Tiada
masalalu yang tidak bisa dilupakan. Semua kisah usang punya ceritanya sendiri
untuk musnah perlahan dari pikiran.
Jejak-jejak
yang tak lagi dibutuhkan memang sudah selayaknya dilenyapkan.
Jangan
mau terjebak pada kisah yang padanya hati menaruh harap. Tapi malah dicampakan
bulat-bulat, ditelantarkan kasar-kasar, didiamkan acuh-acuh.
Penyesalan
masa lalu dipendam rindu, mati tertikam pilu. Ia yang telah berlalu entah ingat
entah tidak dengan peristiwa itu. Kasihan oh kasihan. Jika ada rasa yang tak
berbalas. Bila ada cinta tapi tak
berjodoh.
Jiwa
yang terpasung asmara semu pada orang yang salah sudah seharusnya dilepas. Tak
perlu terburu-buru tapi jangan pula bertele-tele. Pelan-pelan lupakan.
Kosongkan, dan biarkan terisi kembali dengan pengharapan.
Lupakan,
lupakan, dan lupakan. Percayalah, itu sebaik-baik pilihan supaya koreng-koreng
bekas luka yang ia sayatkan di bilik-bilik hati itu lekas mongering,
bopeng-bopengnya segera mengelupas tuntas.
Jadilah
orang baru. Semangat baru. Wajah baru. Lingkungan baru. Akan ada cerita baru.
Kisah baru yang tersenyum ramah menyapamu. Merentang tangan menyambutmu. Mendekap
erat memelukmu. Masa depan.
Tunggu,
tunggulah saat mengharu biru itu datang. Bila masanya tiba. Rengkuhlah ia
dengan dekapan yang paling erat, dengan pelukan yang paling hangat.
Jejak
tinta kelabu di persinggahan malam ini biar jadi saksi bisu. Dengarlah
petuahnya. Masa lalu, ia mencampakkanmu, Masa depan, ia menunggu kelanjutan hidupmu.
Maka, lanjutkan perjalanan kisahmu. (Ali Ridwan, 22/06/20)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar