“Pergilah!” Ucap lelaki itu.
“Tapi mengapa?”
Perempuan itu harus tahu musababnya. Jauh-jauh ia datang dari kota ke desa,
malah diusir dengan tidak enak begitu.
“Sadarlah, kita ini
berbeda, tidak mungkin bisa bersama. Hubungan ini akan berakhir percuma. Belum
terlambat, baiknya kita akhiri saja.” Masih dengan kedua tangan memegang gagang
pancing. Matanya melongok ke tengah danau, berharap seekor mujair besar melahap
umpan di kail pancingnya.
“Kau, lelaki pengecut..”
Perempuan itu menghardik dengan perasaan dongkol, sebal bukan main.
“Bukan pengecut. Tapi
realistis!” Laki-laki itu masih dengan sikap acuhnya.
“Realistis katamu? Kau
itu pesismistis!”
Lelaki itu diam, ia tahu
akan percuma mendebat kekasih yang baru saja ia ganti statusnya menjadi mantan
itu.
“Lalu, untuk apa kau
merangsek masuk dalam hidupku kalau pada akhirnya harus begini? Kau telah
berbuat semena-mena dengan sikap dan keputusanmu yang sepihak itu, Daksa”
Tumpah ruah kekesalannya ia luapkan pada kekasih yang tak lagi menganggap
hubungan itu masih ada.
Lelaki itu berpura-pura
sibuk dengan pancingnya. Menarik kailnya, meludahi umpannya, lalu
melemparkannya ke tengah danau. Diam dan acuh.
“Baiklah, Aku pergi.
Pergi dan tidak akan kembali. Tapi, sebelum pergi. Plis jawab! Jangan kamu hinakan
aku dengan sikap diammu yang seperti itu. Tolong, tolong katakan saja, katakan
dengan sejujur-jujurnya..” Perempuan itu agak mendekat ke muka lelaki itu,
bicara lirih “Ada wanita lain di hatimu bukan?”
Lelaki itu cuma
tersenyum, tipis sekali.
Mata perempuan itu
mulai basah, sedikit terisak, tatapannya tajam memelototi muka lelaki itu. Biar
jengkel dibuatnya, tapi ia pantang pergi sebelum mendengar ucapan dari mulut
lelaki pendiam itu, biar sepatah dua patah, ia menunggu.
“Nadia…” Daksa menoleh
ke arah perempuan yang sedari tadi ia punggungi.
Lekas perempuan itu
menghentikan isak tangisnya, menajamkan telinganya, ia ingin dengar jawaban apa
yang diucap lelaki itu.
“Sudah kubilang sejak
awal. Sekali aku jatuh hati, aku akan jatuh sejatuh-jatuhnya, jatuh
sedalam-dalamnya. Sekali aku jatuh akan sulit untuk bangkit kembali. Perlu
usaha yang tidak mudah. Butuh waktu yang tidak sebentar. Sudah kuceritakan
sejak awal pula. Sejak patah hatiku yang pertama, patah hatiku pada cinta
pertama saat remaja, sepuluh tahun kemudian aku baru bisa bangun lagi, bangun
dan entah bagaimana ceritanya aku bisa jatuh hati lagi. Harus kuakui, aku jatuh
tapi belum terlalu dalam. Aku kini bukan remaja lagi, aku telah tumbuh dewasa.
Aku tahu mana realita mana harapan kosong semata. Terkadang cinta pun harus
melibatkan logika, bila tak mau manis cuma di awal dan berakhir dengan
penyesalan” Lelaki itu kembali mengarahkan pandangnya ke danau. Umpan di pancinnya
belum jua disantap ikan barang seekor pun.
“Kamu egois Daksa.
Picik dan egois! Hanya mementingkan perasaanmu sendiri saja. Kamu, sekalipun tidak
pernah memikirkan bagaimana dengan perasaanku. Kamu dengan sadarmu seperti
sengaja memporak-porandakan kapal cinta kasihku, saat kapal itu mulai berlabuh
dengan manis di dermaga hatimu. Kejam! Jahat! Kamu jahat! Aku benci kamu!
Benci! Benci! Benci!!” Setelah puas menimpuki punggung lelaki itu dengan kedua kepal
tangannya, lekas ia berlari, pergi dari danau itu.
“Nadia, aku justru
peduli..” Lelaki itu berdiri, beranjak dari duduknya, memegang gagang pancing
hanya dengan tangan kirinya. Hendak berlari mengejar Nadia. Namun, belum sempat
lelaki itu melangkahkan kaki, tiba-tiba ia dikejutkan dengan tarikan senar
pancingnya. Tapi ia tak peduli, malah ia banting gagang pancing itu ke danau,
mujair besar yang terkail itu pun berupaya menariknya sampai ke dasar.
***
Enam bulan silam, Daksa Wibisana pertama
kali bertemu Nadia Salsabella di Sendang Bidadari. Sebuah sendang yang
keindahan alamnya dan kesegaran airnya kondang sampai ke penjuru negeri. Sendang
itu kerap kali dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanagari. Sendang itu
memang selalu ramai pengunjung, terutama sekali saat akhir pekan dan libur
tanggal merah.
Sebetulnya, Daksa tidak
langsung bertemu dengan Nadia di Sendang Bidadari itu. Daksa Wibisana yang
sedang berlibur ke rumah kakek dan neneknya di desa kemudian berkunjung ke Sendang
Bidadari untuk mandi dan berendam di sana. Saat sedang asik berendam sesekali
ia menyelam sampai jauh ke dasar sendang, tak sengaja Daksa menemukan sebuah
kalung dengan bandul perak putih yang bentuknya menyerupai peri. Kalung
berbandul peri putih kemudian Daksa menyebut benda itu.
Walau berasal dari desa
dimana Sendang Bidadari itu berada, tapi Daksa sudah menetap di kota. Ia
bekerja di kota, dan sedang menyicil apartemen tak jauh dari tempatnya bekerja.
Rutinitasnya ketika libur paling sering ialah pulang ke desa. Mancing di danau
dan berendam di sendang jadi kegiatan favoritnya. Namun kali ini tidak seperti
biasanya, baru sebentar ia berendam dan menemukan kalung berbandul peri putih
itu segera ia pulang dan berganti pakaian. Rencana libur tiga hari di desa ia
singkat jadi cukup sehari saja. Sampai di kota Daksa berniat hendak mengecek
keaslian bandul peri putih itu di salah seorang kawan yang berprofesi sebagai
pengrajin emas “Emas putih ini cak. Asli ini. Mahal pula. Mau kamu jual ke saya
to?”
“Sayangnya aku lagi
enggak butuh duit. Ya sudah, terimakasih infonya”
“Kalau berubah pikiran.
Telfon saja. Jangan jual ke orang lain lo yaa..”
“Siipp.. Aman..”
Daksa jelas tak ada
niatan untuk menjual kalung itu. Daksa punya daya ingat kuat, ia seperti pernah
melihat bandul kalung itu walau sepintas, tapi lupa entah dimana dan dipakai
oleh siapa kalung itu. Melihat akan keaslian emas putih yang dibentuk menjadi
bandul itu Daksa semakin yakin kalau kalung itu milik seseorang yang walau
sebentar pernah ia jumpai. “Kalau ternyata yang punya cewek, muda, cantik, dan
masih jomblo. Aku jadiin istri deh. Kalau cowok atau perempuan bersuami dan di
bawah umur, aku jadiin saudara lah” Kelakarnya saat nongkrong sambil menanyakan
adakah diantara kawannya yang pernah melihat seseorang dengan kalung itu.
“Kebalik men. Harusnya
yang kehilangan kalung itu yang bilang begitu” Timpal salah seorang kawan pada
Daksa.
Pencarian itu tak
kunjung membuahkan hasil, hingga di suatu malam yang sunyi, ketika Daksa sedang
asik memainkan ibu jarinya di layar gawainya. Iseng ia membuka media sosialnya.
Betapa kaget bukan buatan ketika ia melihat foto rekan di kantor mengupload
swafoto, dan dalam foto itu Nadia Sallsabella yang merupakan sahabat rekan
kantornya mengenakan kalung berbandul peri putih yang ia temukan di dasar Sendang
Bidadari sebulan lalu. Tak perlu berlama-lama, keesokan harinya Daksa lalu
minta tolong kepada rekan kantor yang mengupload foto itu untuk diperkenalkan
dengan Nadia. Tidak ingin rekannya itu curiga macam-macam, Daksa berkata kalau
ia hanya ingin mengembalikan kalung berbandul peri putih itu kepada miliknya,
kalau benar Nadia Salsabella adalah pemiliknya.
Swafoto yang diupload
rekan kantornya itu ternyata bukan hasil potretan kamera jahat. Gadis bernama
Nadia itu memang cantik, bahkan lebih cantik dari yang di foto. Tak menyesal
Daksa pernah berkelakar dengan ikrarnya. Jika pemiliknya gadis lajang ia akan
mempersuntingnya. Nadia tertawa saat Daksa menceritakan ikrarnya dan ternyata
gadis itu mengamini. Sejak saat itu resmi sudah Daksa dan Nadia jadi sepasang
kekasih. Setelah sepuluh tahun menjomblo, Daksa tak mengira akan memiliki pacar
lagi dengan cara yang tak diduga-duga seperti itu. Nadia yang semur hidupnya
belum pernah pacaran karena komitmentnya dengan ta’aruf juga tak menyangka akan
dipertemukan dengan calon pendamping hidup lewat kalung berbandul peri putih
pemberian nenek saat ia lulus dari SMP dulu. Biar Daksa menganggapnya pacar,
tapi bagi Nadia tak pernah menganggap dirinya berpacaran dengan Daksa. Entah
hubungan kekasih macam apa itu tapi keduanya nyaman dengan keadaan yang begitu
rupa itu.
Bulan pertama hubungan
itu terasa manis dan romantis sekali, bulan berikutnya masih manis dan juga
masih romantic, bulan berikutnya masih manis tapi sudah tidak terlalu romantic,
bulan-bulan berikutnya tinggal manisnya dan romantisnya pudar sudah. Satu tahun
hubungan itu berjalan pertengkaran mulai sering terjadi. Daksa dan Nadia kerap
kali bertengkar karena perbedaan-perbedaan.
“Aku pilih Jokowi…”
Kata Nadia
“Aku Prabowo dong..”
Ujar Daksa.
Dan mereka pun berdebat
soal politik.
Soal agama pun
demikian. Nadia protes saat Daksa menjadi imam sholat shubuh di suatu
kesempatan saat mereka tengah mendaki sebuah gunung. “Kamu tadi kenapa enggak
pakai qunut?”
“Aku muhammadiyah
sayang”
Nadia yang lahir dan
besar di kota memang sedikit manja untuk Daksa yang terbiasa mandiri sejak
hidup di desa. Hingga toleransi perbedaan itu sampailah pada titik jenuhnya.
Mereka berdebat di sebuah rumah makan “Kamu makan beng-beng kayak makan oreo, lebih
enak kalau beng-beng-nya beng-beng dingin katamu. Sedang aku, kalau makan
beng-beng lebih suka pakai nasi, nasinya di taburi saos sama kecap. Terus kalau
makan nasi sukanya pakai krupuk, gak pakai sambel. Kamu, kalau makan nasi
apapun lauknya, apapaun minumnya, gak bisa kalau gak ada sambal!”
“Ohh.. Sejak kapan kamu
mulai mempermasalahkan perbedaan-perbedaan kecil mungil kayak gini. Kamu jenuh
dengan perbedaan-perbedaan kita atau bosan sama hubungan kita?” Nadia langsung
menusuk pada inti permasalahan.
“Pokonya kita beda
dalam segalanya. Kita enggak cocok!”
“Terus?”
“Kita putus aja dehh..”
“Daksa, kamu enggak
bercanda kan?”
“Udah. Aku pergi. Jangan
temui aku lagi. Kita enggak mungkin bisa bersama. Kita beda dalam semua. Kita
enggak akan pernah bisa lagi jadi pasangan yang cocok dan saling klik” Malam
itu Daksa meninggalkan Nadia begitu saja. Menghilang dari kota. Pergi ke desa untuk
memancing di danau. Ia tidak berendam di sendang karena Sendang itu akan
mengingatkannya pada Nadia.
Nadia yang malam itu hanya
mematung sembari menahan sembab tak mampu berbuat banyak. Setelah menangis
semalaman, bulat tekad itu untuk mencari Daksa. Jelas ia tak puas dengan alasan
tak masuk akal yang diutarakan Daksa malam itu. Dikawani sahabatnya yang
menjadi rekan kantornya Daksa, dari kota Nadia menyusul Daksa sampai ke
desanya. Di danau pemancingan itu Nadia menanyai Daksa.
***
Kembali ke danau pemancingan.
Duduk termangu sambil
memandangi gagang pancing yang berderak ke sana kemari karena mujair besar yang
terkail di pancing itu, Daksa tengah mengutuki kebodohan dirinya sendiri.
Kurang baik apa sosok Nadia itu untuk dirinya. Di tengah kegamangannya itu
tiba-tiba Daksa merasa takut, ia takut akan kehilangan Nadia. Daksa bahagia
dengan perasaan itu meski ragu itu masih tetap menjalari hatinya. Ragu akan
rasa yang dimiliknya itu. Benarkah sudah menjadi milik Nadia atau masih
terpapar dengan kisah masa lalunya. Seberapa besar gadis di masa lalunya itu
pernah menorehkan luka toh masih tetap saja Daksa enggan untuk melupakannya
dengan seutuhnya. Sepuluh tahun ternyata bukan waktu yang lama untuk menghapus kenangan
masa lalu dengan sepenuhnya. Sudah selama itu tapi nampaknya belumlah cukup.
Ternyata tidak semua sakit hati bisa diobati oleh waktu yang lama berlalu.
Masih termangu sembari
memandangi gagang pancing yang berderak makin ke tengah, tersangkit di ranting
dan mujaer besar itu mulai putus asa dengan usahanya supaya bisa terlepas dari
kail pancing yang mengait mulutnya. Daksa lalu teringat dengan sumpah
serapahnya saat ia tahu kalau cinta tulus sucinya dikhianati dengan seronok
oleh cinta pertamanya itu, Sumpah tidak akan jatuh cinta lagi, tidak akan jatuh
cinta dengan sangat dalam lagi, kecuali nanti setelah menikah. Kalau benar
Daksa sudah jatuh cinta pada Nadia ia jelas melanggar sumpahnya. Tapi jika ia
menikahinya dan mulai menata hatinya supaya ia bisa jatuh cinta tiap hari pada
Nadia, jatuh makin dalam dan cinta makin sayang pada satu orang yang sama,
Nadia Salsabella.
***
Suatu malam di sebuah kamar hotel saat
Daksa dan Nadia berbulan madu ke negara tetangga. Daksa membisik di dekat
kuping Nadia “Aku bukan lelaki pengecut kan? Aku itu orang paling optimis
sedunia?”
Nadia tertawa kemudian
berujar. “Di mataku kamu tetap pengecut yang pesimistis. Tapi semua itu jadi
terampuni dengan reputasimu sebagai lelaki sejati!”
“Lelaki sejati? Dari
mana gelar itu didapat?”
“Dari reputasimu dalam
memegang sumpah dan janji..”
“Ohhh… Terimakasih
cintaku”
“Jaga kepercayaanku.
Jangan pernah rusak reputasi itu, sayangku”
“Siap, istriku..”
“I love you suamiku..”
“Love you to teman
hidupku..”
Demikian pernikahan itu
menyatukan perbedaan keduanya. Manikah kadang bukan soal cinta semata, tapi
juga soal keberanian dalam mengambil keputusan. Kemudian berkomitment dengan
apa yang sudah diputuskannya itu, setia dengan apa yang menjadi pilihannya itu.
Bila sudah demikian, biar seorang makan beng-beng dingin yang dicelup pakai
susu dan seorang lagi makan beng-beng pakai nasi yang dicampur kecap dan saos.
Toh keduanya masih tetap bisa makan di satu meja yang sama dengan menu dasar
yang sama. (Ali Ridwan, 18/12/19)

If you're trying to burn fat then you certainly have to try this totally brand new custom keto meal plan.
BalasHapusTo create this service, licenced nutritionists, fitness couches, and professional chefs united to provide keto meal plans that are useful, suitable, price-efficient, and delightful.
From their launch in January 2019, 1000's of individuals have already completely transformed their body and well-being with the benefits a smart keto meal plan can give.
Speaking of benefits: clicking this link, you'll discover eight scientifically-tested ones offered by the keto meal plan.