Tak ada kehidupan yang tenang. Samudra akan terus
meniupkan ombak. Hidup akan tarus menghembuskan gajolak. Adalah tugas kita
untuk tetap memegang tali kemudi supaya arah layar terus melaju pada jalur yang
benar.
Kita hanya perlu sebentar menjangkarkan diri saat
lautan membuat seisi perahu merasa kecapaian. Dan kembali melakukan pelayaran,
terus melakukan pelayaran, sampai sang nahkoda bisa melabuhkan impian pada
dermaga yang dicita-citakan.
Mungkin tidak sedikit yang bertanya. Baru sebentar
berlabuh ke darat, tapi sudah mau melaut lagi. Sebegitu terobsesikah diri ini
pada keindahan semenanjung impian di pulau terasing bernama cita-cita. Hingga
diri ini tak henti-hentinya jadi pecandu harapan, kesuksesan gilang gemilang
yang ingin digapainya.
Tahukah kamu, kalau seekor elang patarung akan lebih
memilih hidup kelaparan di padang gurun bersama dengan kebebasan dan
kemerdekaannya, ketimbang hidup dalam sangkar yang dibekali dengan sekontainer
daging dalam freezer.
Hidup bukan untuk menampung suara-suara sumbang yang
meningkatkan takaran beban di pundak. Hidup adalah perkara takdir yang wajib
diperjuangkan alurnya supaya indah ceritanya. Dan ketahuilah, tak akan ada
kisah indah bila kau lewati mozaik itu dengan hati yang murung lagi tak
bahagia.
Hidup adalah perkara kita dan nurani dalam diri.
Setiap jalan yang dipertentangkannya ialah siksa. Maka perturutkanlah apa yang
dimaunya. Jadi diri sendiri dan tak merugikan orang lain. Tetap konstan pada
jati diri sampai bisa jadi manfaat buat yang lain.
Pelaut sejati tak akan mendustai dirinya dengan
berpura-pura jadi petani, pun sebaliknya. Pejuang masa depan yang visioner
tidak akan mau meninabobokkan dirinya dengan ombak laut yang tenang.
Gemuruh badai yang mengoyak gendang telinga akan jadi
musik penggerak jiwa. Baginya, bisa berjingkrakan di atas bahtera yang layarnya
terkoyak sambaran geledek adalah tukulan bibit padi yang ditandur di sepetak
sawah. Semakin banyak koyakannya, semakin melimpah potensi gabah yang kelak
dipanennya.
Mimpi, mimpi, dan mimpi. Berjuang, berjuang, dan
berjuang. Hidup bukan untuk menunggu mati. Hidup untuk berjuang mewujudkan
mimpi. Lebih baik pulang tinggal nama daripada gagal di medan tugas. Lebih baik
mati memperjuangkan mimpi daripada hidup terlena dengan tipudaya dunia. (Ali
Ridwan, 19/07/17)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar