Menikah.
Sudah waktunya memang untuk menikah.
Tapi
Apalah arti sebuah pernikahan,
jika dijalani tidak bersama orang yang dicintai, dan mencintai,
Apa menikah itu hanya sebatas mengejar status sosial?
Malanjutkan keturunan? Takut menjadi tua dan sendirian?
Alasan picik macam apa itu?
Aku percaya,
Setiap manusia, dalam perjalanan hidupnya,
Pasti pernah dipertemukan dengan cintanya
Lalu, bunga-bunga tumbuh bermekaran di hatinya
Sebelum remuk-rendam dibuatnya.
Dipatahkan hatinya. Dikecewakan perasaanya.
Ada yang setia menunggu, sampai kesempatan jatuh kepadanya.
Ada yang trauma, menutup diri pada cinta lainnya.
Ada yang mencari pelarian, dikiranya dendam bisa sembuhkan lukanya.
Mental terbaik ialah
Mereka yang bisa memaafkan masa lalunya.
Kemudian optimis menatap masa depannya.
Lalu, kapan waktu terbaik untuk menikah itu?
Bisakah cinta dibangun setelah dua hati yang tidak ada perasaan apa-apa,
diikat dengan suatu komitment bernama tali pernikahan?
Ketahuilah,
jika cinta dan pernikahan ada rumus bakunya.
Tidak akan pernah ada cerita romansa di pelataran bumi manusia.
Jatuh cinta lalu menikah
Menikah lalu membangun cinta
Sama baiknya
Menikahlah setepatnya,
Di waktu yang tepat, bersama pasangan yang tepat.
Manikah bukan adu cepat, asal sikat, main embat.
Sebab, menikah itu perkara siapa mampu dan telah siap.
(Ali Ridwan, 22/07/20)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar