Tahukah kamu? Kalau
ukuran matahari itu diperkecil seukuran debu, maka luas alam jagad raya ini
diperkirakan luasnya adalah lima kali luas wilayah Indonesia. Pra kiraan itu
bahkan bisa lebih luas lagi.
Itu artinya, di alam
jagad raya ini, bumi yang kita pijaki ini, matahari yang menjadi titik revolusi
bumi kita ini, ternyata tidak lebih deri sekedar butiran debu yang betebaran di
hamparan jagat raya yang luar biasa mahaluasnya ini. Di mata semesta raya, matahari
dan planet-planet yang mengitarinya, kurang lebih seperti unsur-unsur atom yang
diitari oleh partikel-partikel mulekulnya.
Jika di mata semesta
raya bintang terang bernama matahari beserta planet-planet yang mengitarinya
sudah seperti butiran-butiran debu yang melayang-layang di udara, maka kita
manusia ibaratnya tak lebih dari sekedar mikroba-mikroba yang numpang hidup di
pelatarannya.
Bumi sudah seperti
debu, manusia sudah seperti kuman, bagaimana kuman yang menempel di badan kita.
Mikroorganisme yang sekecil itu, dan alam jagat raya yang seluas itu. Sungguh,
betapa banyak bidang ilmu yang harus kita pelajari untuk memahami itu semua
secara lebih mendalam.
Bila matahari kita
umpamakan seperti debu yang melayang-layang di hamparan jagad raya yang luasnya
lima kali luas Indonesia, artinya di luaran sana ada milyaran bahkan mungkin
triliunan matahari-matahari lainnya dengan planet-planet lain yang mungkin juga
ada planet yang sama seperti bumi.
Tahukah kamu? Satu
matahari dengan lingkup planet yang mengitarinya ini disebut galaksi. Planet-planet
yang mengitari matahari termasuk bumi berada di satu zona galaksi yang disebut
dengan Galaksi Bimasakti, sedangkan tetangga terdekatnya adalah Galaksi Andromeda.
Diketahui, di Galaksi Andromeda
ini ada bintang besar mirip matahari dengan planet-planet kecil yang
mengitarinya. Tentu selain Galaksi Andromeda, ada banyak galaksi-galaksi lain
yang belum sempat dinamai dan belum sempat terjelajahi, karena keterbatasan
tekhnologi.
Semua penelitian itu
masih sebatas dilakukan oleh satelit. Belum ada astronot yang bisa pergi sampai
sejauh itu. Paling banter astronot menjelajah luar angkasa hanya sampai Mars,
planet terdekat dari bumi. Satelit sekalipun, belum ada yang orbitnya sampai
keluar dari zona di Galaksi Bimasakti.
Tahukah kamu? Jarak
dari satu galaksi ke galaksi lain. Misal dari Galaksi Bimasakti ke Galaksi Andromeda,
kalau mau ke sana butuh waktu tempuh sekitar 500 tahun dengan kecepatan cahaya.
Ingat ya, kecepatan cahaya. Di bumi sampai saat ini, belum ada seorang ilmuwan
pun yang menemukan sebuah kendaraan dengan kecepatan cahaya, kalau kecepatan
suara sudah ada.
Bayangkan perbandingannya,
jarak dari Galaksi Bimasakti ke Galaksi Andromeda saja 500 tahun cahaya, atau lebih
dari 500 tahun kalau pakai kecepatan suara, setidaknya bari itu teknologi yang
ada saat ini. Bayangkan perbandingannya. Butuh berapa generasi dari rata-rata
usia manusia supaya bisa sampai ke galaksi tetatangga itu. Itu kalau ke galaksi tetangga, bagaimana kalau
seumpama galaksi kita ini adanya di Aceh, dan kita mau ke galaksi yang letaknya
ada di Merauke.
Sekecil itukah bumi
kita, lalu sekecil apakah kita ini?
Jika ada banyak
matahari di jagat raya ini, tentu juga pasti ada banyak planet yang kemungkinan
sama seperti bumi kita ini. Ada unsur airnya (H2O), ada unsur udaranya (O2),
dan semacamnya. Pertanyaanya, adakah makhluk lain selain di bumi yang
menghidupi planet-planet yang mirip planet bumi itu?
Pada intinya, ciri-ciri
planet layak huni itu ada unsur air di planetnya. Tentu itu hanya ada di planet
yang tidak terlalu dingin dan tak terlalu panas. Sebab air akan membeku kalau
dingin dan menguap kalau panas.
Adakah manusia lain (alien)
yang hidup dari planet mirip bumi dari galaksi tetangga? Kalaupun ada, kita
manusia bumi kemungkinan untuk beretemu dengan alien-alien itu sangat kecil
sekali. Sebab usia manusia terlalu pendek untuk menjangkau galaksi terdekatnya,
bahkan kalau manusi sukses menciptakan kendaraan dengan kecepatan cahaya
sekalipun.
Melihat fakta ini, harusnya manusia di
bumi itu tak perlu bertikai satu sama lain, hanya karena urusan sepele. Manusia
di bumi sejatinya adalah satu koloni yang bersaudara, satu koloni yang sedang
menumpang di satu pesawat antariksa berupa bongkahan partikel raksasa berbentuk
bulat yang bernama planet bumi.
Yahh, sudah sedemikan majunya
perkembangan ilmu astronomi di luaran sana. Sedih rasanya kalau kita di Indonesia
malah memperdebatkan hal yang sangat dasar sekali. Apakah bumi itu bulat atau
datar? Hahaa.. (Ali Ridwan, 15/10/17)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar