Rabu, 18 Desember 2019

Peri Putih dari Sendang Bidadari

“Pergilah!” Ucap lelaki itu.
“Tapi mengapa?” Perempuan itu harus tahu musababnya. Jauh-jauh ia datang dari kota ke desa, malah diusir dengan tidak enak begitu.
“Sadarlah, kita ini berbeda, tidak mungkin bisa bersama. Hubungan ini akan berakhir percuma. Belum terlambat, baiknya kita akhiri saja.” Masih dengan kedua tangan memegang gagang pancing. Matanya melongok ke tengah danau, berharap seekor mujair besar melahap umpan di kail pancingnya.
“Kau, lelaki pengecut..” Perempuan itu menghardik dengan perasaan dongkol, sebal bukan main.
“Bukan pengecut. Tapi realistis!” Laki-laki itu masih dengan sikap acuhnya.
“Realistis katamu? Kau itu pesismistis!”
Lelaki itu diam, ia tahu akan percuma mendebat kekasih yang baru saja ia ganti statusnya menjadi mantan itu.
“Lalu, untuk apa kau merangsek masuk dalam hidupku kalau pada akhirnya harus begini? Kau telah berbuat semena-mena dengan sikap dan keputusanmu yang sepihak itu, Daksa” Tumpah ruah kekesalannya ia luapkan pada kekasih yang tak lagi menganggap hubungan itu masih ada.
Lelaki itu berpura-pura sibuk dengan pancingnya. Menarik kailnya, meludahi umpannya, lalu melemparkannya ke tengah danau. Diam dan acuh.
“Baiklah, Aku pergi. Pergi dan tidak akan kembali. Tapi, sebelum pergi. Plis jawab! Jangan kamu hinakan aku dengan sikap diammu yang seperti itu. Tolong, tolong katakan saja, katakan dengan sejujur-jujurnya..” Perempuan itu agak mendekat ke muka lelaki itu, bicara lirih “Ada wanita lain di hatimu bukan?”
Lelaki itu cuma tersenyum, tipis sekali.
Mata perempuan itu mulai basah, sedikit terisak, tatapannya tajam memelototi muka lelaki itu. Biar jengkel dibuatnya, tapi ia pantang pergi sebelum mendengar ucapan dari mulut lelaki pendiam itu, biar sepatah dua patah, ia menunggu.
“Nadia…” Daksa menoleh ke arah perempuan yang sedari tadi ia punggungi.
Lekas perempuan itu menghentikan isak tangisnya, menajamkan telinganya, ia ingin dengar jawaban apa yang diucap lelaki itu.
“Sudah kubilang sejak awal. Sekali aku jatuh hati, aku akan jatuh sejatuh-jatuhnya, jatuh sedalam-dalamnya. Sekali aku jatuh akan sulit untuk bangkit kembali. Perlu usaha yang tidak mudah. Butuh waktu yang tidak sebentar. Sudah kuceritakan sejak awal pula. Sejak patah hatiku yang pertama, patah hatiku pada cinta pertama saat remaja, sepuluh tahun kemudian aku baru bisa bangun lagi, bangun dan entah bagaimana ceritanya aku bisa jatuh hati lagi. Harus kuakui, aku jatuh tapi belum terlalu dalam. Aku kini bukan remaja lagi, aku telah tumbuh dewasa. Aku tahu mana realita mana harapan kosong semata. Terkadang cinta pun harus melibatkan logika, bila tak mau manis cuma di awal dan berakhir dengan penyesalan” Lelaki itu kembali mengarahkan pandangnya ke danau. Umpan di pancinnya belum jua disantap ikan barang seekor pun.
“Kamu egois Daksa. Picik dan egois! Hanya mementingkan perasaanmu sendiri saja. Kamu, sekalipun tidak pernah memikirkan bagaimana dengan perasaanku. Kamu dengan sadarmu seperti sengaja memporak-porandakan kapal cinta kasihku, saat kapal itu mulai berlabuh dengan manis di dermaga hatimu. Kejam! Jahat! Kamu jahat! Aku benci kamu! Benci! Benci! Benci!!” Setelah puas menimpuki punggung lelaki itu dengan kedua kepal tangannya, lekas ia berlari, pergi dari danau itu.
“Nadia, aku justru peduli..” Lelaki itu berdiri, beranjak dari duduknya, memegang gagang pancing hanya dengan tangan kirinya. Hendak berlari mengejar Nadia. Namun, belum sempat lelaki itu melangkahkan kaki, tiba-tiba ia dikejutkan dengan tarikan senar pancingnya. Tapi ia tak peduli, malah ia banting gagang pancing itu ke danau, mujair besar yang terkail itu pun berupaya menariknya sampai ke dasar.
***
Enam bulan silam, Daksa Wibisana pertama kali bertemu Nadia Salsabella di Sendang Bidadari. Sebuah sendang yang keindahan alamnya dan kesegaran airnya kondang sampai ke penjuru negeri. Sendang itu kerap kali dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanagari. Sendang itu memang selalu ramai pengunjung, terutama sekali saat akhir pekan dan libur tanggal merah.
Sebetulnya, Daksa tidak langsung bertemu dengan Nadia di Sendang Bidadari itu. Daksa Wibisana yang sedang berlibur ke rumah kakek dan neneknya di desa kemudian berkunjung ke Sendang Bidadari untuk mandi dan berendam di sana. Saat sedang asik berendam sesekali ia menyelam sampai jauh ke dasar sendang, tak sengaja Daksa menemukan sebuah kalung dengan bandul perak putih yang bentuknya menyerupai peri. Kalung berbandul peri putih kemudian Daksa menyebut benda itu.
Walau berasal dari desa dimana Sendang Bidadari itu berada, tapi Daksa sudah menetap di kota. Ia bekerja di kota, dan sedang menyicil apartemen tak jauh dari tempatnya bekerja. Rutinitasnya ketika libur paling sering ialah pulang ke desa. Mancing di danau dan berendam di sendang jadi kegiatan favoritnya. Namun kali ini tidak seperti biasanya, baru sebentar ia berendam dan menemukan kalung berbandul peri putih itu segera ia pulang dan berganti pakaian. Rencana libur tiga hari di desa ia singkat jadi cukup sehari saja. Sampai di kota Daksa berniat hendak mengecek keaslian bandul peri putih itu di salah seorang kawan yang berprofesi sebagai pengrajin emas “Emas putih ini cak. Asli ini. Mahal pula. Mau kamu jual ke saya to?”
“Sayangnya aku lagi enggak butuh duit. Ya sudah, terimakasih infonya”
“Kalau berubah pikiran. Telfon saja. Jangan jual ke orang lain lo yaa..”
“Siipp.. Aman..”
Daksa jelas tak ada niatan untuk menjual kalung itu. Daksa punya daya ingat kuat, ia seperti pernah melihat bandul kalung itu walau sepintas, tapi lupa entah dimana dan dipakai oleh siapa kalung itu. Melihat akan keaslian emas putih yang dibentuk menjadi bandul itu Daksa semakin yakin kalau kalung itu milik seseorang yang walau sebentar pernah ia jumpai. “Kalau ternyata yang punya cewek, muda, cantik, dan masih jomblo. Aku jadiin istri deh. Kalau cowok atau perempuan bersuami dan di bawah umur, aku jadiin saudara lah” Kelakarnya saat nongkrong sambil menanyakan adakah diantara kawannya yang pernah melihat seseorang dengan kalung itu.
“Kebalik men. Harusnya yang kehilangan kalung itu yang bilang begitu” Timpal salah seorang kawan pada Daksa.
Pencarian itu tak kunjung membuahkan hasil, hingga di suatu malam yang sunyi, ketika Daksa sedang asik memainkan ibu jarinya di layar gawainya. Iseng ia membuka media sosialnya. Betapa kaget bukan buatan ketika ia melihat foto rekan di kantor mengupload swafoto, dan dalam foto itu Nadia Sallsabella yang merupakan sahabat rekan kantornya mengenakan kalung berbandul peri putih yang ia temukan di dasar Sendang Bidadari sebulan lalu. Tak perlu berlama-lama, keesokan harinya Daksa lalu minta tolong kepada rekan kantor yang mengupload foto itu untuk diperkenalkan dengan Nadia. Tidak ingin rekannya itu curiga macam-macam, Daksa berkata kalau ia hanya ingin mengembalikan kalung berbandul peri putih itu kepada miliknya, kalau benar Nadia Salsabella adalah pemiliknya.
Swafoto yang diupload rekan kantornya itu ternyata bukan hasil potretan kamera jahat. Gadis bernama Nadia itu memang cantik, bahkan lebih cantik dari yang di foto. Tak menyesal Daksa pernah berkelakar dengan ikrarnya. Jika pemiliknya gadis lajang ia akan mempersuntingnya. Nadia tertawa saat Daksa menceritakan ikrarnya dan ternyata gadis itu mengamini. Sejak saat itu resmi sudah Daksa dan Nadia jadi sepasang kekasih. Setelah sepuluh tahun menjomblo, Daksa tak mengira akan memiliki pacar lagi dengan cara yang tak diduga-duga seperti itu. Nadia yang semur hidupnya belum pernah pacaran karena komitmentnya dengan ta’aruf juga tak menyangka akan dipertemukan dengan calon pendamping hidup lewat kalung berbandul peri putih pemberian nenek saat ia lulus dari SMP dulu. Biar Daksa menganggapnya pacar, tapi bagi Nadia tak pernah menganggap dirinya berpacaran dengan Daksa. Entah hubungan kekasih macam apa itu tapi keduanya nyaman dengan keadaan yang begitu rupa itu.
Bulan pertama hubungan itu terasa manis dan romantis sekali, bulan berikutnya masih manis dan juga masih romantic, bulan berikutnya masih manis tapi sudah tidak terlalu romantic, bulan-bulan berikutnya tinggal manisnya dan romantisnya pudar sudah. Satu tahun hubungan itu berjalan pertengkaran mulai sering terjadi. Daksa dan Nadia kerap kali bertengkar karena perbedaan-perbedaan.
“Aku pilih Jokowi…” Kata Nadia
“Aku Prabowo dong..” Ujar Daksa.
Dan mereka pun berdebat soal politik.
Soal agama pun demikian. Nadia protes saat Daksa menjadi imam sholat shubuh di suatu kesempatan saat mereka tengah mendaki sebuah gunung. “Kamu tadi kenapa enggak pakai qunut?”
“Aku muhammadiyah sayang”
Nadia yang lahir dan besar di kota memang sedikit manja untuk Daksa yang terbiasa mandiri sejak hidup di desa. Hingga toleransi perbedaan itu sampailah pada titik jenuhnya. Mereka berdebat di sebuah rumah makan “Kamu makan beng-beng kayak makan oreo, lebih enak kalau beng-beng-nya beng-beng dingin katamu. Sedang aku, kalau makan beng-beng lebih suka pakai nasi, nasinya di taburi saos sama kecap. Terus kalau makan nasi sukanya pakai krupuk, gak pakai sambel. Kamu, kalau makan nasi apapun lauknya, apapaun minumnya, gak bisa kalau gak ada sambal!”
“Ohh.. Sejak kapan kamu mulai mempermasalahkan perbedaan-perbedaan kecil mungil kayak gini. Kamu jenuh dengan perbedaan-perbedaan kita atau bosan sama hubungan kita?” Nadia langsung menusuk pada inti permasalahan.
“Pokonya kita beda dalam segalanya. Kita enggak cocok!”
“Terus?”
“Kita putus aja dehh..”
“Daksa, kamu enggak bercanda kan?”
“Udah. Aku pergi. Jangan temui aku lagi. Kita enggak mungkin bisa bersama. Kita beda dalam semua. Kita enggak akan pernah bisa lagi jadi pasangan yang cocok dan saling klik” Malam itu Daksa meninggalkan Nadia begitu saja. Menghilang dari kota. Pergi ke desa untuk memancing di danau. Ia tidak berendam di sendang karena Sendang itu akan mengingatkannya pada Nadia.
Nadia yang malam itu hanya mematung sembari menahan sembab tak mampu berbuat banyak. Setelah menangis semalaman, bulat tekad itu untuk mencari Daksa. Jelas ia tak puas dengan alasan tak masuk akal yang diutarakan Daksa malam itu. Dikawani sahabatnya yang menjadi rekan kantornya Daksa, dari kota Nadia menyusul Daksa sampai ke desanya. Di danau pemancingan itu Nadia menanyai Daksa.
***
Kembali ke danau pemancingan.
Duduk termangu sambil memandangi gagang pancing yang berderak ke sana kemari karena mujair besar yang terkail di pancing itu, Daksa tengah mengutuki kebodohan dirinya sendiri. Kurang baik apa sosok Nadia itu untuk dirinya. Di tengah kegamangannya itu tiba-tiba Daksa merasa takut, ia takut akan kehilangan Nadia. Daksa bahagia dengan perasaan itu meski ragu itu masih tetap menjalari hatinya. Ragu akan rasa yang dimiliknya itu. Benarkah sudah menjadi milik Nadia atau masih terpapar dengan kisah masa lalunya. Seberapa besar gadis di masa lalunya itu pernah menorehkan luka toh masih tetap saja Daksa enggan untuk melupakannya dengan seutuhnya. Sepuluh tahun ternyata bukan waktu yang lama untuk menghapus kenangan masa lalu dengan sepenuhnya. Sudah selama itu tapi nampaknya belumlah cukup. Ternyata tidak semua sakit hati bisa diobati oleh waktu yang lama berlalu.
Masih termangu sembari memandangi gagang pancing yang berderak makin ke tengah, tersangkit di ranting dan mujaer besar itu mulai putus asa dengan usahanya supaya bisa terlepas dari kail pancing yang mengait mulutnya. Daksa lalu teringat dengan sumpah serapahnya saat ia tahu kalau cinta tulus sucinya dikhianati dengan seronok oleh cinta pertamanya itu, Sumpah tidak akan jatuh cinta lagi, tidak akan jatuh cinta dengan sangat dalam lagi, kecuali nanti setelah menikah. Kalau benar Daksa sudah jatuh cinta pada Nadia ia jelas melanggar sumpahnya. Tapi jika ia menikahinya dan mulai menata hatinya supaya ia bisa jatuh cinta tiap hari pada Nadia, jatuh makin dalam dan cinta makin sayang pada satu orang yang sama, Nadia Salsabella.
***
Suatu malam di sebuah kamar hotel saat Daksa dan Nadia berbulan madu ke negara tetangga. Daksa membisik di dekat kuping Nadia “Aku bukan lelaki pengecut kan? Aku itu orang paling optimis sedunia?”
Nadia tertawa kemudian berujar. “Di mataku kamu tetap pengecut yang pesimistis. Tapi semua itu jadi terampuni dengan reputasimu sebagai lelaki sejati!”
“Lelaki sejati? Dari mana gelar itu didapat?”
“Dari reputasimu dalam memegang sumpah dan janji..”
“Ohhh… Terimakasih cintaku”
“Jaga kepercayaanku. Jangan pernah rusak reputasi itu, sayangku”
“Siap, istriku..”
I love you suamiku..”
Love you to teman hidupku..”
Demikian pernikahan itu menyatukan perbedaan keduanya. Manikah kadang bukan soal cinta semata, tapi juga soal keberanian dalam mengambil keputusan. Kemudian berkomitment dengan apa yang sudah diputuskannya itu, setia dengan apa yang menjadi pilihannya itu. Bila sudah demikian, biar seorang makan beng-beng dingin yang dicelup pakai susu dan seorang lagi makan beng-beng pakai nasi yang dicampur kecap dan saos. Toh keduanya masih tetap bisa makan di satu meja yang sama dengan menu dasar yang sama. (Ali Ridwan, 18/12/19)

1 komentar:

  1. If you're trying to burn fat then you certainly have to try this totally brand new custom keto meal plan.

    To create this service, licenced nutritionists, fitness couches, and professional chefs united to provide keto meal plans that are useful, suitable, price-efficient, and delightful.

    From their launch in January 2019, 1000's of individuals have already completely transformed their body and well-being with the benefits a smart keto meal plan can give.

    Speaking of benefits: clicking this link, you'll discover eight scientifically-tested ones offered by the keto meal plan.

    BalasHapus