Kamis, 20 Juli 2017

Menantang Ombak Kehidupan


Tak ada kehidupan yang tenang. Samudra akan terus meniupkan ombak. Hidup akan tarus menghembuskan gajolak. Adalah tugas kita untuk tetap memegang tali kemudi supaya arah layar terus melaju pada jalur yang benar.

Kita hanya perlu sebentar menjangkarkan diri saat lautan membuat seisi perahu merasa kecapaian. Dan kembali melakukan pelayaran, terus melakukan pelayaran, sampai sang nahkoda bisa melabuhkan impian pada dermaga yang dicita-citakan.

Mungkin tidak sedikit yang bertanya. Baru sebentar berlabuh ke darat, tapi sudah mau melaut lagi. Sebegitu terobsesikah diri ini pada keindahan semenanjung impian di pulau terasing bernama cita-cita. Hingga diri ini tak henti-hentinya jadi pecandu harapan, kesuksesan gilang gemilang yang ingin digapainya.

Tahukah kamu, kalau seekor elang patarung akan lebih memilih hidup kelaparan di padang gurun bersama dengan kebebasan dan kemerdekaannya, ketimbang hidup dalam sangkar yang dibekali dengan sekontainer daging dalam freezer.

Hidup bukan untuk menampung suara-suara sumbang yang meningkatkan takaran beban di pundak. Hidup adalah perkara takdir yang wajib diperjuangkan alurnya supaya indah ceritanya. Dan ketahuilah, tak akan ada kisah indah bila kau lewati mozaik itu dengan hati yang murung lagi tak bahagia.

Hidup adalah perkara kita dan nurani dalam diri. Setiap jalan yang dipertentangkannya ialah siksa. Maka perturutkanlah apa yang dimaunya. Jadi diri sendiri dan tak merugikan orang lain. Tetap konstan pada jati diri sampai bisa jadi manfaat buat yang lain.

Pelaut sejati tak akan mendustai dirinya dengan berpura-pura jadi petani, pun sebaliknya. Pejuang masa depan yang visioner tidak akan mau meninabobokkan dirinya dengan ombak laut yang tenang.

Gemuruh badai yang mengoyak gendang telinga akan jadi musik penggerak jiwa. Baginya, bisa berjingkrakan di atas bahtera yang layarnya terkoyak sambaran geledek adalah tukulan bibit padi yang ditandur di sepetak sawah. Semakin banyak koyakannya, semakin melimpah potensi gabah yang kelak dipanennya. 

Mimpi, mimpi, dan mimpi. Berjuang, berjuang, dan berjuang. Hidup bukan untuk menunggu mati. Hidup untuk berjuang mewujudkan mimpi. Lebih baik pulang tinggal nama daripada gagal di medan tugas. Lebih baik mati memperjuangkan mimpi daripada hidup terlena dengan tipudaya dunia. (Ali Ridwan, 19/07/17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar