Senin, 20 Februari 2017

Pengalaman UKAI Sumatif Pertama

Perlu dicatat, untuk menjadi seorang apoteker ke depannya akan menjadi sulit dan semakin sulit. Masuknya sulit, kuliahnya sulit, keluarnya juga sulit. 

Pertama sulit mendapatkan kampus dengan akreditasi minimal B, tentu karena persaingan yang semakin ketat. Kedua sulit karena biaya kuliah yang makin menjulang timggi ke langit. Ketiga sulit untuk lulus karena selain ada serangkaian ujian kompre dari internal kampus juga ada ujian berskala nasional yang disebut UKAI (Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia) dengan sistem CBT (Computer Basic Test), dimana tiap tahun standar kelulusannya selalu mengalami peningkatan.

UKAI ini sebetulnya sudah diberlakukan jauh-jauh angkatan di atas saya, angkatan semester gasal angkatan 2016 – 2017. Tapi UKAI pada periode sebelum angkatan saya ini hanya bersifat FORMATIF, jadi lulus tidak lulus yang penting serangkaian ujian dari study di internal kampus lulus, sudah pasti lulus. Namun semenjak angkatan saya, UKAI mulai diberlakukan secara SUMATIF, jadi selain harus lulus dari yudisium kampus (misal IPK min 2.75, hanya boleh ada 2 SKS nilai D, 4 SKS nilai C, dan semacamnya) juga harus lulus UKAI dengan nilai di atas standar kelulusan yang telah ditetapkan.

Pada angkatan saya, saat TO (Try Out), nilai standar kelulusan adalah 50,05 dan hasilnya sekitar 70 % peserta banyak yang tidak lulus. Tapi pada pelaksannanya, setelah ada penandatanganan dari perwakilan rektor fakultas farmasi dari masing-masing PTN dan PTS, UKAI pada angkatan saya akhirnya positif diberlakukan secara sumatif, artinya kalau tidak lulus sudah pasti akan berdampak pada peserta ujian untuk mendapatkan gelar apoteker (Apt). 

Siap tidak siap kita dipaksa siap, resikonya kalau tidak lulus akan mengikuti ujian ulang yang akan diadakan setiap satu semester cuma ada sekali. Kalau tidak lulus pada UKAI Sumatif yang dijadwalkan, sudah pasti akan diikutkan pada UKAI angkatan di bawahnya. Tentunya dengan nilai standar kelulusan yang sudah dinaikkan lagi.

Sadar dengan kemampuan diri yang masih pas-pasan. Setelah mengetahuin hasil TO yang ternyata saya tidak lulus, itu artinya saya harus belajar lebih giat lagi. Saya menyusun program belajar secara teratur dan berkala. Ada waktu sekitar dua bulan untuk menghadapi UKAI sumatif setelah hasil TO diumumkan. Saya resume semua materi yang akan diujikan, saya buat konsep-konsepnya, saya buat bagan-bagannya, saya tempel di dinding-dinding kamar. Dipilah-pilah mana yang harus dimengerti dan dipahami, dan mana yang harus dihapal mati. Dua bulan yang panjang, juga dua bulan yang singkat. Terasa panjang karena sehari semalam hanya sempat tidur 2-4 jam saja. Terasa singkat karena UKAI Sumatif terus saja membayang dan menjadi hantu ketika sedang tidur.

Seminggu menjelang UKAI, persiapan lebih intensif lagi. Di sana-sini ketemu teman seperjuangan pegangannya kertas-kertas soal UKAI, obrolannya seputar materi-materi UKAI, tebak-tebakkannya adalah materi-materi UKAI. Orang berkumpul dengan kelompok-kelompok belajarnya berdiskusi tentang materi-materi UKAI. 

Saya sendiri sempat beberapa kali melakukan uji diri sebanyak tiga kali.  Saya siapkan tiga bendel soal UKAI lengkap dengan kunci jawabannya, saya buat simulasi sedemikian mungkin seolah-olah saya menghadapi UKAI, lengkap dengan seting waktu, 200 soal selama 200 menit. Dua hari satu soal, satu minggu satu soal. Hasilnya terus meningkat, dan nilainya di atas standar kelulusan yang ditetapkan. Saya semakin percaya diri berhadapan dengan UKAI Sumatif.

29 Januari 2017 pembekalan UKAI. 30 Januari pelaksanaan UKAI. Dua minggu kemudian hasil diumumkan. Kabar baiknya, ternyata standar kelulusannya diturunkan, dari yang ssemula 50.05 menjadi 44.50.  Hasilnya, dari 2936 peserta se-Indonesia, presentase kelulusannya mencapai 92,5 %. Artinya ada 222 peserta yang belum beruntung. Alhamdulillah saya berhasil lulus, plong dan lega seperti tumpah seketika rasa gelisah dari dalam isi dada. 

Di kampus saya sendiri dari 86 mahasiswa ada 2 yang kurang beruntung. Banyak kampus yang lulus 100% tapi ada juga yang belum lulusnya 5 peserta, 7 peserta, 12 peserta, bahkan juga ada kampus yang dari 176 mahasiswa tapi yang lulus hanya 109 mahasiswa saja. 

Ya, sisi posistif setelah diberlakukannya UKAI Sumatif ini salah satunya adalah untuk menstandarisasikan kurikulum semua lembaga akademik yang akan dan sedang mendidik calon apoteker-apoteker muda ini secara merata. Tujuannya jelas, adalah untuk meningkatkan kompetensi profesi apoteker itu sendiri, dan pada imbasnya adalah untuk meningkatnya kualitas skill, keterampilan para calon apoteker di Indonesia kita tercinta ini. (Ali Ridwan, 20/02/17)

4 komentar:

  1. Halo kak aku mahasiswa PSPA yang lagi nunggu pengumuman kelulusan UKAI juga, deg" an banget..doain ya kak semoga lulus 100 %

    BalasHapus
  2. Halo ka.. perkenalkan sya damay.. kebetulan saya baru rencana ambil apt d thn ini.. ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan terkait materi dan tugas akhir apoteker... jika berkenan pertanyaannya akan saya sampaikan lewat email.. sebelumnya saya ucapkan terimakasih ;)

    BalasHapus
  3. Hari ini org terdekatku ujian ukai.
    Bener kata orang2. Bahkan mereka sampe minum suplemen buat ukai ini.
    Doakan semoga lulus ya :"

    BalasHapus