Selasa, 23 Juni 2020

Jejak Tinta Kelabu di Persinggahan Malam




Tiada masalalu yang tidak bisa dilupakan. Semua kisah usang punya ceritanya sendiri untuk musnah perlahan dari pikiran.

Jejak-jejak yang tak lagi dibutuhkan memang sudah selayaknya dilenyapkan.

Jangan mau terjebak pada kisah yang padanya hati menaruh harap. Tapi malah dicampakan bulat-bulat, ditelantarkan kasar-kasar, didiamkan acuh-acuh.  

Penyesalan masa lalu dipendam rindu, mati tertikam pilu. Ia yang telah berlalu entah ingat entah tidak dengan peristiwa itu. Kasihan oh kasihan. Jika ada rasa yang tak berbalas. Bila ada cinta  tapi tak berjodoh.

Jiwa yang terpasung asmara semu pada orang yang salah sudah seharusnya dilepas. Tak perlu terburu-buru tapi jangan pula bertele-tele. Pelan-pelan lupakan. Kosongkan, dan biarkan terisi kembali dengan pengharapan.

Lupakan, lupakan, dan lupakan. Percayalah, itu sebaik-baik pilihan supaya koreng-koreng bekas luka yang ia sayatkan di bilik-bilik hati itu lekas mongering, bopeng-bopengnya segera mengelupas tuntas.

Jadilah orang baru. Semangat baru. Wajah baru. Lingkungan baru. Akan ada cerita baru. Kisah baru yang tersenyum ramah menyapamu. Merentang tangan menyambutmu. Mendekap erat memelukmu. Masa depan.

Tunggu, tunggulah saat mengharu biru itu datang. Bila masanya tiba. Rengkuhlah ia dengan dekapan yang paling erat, dengan pelukan yang paling hangat.

Jejak tinta kelabu di persinggahan malam ini biar jadi saksi bisu. Dengarlah petuahnya. Masa lalu, ia mencampakkanmu, Masa depan, ia menunggu kelanjutan hidupmu. Maka, lanjutkan perjalanan kisahmu. (Ali Ridwan, 22/06/20)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar