Kutatap
mata indahmu lama, kau pandangi wajahku senyum.
Ah,
kalau seketika itu dunia jungkir balik, salto depan belakang, limbung
kanan-kiri
Akan
kurasai seperti duduk santai di ayunan saja.
Pipimu
yang semulus kulit bayi,
rambutmu
panjang berombak, hitam kemerahan.
Wajah itu terlalu mempesona untuk timbulkan
goda rayu pada pria sepertiku.
Lebih-lebih
kalau kau simpulkan senyum malu-malu,
yang dibalut rona kemerahan di raut mukamu
itu.
Luluh
lantah hatiku dilumeri pesona cantikmu yang bersahaja begitu.
Kau
menggelayut manja, makin dekat, makin intim kita mengobral cerita.
Tapi,
dinding besar mambatasi kedekatan itu,
Kasat
mata tapi nyata.
Kita mengerti situasinya, paham keadaannya,
sadari betul kejadiannya.
Kita
saling suka, sama-sama saling simpan rasa,
tapi
agama kita beda
Kita
bukan lagi remaja baru kenal cinta.
Sudah
tidak ada kesempatan membuang waktu untuk hubungan yang sia-sia.
Berakhir
petaka, timbulkan derita, tinggalkan lara.
Apalah
arti sebuah ikatan percintaan, bila tak bermuara pada tali pernikahan?
Perpisahan
jalan terbaik, agar kita saling melupakan.
(Ali
Ridwan, 01 Januari 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar