Jumat, 25 September 2020

Saling Suka, Saling Simpan Rasa, tapi Beda Agama



Jumpa pertama kali,

Kutatap mata indahmu lama, kau pandangi wajahku senyum.

Ah, kalau seketika itu dunia jungkir balik, salto depan belakang, limbung kanan-kiri

Akan kurasai seperti duduk santai di ayunan saja.

 

Pipimu yang semulus kulit bayi,

rambutmu panjang berombak, hitam kemerahan.

 Wajah itu terlalu mempesona untuk timbulkan goda rayu pada pria sepertiku.

Lebih-lebih kalau kau simpulkan senyum malu-malu,

 yang dibalut rona kemerahan di raut mukamu itu.

Luluh lantah hatiku dilumeri pesona cantikmu yang bersahaja begitu.

 

Kau menggelayut manja, makin dekat, makin intim kita mengobral cerita.

Tapi, dinding besar mambatasi kedekatan itu,

Kasat mata tapi nyata.

 Kita mengerti situasinya, paham keadaannya, sadari betul kejadiannya.

Kita saling suka, sama-sama saling simpan rasa,

tapi agama kita beda

 

Kita bukan lagi remaja baru kenal cinta.

Sudah tidak ada kesempatan membuang waktu untuk hubungan yang sia-sia.

Berakhir petaka, timbulkan derita, tinggalkan lara.

Apalah arti sebuah ikatan percintaan, bila tak bermuara pada tali pernikahan?

Perpisahan jalan terbaik, agar kita saling melupakan.

(Ali Ridwan, 01 Januari 2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar