Minggu, 26 Februari 2017

Menunggu Pagi di Camp Mawar, Ungaran

Ceritanya waktu itu, di pertengahan tahun 2016 itu, kita lagi sibuk-sibuknya kuliah apoteker. Tugas, presentasi, makalah, jurnal, dan semacamnya sudah membuat kepala kita pening tujuh keliling. Rutinitas semacam ini sudah membuat jam tidur kita jadi tidak teratur, konsumsi kopi berlebih, sampai makanan cepat saji yang bukin gaya hidup makin tak sehat.

 
Salah satu tips untuk menormalisasi jam biologis kita yang berantakan itu. Timbul di kepala, ide untuk ngecamp. Biasanya kami lebih suka muncak sambil mendaki, daripada hanya tinggal sebatas ngecamp. Namun kerena keterbatasan waktu, karena jadwal kuliah yang masih padat. Kami putuskan untuk sebatas ngecamp saja. Tempat yang kita pilih adalah Camp Mawar, salah satu post pertama di jalur pendakian ke Puncak Ungaran.

 
Pulang kuliah jam 15.00, kami langsung bersiap. Logistik, tenda, lampu, senterm sleeping bag, peralatan masak, gitar, kartu domino, kompor kecil dan panci, sampai perbekalan makanan. Tidak perlu berlebihan soal perbekalan, sebab ini bukan pendakian, kita hanya ngecamp dan itu cuma semalam saja. Lebih tepatnya, kita hanya pindah tempat tidur dari tempat kost kita di Semarang yang gerah dan penas, ke tenda di lereng Puncak Ungaran yang dingin, tentu untuk sejenak menyepi dari hiruk pikuk keramaian kota.

 
Selepas maghrib dari Semarang kita berangkat menuju Ungaran, sekitar satu jam kami sampai di Pondok Kopi. Naik sedikit lagi, sampailah kita di Camp Mawar, Ungaran. Motor kita parkir di situ, tenda cuma bawa satu sementara kita ada delapan orang, jadi satu tenda lagi kita sewa di sana.

 
Pasang tenda beres, saatnya kita makan. Nasi yang sudah diliwet dari kostan, sampai lauk pauk yang juga sudah dimasak dari kostan. Sampai di camp tinggal menyalakan kompor untuk membuat kopi. Selesai makan kenyang, kita beli dua ikat kayu bakar dari sebuah warung yang buka di sekitar camp. Buat yang masih lapar, bisa bakar jagung, bikin mie, atau hanya sekedar makan snack yang sepertinya kita bawanya kebanyakan.

 
Api unggun menyala dan sangat membantu untuk menghangatkan badan kami yang mulai menggigil. Udara memang dingin, tapi suara petikan gitar, nyanyian-nyanyian pelepas penat, sampai gelak canda dalam permainan kartu, ikut menghangatkan suasana. Api unggung yang menghangatkan kita dari luar, dan kebersamaan yang menghangatkan kita dari dalam.

 
Ngecamp ingin memperbaiki siklus tidur sepertinya gagal. Semalaman kami kesulitan memjamkan mata, sementara api unggun terus menyala. Stock makanan ringan yang melimpah, sampai bahan obrolan yang tiada habis-habisnya, kami sukses melewati malam dengan mata yang terus terjaga sampai sang fajar mulai menampakkan rupa indahnya di ufuk timur. Selamat datang matahari terbit, cahanya yang menghangatkan kami, seiring dengan bara api unggun yang mulai lebur menjadi abu dan akan kembali meresap ke dalam tanah.

 
Sebelum shubuh lewat, kami membasuh diri dengan air wudhu yang airnya sedingin es. Setelah sholat, dan setelah puas memandangi indahnya panorama pagi saat matahari terbit. Kami lalu berkemas, kembali ke motor, dan kembali ke Semarang dengan mata merah karena mengantuk. Sepertinya tidur siang nanti kita akan terasa nikmat sekali. Semoga tidak keblabasan sampai lewat waktu maghrib dan isya’. Sebab esok seninnya ada kuliah dan ada tugas yang belum dikerjakan. Okeh, sampai jumpa lagi. Camp Mawar, Ungaran. (AliRidwan, 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar