin-guanin fosforibosil transferase (HGPRT) menjadi bentuk nukleotida
(asam-6-tioinosinat) yang menghambat enzim interkonversi nukleotida purin.
Sejumlah asam tioguanilat dan 6-metilmerkaptopurin ribotida (MMPR) juga
dibentuk dari 6-merkaptopurin. Metabolit ini juga membantu kerja merkaptopurin.
Metabolisme asam nukleat purin menghambat proliferasi sel limfoid pada
stimulasi antigenik.
Methotrexat.
Sediaan:
Tablet 2,5 mg, vial 5 mg/2ml, vial 50 mg/2ml, ampul 5 mg/ml, vial 50 mg/5ml. Indikasi:
Leukimia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker payudara, leher dan kepala,
paru, buli-buli, Sarkoma osteogenik. Mekanisme kerja: Metotreksat adalah
antimetabolit folat yang menginhibisi sintesis DNA. Metotreksat berikatan
dengan dihidrofolat reduktase, menghambat pembentukan reduksi folat dan
timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan sintesis asam timidilat.
Metotreksat bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel. Mekanisme kerja
metotreksat dalam artritis tidak diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi
imun. Dalam psoriasis, metotreksat diduga mempunyai kerja mempercepat
proliferasi sel epitel kulit.
Sitarabin. Sediaan:
Vial 100 mg/ml, dan Vial 1 g/10 ml. Indikasi: Termasuk zat paling aktif
untuk leukemia, juga untuk limphoma, leukemia meningeal, dan limphoma
meningeal. Sedikit digunakan untuk tumor solid. Mekanisme kerja:
Inhibisi DNA sintesis. Sitosin memasuki sel melalui proses carrier dan harus
mengalami perubahan menjadi senyawa aktifnya : arasitidin trifosfat. Sitosin
adalah analog purin dan bergabung ke dalam DNA, sehingga cara kerja utamanya
adalah inhibisi DNA polimerase yang mengakibatkan penurunan sintesis dan
perbaikan DNA. Tingkat toksisitasnya mempunyai korelasi linear dengan masuknya
sitosin ke dalam DNA, bergabungnya DNA dengan sitosin berpengaruh terhadap
aktivitas obat dan toksisitasnya.
Golongan
Produk Alamiah
Vinkristin (VCR). Sediaan:
Tersedia dalam bentuk vial berisi larutan 1, 2, dan 5 mL yang mengandung 1
mg/mL zat aktif untuk penggunaan IV. Indikasi : Leukimia limfositik akut,
neuroblastoma, tumor Wilms, Rabdomiosarkoma, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. Mekanisme
kerja : Berikatan dengan tubulin dan inhibisi formasi mikrotubula, menahan sel
pada fase metafase dengan mengganggu spindel mitotik, spesifik untuk fase M dan
S. Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan
memblok asam glutamat dan penggunaannya.
Vinblastin (VLB). Sediaan:
Tersedia dalam bentuk vial 10 mg/10 ml. Indikasi: Penyakit Hodgkin,
limfosarkoma, kariokarsinoma dan tumor payudara. Mekanisme kerja:
Vinblastin berikatan pada tubulin dan menghambat formasi mikrotubula, kemudian
menahan sel pada fase metafase dengan cara mengganggu spindel mitotik, spesifik
untuk fase M dan S. Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan sintesis
protein dengan memblok asam glutamat dan penggunaannya.
Paklitaksel. Sediaan:
Anzatax (vial), Ebetaxel (vial), Paxus kalbe farma (vial). Indikasi: Kanker
ovarium, payudara, paru, buli-buli, leher dan kepala. Mekanisme kerja: Obat
ini berfungsi sebagai racun spindel dengan cara berikatan dengan mikrotubulus
yang menyebabkan polimerisasi tubulin. Efek ini menyebabkan terhentinya proses
mitosis dan pembelahan sel kanker.
Etoposid.
Sediaan:
Tersedia dalam bentuk kapsul dan larutan injeksi. Indikasi: Kanker testis,
paru, payudara, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukimia mielositik akut,
sarkoma kaposi. Mekanisme kerja : Etoposid bekerja untuk menunda transit sel
melalui fase S dan menahan sel pada fase S lambat atau fase G2 awal. Obat
mungkin menginhibisi transport mitokrondia pada level NADH dehidrogenase atau menginhibisi
uptake nukleosida ke sel Hella. Etoposid merupakan inhibitor topoisomerase II
dan menyebabkan rusaknya strand DNA.
Irinotekan, Topotekan. Indikasi
: Karsinoma ovarium, karsinoma paru sel kecil, karsinoma kolon. Mekanisme
kerja: Irinotekan merupakan bahan alami yang berasal dari tanaman Camptotheca
acuminata yang bekerja menghambat topoisomerase I, enzim yang bertanggung jawab
dalam proses pemotongan dan penyambungan kembali rantai tunggal DNA. Hambatan
enzim ini menyebabkan kerusakan DNA.
Daktinomisin ( AktinimisinD.
Sediaan:
Tersedia dalam bentuk Injeksi, bubuk untuk rekonstitusi: 0,5 mg (mengandung
manitol 20 mg). Indikasi: Kariokarsinoma, tumor Wilms, testis,
rabdomiosarkoma, sarkoma Kaposi. Mekanisme kerja: Terikat pada
posisi guanin pada DNA, mengalami interkalasi antara pasang basa guanin dan
sitosin sehingga menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta protein.
Antrasiklin : Daunorubisin,
Doksorubisin, Mitramisin. Sediaan: Daunorubisin
tersedia dalam bentuk 20 mg daunorubisin hidroklorida dengan mannitol 100 mg. 2
mg/mL (50 mg) daunorubisin dengan 10 : 5 : 1 rasio molar
distearofosfatidilkolin : kolesterol : daunorubisin. Doksorubisin tersedia
dalam bentuk vial 10 mg dan 50 mg.
Indikasi: Leukimia
limfositik dan mielositik akut sarkoma jaringan lunak, sarkoma ostiogenik,
limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukemia akut, karsinoma payudara,
genitourinaria, tiroid, paru, lambung, neuroblastoma dan sarkoma lain pada
anak-anak.
Mekanisme
kerja : Interkalasi dengan DNA, mempengaruhi transkripsi dan replikasi secara
langsung. Selain itu, obat ini juga mampu membentuk kompleks tripartit dengan
topoisomerase II dan DNA. (Topoisomerase II adalah enzim dependen ATP yang
terikat pada DNA dan memisahkan untai DNA dimulai dari 3′ fosfat, menyebabkan
DNA terpisah dan kemudian menggabungkannya lagi, fungsi penting dalam replikasi
DNA dan repair). Formasi kompleks tripartit dengan antrasiklin dan etoposid
menghambat pengikatan kembali untai DNA rusak, mengakibatkan apoptosis. Efek
ini memungkinkan sel rusak karena obat ini, sementara adanya overekspresi
repair DNA terkait transkripsi menunjukkan resistensi. Antrasiklin juga
membentuk radikal bebas dalam larutan pada jaringan normal dan maligna.
Intermediat semikuinon yang dihasilkan dapat bereaksi dengan oksigen membentuk
radikal anion superoksida yang membentuk radikal hidroksil dan hidrogen
peroksida yang menyerang dan mengoksidasi basa DNA (~kardiotoksisitas).
Produksi ini dipicu interaksi antrasiklin dengan besi. Antrasiklin berik atan
dengan membran sel mempengaruhi fluiditasdan transpor ion.
Inhibisi sintesis DNA dan
RNA dengan interkalasi antara basa DNA oleh inhibisi topoisomerase II dan
obstruksi sterik. Doksurubisin menginterkalasi pada titik lokal ″uncoiling″
dari ikatan heliks ganda. Meskipun mekanisme aksi yang pasti belum diketahui,
mekanismenya diduga melalui ikatan langsung DNA (interkalasi) dan inhibisi
pembentukan DNA (topoisomerase II) yang selanjutnya memblokade sintesis DNA dan
RNA dan fragmentasi DNA. Doksorubisin merupakan logam khelat yang kuat, komplek
logam doksorubisin dapat mengikat DNA dan sel membran dan menghasilkan radikal
bebas yang akan merusak DNA dan membran sel dengan cepat.
Bleomisin. Sediaan:
Bleomisin sulfat terdapat dalam vial berisi 15 unit untuk pemberian IV, IM, atau
kadang-kadang SK atau intraarterial. Indikasi: Kanker paru, lambung dan
anus karsinoma testis dan serviks, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. Mekanisme
kerja: Menghambat sintesis DNA, ikatan-ikatan DNA untuk selanjutnya terjadi
pemutusan untai tunggal dan ganda.
L-asparaginase.
Sediaan:
Obat ini tersedian dalam bentuk serbuk untuk Injeksi. Indikasi: Leukemia
limfositik akut. Mekanisme kerja: Asparaginase menghambat sintesis protein
melalui hidrolisis asparaginase menjadi asam aspartat dan amonia. Sel leukimia,
terutama limfoblast, memerlukan asparaginase eksogen, sel normal dapat
memproduksi asparaginase. Asparaginase adalah daur spesifik untuk fase G1.
Golongan
Hormon dan Antagonis
Prednison. Sediaan:
Obat tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan kaptab 5 mg. Indikasi: Leukemia
limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, tumor payudara. Mekanisme
kerja: Sebagai glukokortikoid, bersifat menekan sistem imun, anti radang.
Medroksiprogesteron asetat. Sediaan:
Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 5 mg, 10 mg, 100 mg. Indikasi: Tumor
endometrium. Mekanisme kerja: Mencegah sekresi gonadotropin pituitari yang
akan menghambat maturasi follicular yang menyebabkan penebalan endometrial.
Etinil estradiol. Sediaan:
Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 0,02 mg, 0,03 mg, 0,05 mg dan 0,5 mg. Indikasi:
Gejala vasomotor sedang atau parah yang dihubungkan dengan menopause (Tidak ada
bukti bahwa estrogen efektif mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang
mungkin terjadi selama atau sebelum menopause, oleh sebab itu tidak boleh
diberikan untuk indikasi tersebut). Hipogonadism pada wanita. Terapi paliatif
karsinoma prostat yang tak dapat dioperasi, pada tahap lanjut terapi paliatif
kanker payudara yang tak dapat dioperasi, hanya dilakukan dengan pertimbangan
khusus : misalnya pada wanita yang sudah lebih 5 tahun postmenopause dengan
penyakit yang makin parah dan resisten terhadap radiasi.
Tamoksifen. Sediaan:
Tamoksifen tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan 20 mg. Indikasi: Tumor
payudara. Mekanisme kerja: Berikatan secara kompetitif dengan reseptor
estrogen pada tumor atau target lain, membentuk kompleks nuklear yang
menurunkan sintesis DNA dan menghambat efek estrogen, agen nonstreroidal dengan
sifat antiestrogenik yang berkompetisi dengan estrogen untuk berikatan di
bagian aktif pada payudara dan jaringan lain, sel terakumulasi pada fase Go dan
G1. Sehingga tamoksifen lebih sifat sitostatik daripada sitosidal.
Testosteron propionate. Sediaan:
Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul, injeksi, topikal, mucoadhesive, pellet,
dan transdermal. Indikasi: Tumor payudara. Mekanisme kerja: Androgen endogen
bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan organ seks pria dan
mempertahankan karakteristik seks sekunder pada pria yang mengalami defisiensi
androgen.
Macam-Macam
Obat Kemoterapi
Obat golongan Alkylating agent,
platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obst golongan ini
bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut
tidak bisa melakukan replikasi.
Obat golongan Antimetabolit,
bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang berakibat menghambat sintesis
DNA.
Obat golongan Topoisomerase-inhibitor,
Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada gangguan pembentukan
tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.
Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase
bekerja dengan menghambat sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam
sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.
Mekanisme Kerja Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi Kanker
Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang
digunakan saat ini bekerja terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang
berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka
semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif, sebaliknya
semakin lambat prolifersainya maka kepekaannya semakin rendah , hal ini disebut
Kemoresisten.
Pada inti sel, pada waktu sel membelah (mitosis). Makin
cepat sel bermitosis, makin sensitive terhadap kemoterapi. CELL CYCLE PHASE
SPECIFIC, yaitu obat yang bekerja pada sel yang berkembang aktif, jadi harus
diberikan secara kontinyu. CELL CYCLE PHASE NON SPECIFIC, yaitu obat yang
bekerja pada sel yang berkembang maupun yang istirahat, jadi dapat diberikan
secara single bolus.
Indikasi Dan Kontraindikasi
Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi
Indikasi. Pasien dengan
keganasan memiliki kondisi dan kelemahan kelemahan, yang apabila diberikan
kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan kemoterapi
perlu pertimbangan yaitu: Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group
(ECOG) yaitu status penampilan <= 2. Jumlah lekosit
>=3000/ml. Jumlah trombosit>=120.0000/ul. Cadangan sumsum
tulang masih adekuat misal Hb > 10. Creatinin
Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) (Tes Faal Ginjal). Bilirubin <2
mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal (Tes Faal Hepar). Elektrolit
dalam batas normal. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya
tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun. Status Penampilan Penderita Ca ( Performance
Status ) Status penampilan ini mengambil indikator kemampuan pasien, dimana
penyait kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien. Hal ini
juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi yang
tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya.
Kontra Indikasi
Kemoterapi. Kontra indkasi absolut: Pada stadium terminal. Kehamilan
trimester pertama. Kondisi septikemia dan koma. Kontra indikasi relatif: Bayi
<>8g/dl, leukosit > 3000/mm.
Bentuk Sediaan
Dan Dosis Dari Obat Kemoterapi
Bentuk Sediaan.
Kemoterapi
dapat diberikan dengan cara Infus, Suntikan langsung (pada otot, bawah kulit,
rongga tubuh) dan cara Diminum (tablet/kapsul). Dalam bentuk tablet atau kapsul
yang harus diminum beberapa kali sehari. Keuntungan kemoterapi oral semacam ini
adalah: bisa dilakukan di rumah. Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa
dilakukan di ruang praktek dokter, rumah sakit, klinik, bahkan di rumah. Dalam
bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh paramedis
yang terlatih).
Dosis. Dihitung
berdasar Luas Permukaan Tubuh (LPB). Sedangkan LPB dihitung dengan table
berdasarkan tinggi badan dan berat badan. Apabila tubuh pasien makin kurus
selama pemberian kemoterapi seri I dan II maka untuk pemberian seri selanjutnya
harus diukur lagi LPB-nya, mis: BB = 56 kg, TB = 150 cm, LPT = 1,5m2. Dosis
obat X : 50 mg/m2, berarti penderita harus mendapat obat 50 x 1,5 mg = 75 mg.
Efek Samping
Kemoterapi. Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat,
dosis pada setiap pemberian, maupun dosis kumulatif, selain itu efek samping
yang timbul pada setiap penderita berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang
sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai pengaruh bermakna.
Efek samping yang selalu hampir
dijumpai adalah gejala gastrointestinal, supresi sumsum tulang, kerontokan
rambut. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual, muntah, diare,
konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah biasanya
timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika dan berlangsung tidak
melebihi 24 jam.
Gejala supresi sumsum tulang terutama
terjadinya penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia), sel trombosit
(trombositopenia), dan sel darah merah (anemia), supresi sumsum tulang belakang
akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera atau kemudian, pada supresi
sumsum tulang yang terjadi segera, penurunan kadar leukosit mencapai nilai
terendah pada hari ke-8 sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar
2 hari untuk menaikan kadar laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang
yang terjadi kemudian penurunan kadar leukosit terjadi dua kali yaitu
pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke empat dan kelima.
Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati normal pada
minggu keenam. Leukopenia dapat menurunkan daya tubuh, trombositopenia dapat
mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi pada
traktus gastrointestinal.
Kerontokan rambut dapat bervariasi dari
kerontokan ringan dampai pada kebotakan. efek samping yang jarang terjadi
tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung, sterilitas, fibrosis
paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi anafilaksis,
gangguan syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan genetik yang dapat
mengakibatkan terjadinya kanker baru.
Kardiomiopati akibat doksorubin dan
daunorubisin umumnya sulit diatasi, sebagian besar penderita meninggal karena
“pump failure”, fibrosis paru umumnya iireversibel, kelainan hati terjadi
biasanya menyulitkan pemberian sitistatika selanjutnya karena banyak
diantaranya yang dimetabolisir dalam hati, efek samping pada kulit, saraf,
uterus dan saluran kencing relatif kecil dan lebih mudah diatasi.
Tergantung jenisnya, Kemoterapi
ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan
sebulan sekali. Berapa seri penderita harus menjalani Kemoterapi, juga
tergantung pada jenis kanker penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi
adalah efek sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek
samping Kemoterapi. Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga
yang sangat menderita karenanya. Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping
kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi,
kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya. Efek samping
Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya
membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel
yang membelah dengan cepat. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada
bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. Efek samping dapat
muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah
pengobatan.
Efek samping yang bisa timbul adalah
antara lain: Lemas, efek samping
yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung
menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung terus hingga akhir pengobatan. Mual dan Muntah. ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih
membuat mual dan muntah. Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan
terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan obat anti mual yang
diberikan sebelum,selama, atau sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual muntah dapat
berlangsung singkat ataupun lama. Gangguan
Pencernaan, beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada
yang menjadi diare disertai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit
kadang bisa terjadi. Bila diare: kurangi makanan berserat, sereal, buah dan
sayur. Minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang. Bila susah BAB:
perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan. Rambut Rontok, kerontokan
rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah
kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala.
Dapat terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah
kemoterapi selesai. Otot dan Saraf, beberapa obat
kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki serta
kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot. Perdarahan, keping darah
(trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah trombosit
mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit. Anemia, anemia adalah
penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin).
Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang
menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat. Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna, lebih sensitive
terhadap matahari. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.
Setiap obat memiliki efek samping yang
berbeda! Reaksi tiap orang pada tiap siklus juga berbeda! Tetapi Anda tidak
perlu takut. Bersamaan dengan kemoterapi, biasanya dokter memberikan juga
obat-obat untuk menekan efek sampingnya seminimal mungkin. Lagi pula semua efek
samping itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi Anda akan
pulih seperti semula. Beberapa produk suplemen makanan mengklaim bisa
mengurangi efek samping kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh,
pasien bisa menggunakannya, tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan sudah
tentu dengan dokter juga. Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan obat-obatan
herbal (yang semakin diterima kalangan kedokteran), banyak klinik yang mengaku
bisa memberikan kemoterapi herbal yang bebas efek samping. Kalau pasien
bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani di klinik tersebut adalah seorang dokter
medis. Paling tidak harus berkonsultasi dengan dokter yang merawat, dan lakukan
pemeriksaan laboratorium secara teratur untuk memantau hasilnya.
Cara mengatasi
efek samping Kemoterapi: Pemberian anti mual dan muntah. Saat merasa
mual duduk ditempat yang segar. Makan makanan tinggi kadar protein dan karbohidrat
(sereal, bakso, puding, susu, roti panggang, sup, yoghurt, keju, susu kental,
kurma, kacang, dll). Lakukan perawatan mulut dengan menggosok gigi sebelum
tidur dan setelah makan. Bila tidak dapat menggosok gigi karena gusi berdarah,
gunakan pembersih mulut. Berikan pelembab bibir sesuai kebutuhan. Hindari rokok,
makanan pedas dan air es. Dalam beberapa penelitian kemoterapi mampu menekan jumlah
kematian penderita kanker tahap dini, namun bagi penderita kanker tahap akhir /
metastase, tindakan kemoterapi hanya mampu menunda kematian atau memperpanjang
usia hidup pasien untuk sementara waktu.
Daftar
Pustaka
Jacobson,
J.O.; M. Polovich, et.al. 2009. American society of clinical
oncology/oncology nursing society chemotherapy administration safety
standards. Oncology Nursing Forum Vol.36,
No. 36.
Joshi,
M. 2007. Cytotoxic drugs: towards safer chemotherapy practises. Indian Journal
of Cancer Vol. 44, No 1.
Otto,
S.E. 2005. Buku Saku Keperawatan
Onkologi. (alih bahasa oleh Jane Freyana Budi). Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Rasjidi,
I. 2007. Kemoterapi Kanker Ginekologi Dalam Praktik Sehari-Hari. Jakarta: Sagung Seto.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar