Minggu, 15 Oktober 2017

Mahakecil Manusia di Mata Semesta

 
Tahukah kamu? Kalau ukuran matahari itu diperkecil seukuran debu, maka luas alam jagad raya ini diperkirakan luasnya adalah lima kali luas wilayah Indonesia. Pra kiraan itu bahkan bisa lebih luas lagi.

Itu artinya, di alam jagad raya ini, bumi yang kita pijaki ini, matahari yang menjadi titik revolusi bumi kita ini, ternyata tidak lebih deri sekedar butiran debu yang betebaran di hamparan jagat raya yang luar biasa mahaluasnya ini. Di mata semesta raya, matahari dan planet-planet yang mengitarinya, kurang lebih seperti unsur-unsur atom yang diitari oleh partikel-partikel mulekulnya.

Jika di mata semesta raya bintang terang bernama matahari beserta planet-planet yang mengitarinya sudah seperti butiran-butiran debu yang melayang-layang di udara, maka kita manusia ibaratnya tak lebih dari sekedar mikroba-mikroba yang numpang hidup di pelatarannya.

Bumi sudah seperti debu, manusia sudah seperti kuman, bagaimana kuman yang menempel di badan kita. Mikroorganisme yang sekecil itu, dan alam jagat raya yang seluas itu. Sungguh, betapa banyak bidang ilmu yang harus kita pelajari untuk memahami itu semua secara lebih mendalam.

Bila matahari kita umpamakan seperti debu yang melayang-layang di hamparan jagad raya yang luasnya lima kali luas Indonesia, artinya di luaran sana ada milyaran bahkan mungkin triliunan matahari-matahari lainnya dengan planet-planet lain yang mungkin juga ada planet yang sama seperti bumi.

Tahukah kamu? Satu matahari dengan lingkup planet yang mengitarinya ini disebut galaksi. Planet-planet yang mengitari matahari termasuk bumi berada di satu zona galaksi yang disebut dengan Galaksi Bimasakti, sedangkan tetangga terdekatnya adalah Galaksi Andromeda.

Diketahui, di Galaksi Andromeda ini ada bintang besar mirip matahari dengan planet-planet kecil yang mengitarinya. Tentu selain Galaksi Andromeda, ada banyak galaksi-galaksi lain yang belum sempat dinamai dan belum sempat terjelajahi, karena keterbatasan tekhnologi.

Semua penelitian itu masih sebatas dilakukan oleh satelit. Belum ada astronot yang bisa pergi sampai sejauh itu. Paling banter astronot menjelajah luar angkasa hanya sampai Mars, planet terdekat dari bumi. Satelit sekalipun, belum ada yang orbitnya sampai keluar dari zona di Galaksi Bimasakti.

Tahukah kamu? Jarak dari satu galaksi ke galaksi lain. Misal dari Galaksi Bimasakti ke Galaksi Andromeda, kalau mau ke sana butuh waktu tempuh sekitar 500 tahun dengan kecepatan cahaya. Ingat ya, kecepatan cahaya. Di bumi sampai saat ini, belum ada seorang ilmuwan pun yang menemukan sebuah kendaraan dengan kecepatan cahaya, kalau kecepatan suara sudah ada.

Bayangkan perbandingannya, jarak dari Galaksi Bimasakti ke Galaksi Andromeda saja 500 tahun cahaya, atau lebih dari 500 tahun kalau pakai kecepatan suara, setidaknya bari itu teknologi yang ada saat ini. Bayangkan perbandingannya. Butuh berapa generasi dari rata-rata usia manusia supaya bisa sampai ke galaksi tetatangga itu.  Itu kalau ke galaksi tetangga, bagaimana kalau seumpama galaksi kita ini adanya di Aceh, dan kita mau ke galaksi yang letaknya ada di Merauke.

Sekecil itukah bumi kita, lalu sekecil apakah kita ini?

Jika ada banyak matahari di jagat raya ini, tentu juga pasti ada banyak planet yang kemungkinan sama seperti bumi kita ini. Ada unsur airnya (H2O), ada unsur udaranya (O2), dan semacamnya. Pertanyaanya, adakah makhluk lain selain di bumi yang menghidupi planet-planet yang mirip planet bumi itu?

Pada intinya, ciri-ciri planet layak huni itu ada unsur air di planetnya. Tentu itu hanya ada di planet yang tidak terlalu dingin dan tak terlalu panas. Sebab air akan membeku kalau dingin dan menguap kalau panas.

Adakah manusia lain (alien) yang hidup dari planet mirip bumi dari galaksi tetangga? Kalaupun ada, kita manusia bumi kemungkinan untuk beretemu dengan alien-alien itu sangat kecil sekali. Sebab usia manusia terlalu pendek untuk menjangkau galaksi terdekatnya, bahkan kalau manusi sukses menciptakan kendaraan dengan kecepatan cahaya sekalipun.

Melihat fakta ini, harusnya manusia di bumi itu tak perlu bertikai satu sama lain, hanya karena urusan sepele. Manusia di bumi sejatinya adalah satu koloni yang bersaudara, satu koloni yang sedang menumpang di satu pesawat antariksa berupa bongkahan partikel raksasa berbentuk bulat yang bernama planet bumi.

Yahh, sudah sedemikan majunya perkembangan ilmu astronomi di luaran sana. Sedih rasanya kalau kita di Indonesia malah memperdebatkan hal yang sangat dasar sekali. Apakah bumi itu bulat atau datar? Hahaa.. (Ali Ridwan, 15/10/17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar